Advertisement

Dalam rangka memenuhi kebutuhan protein hewani, akhir-akhir ini pemerintah giat menggalakkan panca usaha peternakan, antara lain pencegahan, pengawasan dan pemberantasan penyakit ternak. Penyakit ternak secara ekonomis sangat merugikan peternak karena dapat mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan, penurunan produksi dan kematian ternak. (Hungeford, 1975).
Cacingan merupakan salah satu penyakit hewan yang paling banyak menyerang ternak terutama jenis rumintania. Penyakit ini membawa akibat yang luas bagi ternak maupun bagi pemHik ternak tersebut. Pertumbuhan ternak yang terserang cacingan menjadi terhambat, produksi daging dan hasil susu menurun dan dapat disertai anemia bahkan pada domba yang berumur satu tahun dapat menyebabkan kematian.
Haemonchus contortus R. (cacing lambung) adalah cacing nematoda yang penyebarannya luas dan paling banyak menyerang ternak terutama domba. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan rata-rata jumlah cacing lambung pada domba di Rumah
Potong Hewan Kodya Bogor selama Maret 1980 sampai Februari 1982 mencapai 85,21% (Darmono, 1982). Dengan demikian, perlu diadakan pengobatan, baik dengan obat-obatan modern (Sintetis) maupun obat tradisionil.
Penggunaan obat-obatan tradisionil sangat dianjurkan karena murah dan mudah didapat. Salah satu tanaman obat yang dapat digunakan untuk mengobati cacingan adalah buah mengkudu (Morinda citrifolia L.) (Heyne, 1987). Mengkudu adalah tanaman yang serba guna, dianggap mempunyai manfaat untuk mengobati mules, radang menurunkan tekanan darah tinggi, obat sakit maag, menghentikan pendarahan setelah melahirkan, sebagai obat cacingan dan pada hewan sebagai obat difteri.
Seperti tanaman Rubiaceae lainnya, mengkudu banyak mengandung antrakinon dan etil dari asam kapril, turunan antrakinon, morindon dan sarajidon (Mardisiswojo, 1985).
Dari penelitian pendahuluan secara invitro ternyata buah mengkudu masak dapat membunuh cacing lambung, maka penelitian ini diteruskan dengan pemberian buah mengkudu secara invivo.
Tujuan dari penulisan hasil penelitian ini adalah untuk memberikan informasi tentang efek buah mengkudu terhadap cacing lambung pada domba.

Tanaman Mengkudu
Mengkudu merupakan tumbuhan asli Indonesia. Karena kegunaannya sebagai zat warna dan sebagai tumbuhan obat, tumbuhan ini tersebar sampai ke India dan Kepulauan Pasifik. Di Jawa, tumbuhan ini dikenal dengan nama
Pace atau Kegpudu, orang Sunda menamakannya cengkudu. Di Madura bernama Kodhuk sedangkan di Bali disebut Wongkudu (Tibah). Di dalam ilmu Botani dikenai dengan nama Morinda citrifolia L. (LBN, 1987; Nala 1993; dan Thomas 1993).
Mengkudu dapat tumbuh di daerah dataran rendah sampai ketinggian tanah 1500 m di atas permukaan laut. Tumbuhan ini mempunyai batang tidak terlalu besar dengan tinggi pohon 3 8 meter. Daunnya bersusun berhadapan, panjang daunnya 20 40 cm dan lebarnya 7-15 cm. Bunganya berbentuk bunga bongkol yang kecil-kecil berwarna putih. Buahnya berwarna hijau mengkilap dan berwujud buah buni berbentuk lonjong dengan variasi bertotoltotol. Bijinya banyak dan kecil-kecil dalam daging buahnya. Pada umumnya, tumbuhan mengkudu berkembang biak secara liar di hutan-hutan atau dipelihara di halaman rumah. Buah mengkudu yang telah masak mempunyai aroma yang tidak sedap. Namun demikian, buah mengkudu ter-nyata mengandung sejumlah zatzat berkhasiat untuk pengobatan (Thomas, 1993).
Bagian tanaman yang dapat digunakan sebagai obat adalah buah, daun maupun akarnya. Buahnya dapat dimanfaatkan untuk peluruh air seni dan untuk menurunkan tekanan darah tinggi serta obat maag. Daunnya dapat digunakan untuk obat sakit perut seperti mules (Kolik) sebagai pencahar. Akarnya berguna sebagai obat peluruh air seni dan pencahar (Heyne, 1978).
Tumbuhan ini mengandung Morindon dan senyawa antrakinon lainnya. Morindon adalah zat warna merah yang banyak terdapat pada akarnya. Zat ini dapat digunakan sebagai pewarna serat dan batik (Klopenburg, 1988). Di Vietnam, akar tanaman ini digunakan untuk mengobati tetanus (Mardisiswojo, 1985).
Buah mengkudu mengandung triterpenoid dan alkaloid (Thomas, 1993). Buah tua yang dilumatkan menghilangkan karat dari logam dan menghilangkan noda dari kain. Untuk peternakan unggas digunakan sebagai obat pada penyakit difteri ayam. Buah masak dimakan oleh anak-anak untuk mengobati kecacingan (Heyne, 1978).
Daun mengkudu yang muda di Jawa dimakan sebagai lalap atau dibuat urab (Sunda). Di Kabupaten Majalengka, urap daun mengkudu ini dimakan untuk mengurangi pendarahan bagi ibu-ibu yang baru melahirkan. Daun yang dihancurkan diduga berkhasiat sebagai obat disentri dan demam, sedangkan air daunnya dapat mengurangi rasa pegel dan linu dengan mengulaskannya dan dapat menyembuhkan luka-luka.
Triterpenoid adalah senyawa yang kerangka karbonnya berasal dari enam satuan isoprena. Kebanyakan senyawa ini berupa alkohol, aldehid atau asam karboksilat, berbentuk kristal, seringkali bertitik leleh tinggi dan aktif optik yang umumnya sukar dicirikan karena tidak ada kereaktifan kimianya. Aktifitas biologisnya dicirikan oleh sitotoksin, anti inflamasi dan spermisida (DAS dan Maharto, 1983).

Advertisement

Incoming search terms:

  • Buah pace untuk domba
  • mengkudu menghilangkan cacing
  • mengkudu obat domba
  • pace untuk domba

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • Buah pace untuk domba
  • mengkudu menghilangkan cacing
  • mengkudu obat domba
  • pace untuk domba