FAKTOR PENYEBARLUASAN

45 views

Suatu perubahan dalam masyarakat tidak selalu berjalan dengan lancar, oleh karena terdapat hambatan-hambatan tertentu. Dengan demikian di dalam masyarakat terdapat adanya faktor di mana dapat memperlancar suatu perubahan dan ada pula faktor yang menghalangi atau menghambat jalannya perubahan itu. Identifikasi kedua faktor ini sangatlah membantu untuk menerangkan tentang kecepatan berlangsungnya suatu perubahan, oleh karena kedua faktor ini memberi ukuran terhadap kecepatan berlangsungnya perubahan di dalam masyarakat.

Margono Slamet dalam konsepsinya tentang macam kekuatan yang mempengaruhi perubahan, tidak saja mengemukakan kekuatan pendorong, akan tetapi juga tentang kekuatan pengganggu dan kekuatan bertahan yang ter-dapat dalam masyarakat. Kekuatan bertahan bersumber dari bagian-bagian masyarakat yang:

  1. Menentang segala macam bentuk perubahan. Biasanya golongan yang paling rendah dalam masyarakat selalu menolak perubahan, karena mereka memerlukan kepastian untuk hari esok. Mereka tidak yakin bahwa perubahan akan membawa per-baikan untuk hari esok.
  2. Menentang tipe perubahan tertentu saja, misalnya ada golongan yang menentang pelaksanaan keluar-ga berencana saja, akan tetapi tidak menentang pembangunan-pembangunan lainnya.
  3. Sudah puas dengan keadaan yang ada.
  4. Beranggapan bahwa sumber perubahan tersebut tidak tepat. Golongan ini pada dasarnya tidak menentang perubahan itu sendiri, akan tetapi tidak menerima perubahan tersebut oleh karena orang yang menimbulkan gagasan perubahan tidak dapat mereka terima. Hal ini dapat dihindari dengan jalan menggunakan fihak ketiga sebagai penyampai gagasan kepada masyarakat.
  5. Kekurangan atau tidak tersedianya sumber daya yang diperlukan untuk melaksanakan perubahan yang diinginkan.

Selain dari kekuatan bertahan, terdapat pula kekuatan pengganggu. Kekuatan macam ini bersumber dari:

  1. Kekuatan-kekuatan di dalam masyarakat yang bersaing untuk memperoleh dukungan seluruh masyarakat dalam proses pembangunan. Hal ini dapat menimbulkan perpecahan, yang dapat mengganggu pelaksanaan pembangunan.
  2. Kesulitan/kekompleksan perubahan yang berakibat lambatnya penerimaan masyarakat terhadap perubahan yang akan dilakukan. Perbaikan gizi, keluarga berencana, konservasi hutan dan lain-lain, adalah beberapa contoh dari bagian itu.
  3. Kekurangan sumber daya yang diperlukan dalam bentuk:

—           kekurangan pengetahuan,

—           tenaga ahli

—           ketrampilan

—           pengertian

—           biaya

—           sarana, dan lain-lain9

Soerjono Soekanto, dalam bukunya “Sosiologi suatu pengantar, menyatakan bahwa faktor-faktor yang mendorong jalannya perubahan, adalah antara lain:

  1. Sistem pendidikan yang maju.
  2. Sikap menghargai hasil karya seseorang dan keinginan-keinginan untuk maju.
  3. Toleransi terhadap perubahan-perubahan yang menyimpang.
  4. Sistem terbuka dalam lapisan-lapisan masyarakat.
  5. Penduduk yang heterogen.
  6. Ketidak puasan masyarakat terhadap bidang-bidang kehidupan tertentu.
  7. Disorganisasi dalam masyarakat.
  8. Sikap mudah menerima hal-hal baru.

Sedangkan faktor yang menghalangi jalannya perubahan antara lain adalah:

  1. Perkembangan ilmu pengetahuan yang terlambat.
  2. Sikap masyarakat yang tradisional.
  3. Vested Interest (kepentingan yang telah tertanam dengan kuatnya).
  4. Prasangka (buruk) terhadap hal-hal baru.
  5. Rasa takut akan terjadinya kegoyahan pada integ-ritas kebudayaan.10

Kekuatan yang mendorong dan yang menentang atau menghalangi jalannya perubahan telah diidentivikasikan. Apabila kita menengok lagi kembali formula untuk melembagakan sesuatu inovasi, maka kecepatan berlangsungnya perubahan, juga tergantung pada efektivitas menanam, yaitu tergantung pada pengkomunikasian, dan ada semacam pandangan bahwa hasil-hasil budaya yang berupa fisik (benda) da-pat disebarluaskan jauh lebih cepat daripada apabila inovasi itu berupa ide-ide, gagasan-gagasan yang tidak punya wujud fisik. Apabila demikian halnya, maka karakteristik inovasi merupakan satu faktor penting. Alvin L.Bertrand juga melihat bahwa adanya suatu situasi yang krisis; seperti orang-orang yang menghadapi malapetaka, akan mau menerima cara baru di mana sekiranya bisa memberi jalan mengatasi situasi krisis mereka itu dengan cepat.

Dari pernyataan-pernyataan tersebut di atas, membawa kita pada suatu konklusi, bahwa perubahan di dalam masyarakat itu ada yang berjalan secara cepat dan ada pula yang secara lambat. Apabila yang disampaikan itu adalah hasil-hasil budaya yang berupa fisik dan kekuatan menolak dari masyarakat itu kurang berarti serta terdapat kondisi-kondisi tertentu seperti adanya situasi krisis, maka perubahan itu mungkin beijalan dengan cepat; akan tetapi, apabila hal sebaliknya yang terjadi, maka perubahan dalam masyarakat akan berjalan secara lambat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *