Advertisement

Hubungannya dengan Eksistensi

Menjadi merupakan ciri asasi bagi kita semua dan segala sesuatu di sekitar kita di dunia ini. Berdasarkan alasan ini, sejak awal filsafat telah berupaya untuk memahaminya. Banyak filsuf yang mengkaji hubungan antara menjadi dan eksistensi. Pertama, tampaknya hanya ada dua pemecahan yang mungkin: atau eksnttmi meresapt menjadi (tokohnya misalnya Parmenides) atau menjadi rut resapi efaistensi (tokohnya Herakldtos). Dalam sejaruh, menjadi berkali-kali mencoba unggul Sejauh Allah diakui, dalam pandangan ini Allah dianggap sebagai Allah yang menjadi dari Panteisme atau Allah yang berkembang menurut pemikiran mutakhir yang mempunyai orientasi historis yang kuat.

Advertisement

Suatu pemecahan yang benar terhadap problem ini menuntut agar baik menjadi maupun eksistensi tetap mempertahankan nilainya yang penuh. Nietzsche sepakat dengan skolastisisme berdasarkan prinsip pokok ini. Namun, kemudian kedua pandangan ini serentak berpisah karena Nietzsche mengidentifikasikan eksistensi dengan menjadi dan karenanya membangun kontradiksi mutlak di pusat segala sesuatu. Sedangkan skolastisisme mengatasi kontradiksi ini yang, kalau benar, akan menghancurkan segala sesuatu berkeping-keping. Nietzsche tidak sanggup untuk mencari jawaban lain. Karena, sebagaimana kaum pra-Sokrates, dia memandang menjadi sebagai sesuatu yang terakhir dan tidak dapat dijelaskan.

Tetapi dengan mengikuti Plato dan Aristoteles, skolastisisme menembusi struktur batin menjadi dan secara hakiki mereduksi kepada prinsip-prinsip terakhir yang mengatasi alam perubahan. Penemuan intelektual yang ditemukan Aristoteles adalah pemahaman bahwa menjadi mesti ada sebabnya. Berdasarkan paham ini Aristoteles mengembangkan ajarannya mengenai empat sebab dan ajaran ini dikembangkan dan diperhalus lebih jauh oleh kaum skolastik.

Analisis filosofis problem ini mulai dengan menjadi dalam artinya yang paling penuh, dengan peralihan yang terus maju secara gradual (misalnya pertumbuhan sebuah pohon). Kalau kita berkonsentrasi pada tingkat proses tertentu, kita menemukan bahwa derajat kesempurnaan tertentu sudah dicapai, sementara tingkat-tingkat atau tahap-tahap lebih lanjut hanya mencari realisasi potensi. Berdasarkan perspektif ini, menjadi tampak sebagai sesuatu yang tersusun dari aktus yang sudah direalisir dan potensi yang masih menanti realisasinya. Namun, prinsip-prinsip ini me- masuki proses menjadi hanya melalui pengaruh suatu sebab efisien ekstrinsik. Sebab efisien ini disebut “ekstrinsik” karena bukan sebab efisien sendiri yang menjadi bagian yang konstitutif dari proses menjadi, tetapi sebab efisien semestinya tidak terletak di luar hal yang berubah dan menjadi. Pohon adalah sebab efisien yang paling dekat bagi pertumbuhannya sendiri. Sebab efisien pada gilirannya, untuk kegiatannya, tergantung pada sebab ekstrinsik lebih jauh, yakni, pada akhir/tujuan “mengapa” yang menarik sebab efisien dan dengan cara ini membebaskan serta mengarahkan kegiatannya. Maka seluruh proses menjadi mengejar tujuan ini (finalitas). “Tujuan” juga disebut sebab ekstrinsik, karena bukan tujuan itu sendiri yang merupakan bagian penting dari proses menjadi melainkan unggul atas proses menjadi sebagai suatu kesempurnaan yang akan dicapai. Namun tujuan itu tidak secara mutlak datang dari luar, tetapi tujuan itu dapat ditentukan se- belum proses menjadi dengan mengubah hal itu sendiri, sebagaimana pohon dikarenakan oleh entelekinya (yaitu dikarenakan hukum hakiki yang mengingatkan akan pohon: bentuk atau forma) yang secara tidak sadar membentuk bagi dirinya sendiri perkembangannya sendiri yang penuh sebagai tujuannya.

Selama kita hanya menyimak hal itu sendiri (sesuatu yang berubah sebagai pelaku dan penentu tujuan), kita belum mencapai alasan terakhir dari menjadi. Alasannya, hal itu sendiri (yang berubah sebagai pelaku dan penentu tujuan) masih merupakan realitas yang disebabkan. Dan karenanya kausalitas efisiennya akhirnya tergantung pada suatu sebab yang tidak dapat berubah dan finalitasnya tergantung pada sebab final yang tidak dapat berubah. Karena itu, di sini harus ada sesuatu yang mutlak tidak dapat berubah yang melebihi dan berada di atas menjadi sebagai dasarnya yang terakhir. Aristoteles menyebutnya penggerak yang tidak digerakkan. Dan skolastisisme mengembangkannya lebih jauh dan tiba pada ide eksistensi yang subsisten (Allah). Eksistensi yang subsisten ini sekaligus awal pertama dan akhir yang terakhir dari semua menjadi. Ketegangan antara prinsip-prinsip eksistensial aktus dan potensi menuju kepada eksistensi subsisten ini sejauh aktus, yang telah diterima oleh potensi dan dibatasi potensi, mengandai- kan aktus yang tidak terbatas, subsistensi yang pada akhirnya merupakan eksistensi subsisten itu sendiri. Menjadi sebagai suatu peralihan dari non-eksistensi ke eksistensi akhirnya mempunyai dasar di dalam eksistensi mutlak.

Incoming search terms:

  • apa arti eksitensi dalam filsafat
  • apa itu eksistensi dalam filsafat?
  • pengertian eksistensi dalam filsafat
  • pengertian dan contoh dari eksistensi dari filsafat
  • Filsafat tentang eksisitensi
  • filsafat eksistensi
  • contoh eksistensi dalam filsafat
  • contoh eksistensi
  • apa itu eksistensi menurut filsafat
  • tingkat-tingkat eksistensi filsafat

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • apa arti eksitensi dalam filsafat
  • apa itu eksistensi dalam filsafat?
  • pengertian eksistensi dalam filsafat
  • pengertian dan contoh dari eksistensi dari filsafat
  • Filsafat tentang eksisitensi
  • filsafat eksistensi
  • contoh eksistensi dalam filsafat
  • contoh eksistensi
  • apa itu eksistensi menurut filsafat
  • tingkat-tingkat eksistensi filsafat