DIET ATAU TIDAK?

61 views

DIET ATAU TIDAK? – Seiring dengan semakin umumnya diet dan industri diet telah berkembang menjadi bisnis bernilai miliaran dolar per tahun, insiden gangguan makan dan obesitas terus meningkat. Jutaan orang Amerika mengalami kelebihan berat badan. Apakah terdapat suatu hubungan antara fakta-fakta tersebut? Berbagai studi terhadap orang-orang yang membatasi asupan makanannya dan para pasien gangguan makan menunjukkan bahwa diet dapat memicu kondisi makan berlebihan, dan orang-orang yang sangat “berhasil” menjalani diet dapat menjadi penderita anoreksia. Apakah diet lebih berbahaya dibanding yang diharapkan? Faktor keturunan berperan signifikan dalam obesitas. Berbagai studi terhadap anak-anak yang diadopsi menemukan bahwa berat badan anak-anak tersebut memiliki kaitan lebih kuat dengan berat badan orang tua kandung mereka daripada dengan berat badan orang tua angkat mereka (Price dkk., 1987). Sama dengan itu, 40 persen anak-anak yang orang tuanya mengalami obesitas juga akan mengalami obesitas, sedangkan hanya 7 persen dari anak-anak yang orang tuanya memiliki berat badan normal akan mengalami
obesitas.

Faktor keturunan berpengaruh dengan cara mengatur tingkat metabolisme atau melalui hipotalamus dan dampaknya terhadap kadar insulin atau produksi berbagai enzim yang memudahkan untuk menyimpan lemak dan menambah berat badan. Diet tidak akan banyak berguna bagi orang-orang yang obesitasnya terutama disebabkan oleh faktor genetik. Tingkat metabolisme mereka hanya dapat melambat untuk membantu mempertahankan berat badan; bila diet dihentikan, tingkat metabolisme yang lebih menurun memicu penambahan berat badan.

Namun, berbagai faktor psikososial secara jelas juga berperan dalam penambahan berat badan. Preva-lensi obesitas meningkat dua kali lipat dalam beberapa dekade terakhir; tidak mungkin peningkatan dramatis ini disebabkan oleh perubahan dalam struktur genetik (Bandura, 1997). Stres dan emosi negatif yang menyertainya dapat mendorong sebagian orang untuk makan (Arnow, Kenardy, & Agras, 1992; Heatherton & Baumeister, 1991). Dan kita semua terkena dampak iklan yang terus-menerus, terutama iklan yang mempromosikan menariknya produk-produk yang berkadar lemak dan berkalori tinggi seperti kudapan, makanan penutup, dan menu utama di berbagai restoran cepat saji.
Motivasi untuk menjadi langsing secara umum terkait dengan beberapa kemungkinan tujuan.
• Tubuh langsing meningkatkan daya tarik pribadi, yang pada gilirannya dapat menghasilkan keuntungan psikologis (a.l., meningkatkan harga diri) dan manfaat sosial (a.l., peningkatan karier dalam pekerjaan).
• Tubuh langsing mencerminkan disiplin diri; obesitas mencerminkan kurangnya kontrol diri dan kegagalan.
• Kelangsingan tubuh dikaitkan dengan beberapa manfaat kesehatan; obesitas dikaitkan dengan masalah kesehatari. Contohnya, obesitas dikaitkan dengan diabetes,hipertensi, penyakit kardiovaskular, dan beberapa bentuk kanker.

Pada level empiris, kita telah melihat paling tidak satu bahaya potensial berkaitan dengan diet—yaitu sering kali menjadi awal terjadinya gangguan makan. Secara luas diketahui bahwa meskipun banyak diet berhasil menurunkan berat badan dalam waktu singkat (misalnya satu tahun), berat badan biasanya akan kembali naik (Garner & Wooley, 1991), menunjukkan bahwa diet tidak memberikan manfaat jangka panjang. Naik turunnya berat badan itu sendiri dapat berisiko terhadap kesehatan (a.l., timbulnya penyakit kardiovaskular). Terlebih lagi, bukti-bukti mengenai Menjalani diet untuk menurunkan berat badan umumnya dimotivasi oleh keinginan untuk lebih menarik dan untuk memperoleh berbagai manfaat dari segi kesehatan. Meskipun diet dapat menurunkan berat badan untuk sementara, sering kali berat badan akan kembali seperti semula. apakah penurunan berat badan secara aktual memberikan manfaat bagi kesehatan masih bertentangan. Contohnya, penurunan berat badan yang umum sebesar 15 pon tidak cukup untuk menghasilkan manfaat apapun bagi kesehatan. Terakhir, bisa saja obesitas bukan merupakan faktor penting yang menyebabkan seseorang berisiko terhadap penyakit; namun lebih merupakan distribusi lemak dalam tubuh. Konsentrasi lemak dalam jumlah besar di sekitar perut sangat berhubungan dengan kematian dan penyakit kardiovaskular dibanding distribusi lemak yang lebih merata atau konsentrasi lemak di bawah pinggang (Garner & Wooley, 1991). Dalam upaya menyatukan berbagai pendapat yang saling bertentangan tentang diet, Brownell dan Rodin (1994) mengakui bahwa tidak semua data yang diperlukan tersedia.
Meskipun demikian, mereka membantah beberapa pendapat yang diajukan oleh orang-orang yang antidiet. Mereka mengatakan, contohnya, bahwa berbagai sampel dalam studi yang menunjukkan ketidakefektifan diet dalam jangka panjang umumnya mencakup sejumlah besar orang yafigmemiliki kebiasaan makan berlebihan. Karena makan berlebihan berhubungan dengan prognosis buruk dalam penanganan obesitas, data yang dihasilkan dapat melemahkan berbagai efek positif diet. Terlebih lagi, mereka merujuk pada berbagai studi yang lebih mutakhir dengan hasil jangka panjang yang lebih positif. Dalam salah satu studi, para peserta yang mengalami penurunan berat badan rata-rata sebesar 55 pon mempertahankan 75 persen dari angka tersebut dalam pemantauan selama satu tahun dan 52 persen dalam dua tahun (Nunn, Newton, & Faucher, 1992). Brownell dan Rodin juga mengungkapkan bahwa berbagai studi yang menunjukkan hubungan antara naik turunnya berat badan dan buruknya kesehatan pada kenyataannya tidak meneliti tentang diet. Dengan demikian, naik turunnya berat badan yang diamati dapat disebabkan oleh berbagai faktor lain, seperti alkoholisme, stres, atau kanker. Terakhir, mereka menyatakan bahwa kembalinya berat badan hingga ke berat badan semula tidak lama setelah menjalani diet tidak lantas merupakan hasil yang buruk. Menganggap bahwa berat badan yang kembali seperti semula sebagai suatu kegagalan berarti tidak memperhitungkan berapa berat badan yang mungkin akan dimiliki seseorang jika ia tidak pernah berupaya menjalani diet.

Brownell dan Rodin berpendapat bahwa keputusan untuk diet dapat lebih menguntungkan bila didasari oleh rasio risiko terhadap keuntungan secara individual. Secara umum hal ini diharapkan akan membuat orangorang yang sangat kelebihan berat badan untuk lebih memilih menjalani diet. Namun, penerapan yang lebih individual juga dapat dipertimbangkan. Berbagai manfaat diet dapat menjadi jauh lebih penting bagi seseorang yang memiliki riwayat hipertensi dan penyakit kardiovaskular dalam keluarga. Sebaliknya, bagi seseorang yang memiliki riwayat gangguan makan dalam keluarga, menjalani diet akan dipandang sebagai langkah yang berisiko.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *