FAKTOR YANG MENGALAMI PERUBAHAN DAN MASA TRANSISI

76 views

Deskripsi dari Firth yang telah disampaikan terdahulu, kelihatannya tidak saja mempersoalkan stimulus-stimulus yang mendorong perubahan dalam masyarakat, akan tetapi sekaligus membicarakan mengenai faktor yang mengalami perubahan. Apabila ditelaah kembali, maka faktor yang mengalami perubahan itu dapat saja mengenai kelompok-kelompok, nilai-nilai (“adat-istiadat”) dan pola perilaku.

Selo Seoemardjan dan Soelaeman Soemardi, mengemukakan bahwa perubahan dalam masyarakat akan menyangkut banyak hal dan dapat mengenai norma-norma, nilai-nilai, pola-pola perilaku orang, organisasi, susunan dan stratifikasi kemasyarakatan. Pada bagian lain, Selo Soemardjan menulis bahwa perubahan-perubahan sosial adalah segala perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat, yang mempengaruhi nilai-nilai, sikap-sikap dan pola-pola dari perilaku di antara kelompok- kelompok dalam masyarakat.

Ternyata uraian di atas menunjukkan bahwa terdapat banyak aspek di dalam masyarakat yang dapat mengalami perubahan, akan tetapi penyebutan secara keseluruhan dengan tepat aspek-aspek yang menga-lami perubahan ternyata cukup sulit juga. Sekali lagi, mungkin yang menjadi penyebab utama adalah ter-letak pada cakupan lingkup masyarakat yang memang cukup abstrak itu. Masyarakat adalah pergaulan hidup atau kehidupan bersama manusia yang berdimensi banyak. Perubahan masyarakat, dengan demikian, merupakan perubahan terhadap aspek dari pergaulan hidup atau kehidupan bersama manusia, yang menyangkut kelompok-kelompok, nilai-nilai, norma- norma, institusi, stratifikasi sosial, dan lain-lain.

Perubahan dalam masyarakat tidak teijadi dalam satu bidang secara khusus, namun adakalanya terjadi pada beberapa bidang secara serempak, atau perubahan pada atau aspek tertentu, mempunyai pengaruh pada aspek lainnya. Neil J. Smelser, dalam “Modernisasi Hubungan-hubungan Sosial, telah melakukan suatu dekskripsi tentang perubahan sosial sebagai konsekuensi dari pembangunan (perubahan beren-cana) ekonomi, yang meliputi perubahan hubungan keija, perubahan hubungan kekerabatan dan perubahan hubungan-hubungan komuniti. Di dalam uraian mengenai hubungan kekeluargaan yang berubah, ia menulis bahwa sebagai salah satu akibat dipisahkannya kegiatan-kegiatan ekonomi dari lingkungan keluarga-komoniti adalah bahwa suatu keluarga kehi-langan beberapa fungsi dan memperoleh suatu unit peranan yang khusus. Karena keluarga tidak lagi merupakan suatu unit produksi, maka satu atau lebih dari anggotanya meninggalkannya untuk mencapai pekerjaan dalam pasaran tenaga kerja. Implikasi sosial dari perubahan struktur yang dilukiskan dengan cara sederhana itu sangatlah besar. Implikasi yang funda-mental yang terutama dipaksakan oleh tuntutan- tuntutan mobilitas keluarga adalah terjadinya proses individuasi dan isolasi keluarga batih. Secara serentak hubungan antara orang tua dan anak-anak juga mengalami perubahan. Suatu percabangan dari hu-bungan orang tua – anak yang berubah-ubah ini adalah “jurang masa remaja”, yaitu ketika para remaja terlepas dari hubungan yang erat dengan orang tua semasa usia muda, tetapi belum mendapat perkeija- an dalam usia dewasa atau peranan-peranan dalam rumah tangga atau masyarakat. Secara psikologis, hal ini berarti suatu keadaan yang tidak menentu bagi si anak muda itu; dan keadaan tidak menentu itu secara khusus menimbulkan sejumlah gejala kerusuhan, se-perti protes-protesan, mencari cinta dan ketentraman secara terpaksa, kegilaan (faddism) pakaian dan ting-kah laku, putus asa, dan lain-lain.

Demikian, dari uraian kutipan yang cukup panjang itu, kita melihat bahwa suatu perubahan pada suatu bidang tertentu (dalam hal ini bidang ekonomi) memberi pengaruh kepada bidang yang lain dan bahkan menimbulkan semacam masalah sosial.

Pada dasarnya perubahan di dalam masyarakat menyangkut dua bentuk umum, yaitu (1) perubahan struktural, dan (2) perubahan proses. Perubahan struktural menyangkut perubahan yang sangat mendasar dan seringkah melibatkan reorganisasi unsur- unsur dari kehidupan masyarakat. Misalnya, petani yang dulu tidak menggunakan pestisida, sekarang menggunakan pestisida untuk memberantas hama ta-naman. Demikian pula halnya dengan penggunaan bibit unggul, pupuk, dan alat-alat modern pertanian dapat dikategorikan ke dalam tipe perubahan ini.

