Advertisement

1. Heidegger dalam fenomenologinya mengedepankan tiga soal pokok. Pertama, siapakah manusia itu? Kedua, apakah Ada yang konkret itu? Ketiga, yang paling serius, apakah Ada yang tertinggi itu? Akan halnya yang pertama, Heidegger mengajukan pertanyaan ini. Apakah arti “Aku ada?” Heidegger memandang manusia sebagai makhluk yang “terlempar” di dunia tanpa persetujuannya. Ia perlu mengakui keterbatasannya. la terlepas dari jurang yang sangat dalam untuk menghadapi jurang yang sangat dalam lainnya. Dalam menghadapi ketiadaan manusia gelisah. Akan tetapi kegelisahannya ini memungkinkan dia menjadi sadar akan eksistensinya. Dalam mempelajari dirinya, manusia menemukan soal-soal temporalitas, takut dan khawatir, kecil hati dan dosa, ketiadaan dan mati.

2. Heidegger bersikap sangat kritis terhadap manusia zaman ini, karena mereka hidup secara dangkal, dan sangat memperhatikan benda, kuantitas dan kekuasaan pribadi. Manusia modern tidak mempunyai akar dan kosong karena ia telah kehilangan rasa berhubungan dengan Ada yang purna. Benda konkret harus ditingkatkan supaya manusia terbuka kepada keseluruhan Ada. Hanya dengan menemukan watak dinamis eksistensinya manusia dapat diselamatkan dari kekacauan dan frustrasi yang mengancamnya. Orang harus hidup secara autentik, tidak hanya berkutat dengan benda-benda dan persoalan hidup sehari-hari. Ia harus memusatkan perhatiannya kepada kebenaran yang, jika dia mau, dapat diungkapkannya. Dengan demikian, ia memandang hidupnya dengan perspektif baru.

Advertisement

Advertisement