Berbeda dengan tipe perubahan struktural, per-ubahan proses tidak menyangkut perubahan mendasar. Perubahan ini hanyalah berupa modifikasi dari perubahan dasar yang pernah terjadi. Sebagai contoh apabila petani yang pada mulanya menggunakan endrin sebagai pestisida, maka kini petani menggu-nakan pestisida lainnya yang tidak beracun bagi hewan piaraan dan manusia, seperti diazinon. Penggunaan pupuk buatan pabrik untuk menggantikan pupuk organik (kompos, menur, dan lain-lain) dapat juga digolongkan sebagai perubahan proses. Pada hakekatnya, penyelenggaraan perubahan struktural adalah jauh lebih sulit dari penyelenggaraan perubahan proses. Perubahan – apapun bentuknya – akan mening-galkan bentuk yang diubah dan akan beijalan menuju kepada bentuk yang diharapkan (walaupun kepastian untuk menuju kearah yang diharapkan masih bisa dipertanyakan, oleh karena penyimpangan arah, mungkin saja terjadi). Saat peralihan dari bentuk lama kearah bentuk baru-yang dimaksudkan adalah situasi antara yang lama dan yang baru – dapat dinamakan “masa transisi”. Apakah yang terjadi pada masa transisi ini.?

Pada umumnya, yang terjadi pada masa transisi dapat dinamakan sebagai suatu “keadaan yang goyah” dan berapa besaran kegoyahan yang teijadi ki-ranya sangat tergantung pada proses perubahan dan daya adopsi dari masyarakat serta bentuk dari ide- perubahan yang ditularkan kepada masyarakat itu. Pada awal deskripsi mengenai perubahan, kita sudah mencatat bahwa suatu proses perubahan dapat beijalan secara cepat dan ada pula secara lambat atau beringsut, dan kita telah mencatat pula tentang daya adopsi yang berbeda dari masyarakat terhadap perubahan. Kami menganggap bahwa kecepatan proses perubahan memberikan dampak dan menentukan be-saran kegoyahan dari perubahan dalam masyarakat. Implikasi dari pandangan ini adalah bahwa mungkin suatu perubahan itu akan mempunyai pengaruh yang besar, dalam hal ini, dapat menimbulkan kegoyahan yang berarti; akan tetapi mungkin pula pengaruh yang diberikan itu relatif kecil, sehingga kegoyahan yang muncul tidaklah demikian berarti.

Apabila misalnya, kita berbicara dalam konteks nilai maka yang dimaksud dengan “saat kegoyahan” adalah pada saat nilai-nilai yang lama mulai mengalami perubahan sampai pada suatu saat di mana nilai- nilai yang baru belum melembaga. Di sini pasti ter-dapat kegoyahan, oleh karena (dan dapat diramalkan) akan terjadi suatu stagnasi, di mana masyarakat mungkin tidak mempunyai pegangan yang jelas mengenai nilai yang mana yang harus dipedomani. Selain daripada itu, di dalam masyarakat mungkin muncul pula suatu situasi yang tegang, atau suatu pertentangan nilai. Dengan demikian, dalam masa tran-sisi ini akan teijadi disharmonisasi, yaitu suatu ke-adaan yang tidak harmonis (serasi) antara para warga masyarakat serta (mungkin) akan terjadi disorganisa-si, yaitu melemahnya nilai-nilai lama dan kemudian akan menjadi pudar; namun kecepatan melemahnya atau memudarnya nilai-nilai itu sangat tergantung pada tekanan-tekanan yang diberikan. Saat-saat mulai melemahnya dan memudarnya nilai-nilai lama itu merupakan pula saat-saat munculnya nilai-nilai baru.

Perihal lama waktu suatu masa transisi dari suatu perubahan juga sangat tergantung pada proses pelembagaan dari perubahan itu sendiri. Suatu ukuran yang pasti tidak akan dapat diberikan oleh ilmu-ilmu sosial, juga oleh sosiologi. Suatu ide perubahan itu belumlah tentu akan diterima atau diadopsi oleh masyarakat. Rogers dan Shoemaker, berceritera, tentang suatu kampanye “memasak air minum” — selama waktu 2 tahun hanya mampu mengajak 5% dari 200 keluarga yang ada pada suatu desa (di Peru). Dengan demikian, suatu masa transisi itu ada apabila ide perubahan tersebut tidak ditolak oleh ma-syarakat. Pada ceritera di atas, kelihatannya tidak terjadi suatu masa transisi (yang berarti), sebab nilai kebaruan itu tidak dapat menggantikan nilai-nilai lama (tradisional).

Incoming search terms:

  • masa transisi
  • Pengertian masa transisi
  • masa transisi adalah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *