Advertisement

1. Sebagaimana Husserl, Merleau-Ponty (1908—1961) yakin bahwa seorang filsuf benar-benar harus memulai kegiatannya de- ngan meneiiti pengalamannya sendiri tentang realitas. Dengar demikian ia menjauhkan diri dari dua ekstrem. Yakni, di satu pihak, hanya meneiiti atau mengulangi penelitian apa yang te lah dikatakan orang mengenai realitas. Dan di pihak lain, ha nya memperhatikan segi-segi luar dari pengalaman, tanpa me nyebut realitas sama sekali.

2. Merleau-Ponty penting bagi fenomenologi karena ia memasuk kan ide tentang dialektika ke dalam fenomenologi. Ia sering dinamakan filsuf absurditas. Hal ini tidak berarti bahwa pikir annya kabur atau absurd. Akan tetapi Merleau-Ponty berang gapan bahwa dialektika itu hakiki bagi filsafat, sebagaiman Sartre menganggap absurditas sebagai ciri khas bagi filsafat Dalam karyanya, Les aventures ck la dialectique, Merleau-Pont mengatakan, supaya dialektika subyek-obyek itu sahih, dialek tika itu harus tetap kabur. Sebab jika tidak demikian, ia akan membinasakan dirinya sendiri. Berdasarkan pandangannya me-ngenai dialektika ini, Merleau-Ponty berpendapat bahwa deskripsi fenomenologis tidak dapat diselesaikan. Deskripsi fenc- menologis memberi gambaran tentang dunia dalam prose:; dan proses itu tidak dapat diramalkan. Yang dapat dides- kripsikan ialah hal-hal yang telah terjadi. Dunia dalam sejarahnya tidak rnengikuti contoh yang sudah dikonsepsikan. Sebaliknya alam mempunyai arti melalui sejarah. Dan sejarah yarig benar adalah sejarah yang melalui dialektika subyek-obyet. Oleh karena itu paham kita mengenai dunia bergantung pica kemampuan manusia untuk memperdalam dan mempertings akalnya sedemikian rupa sehingga dapat mencakup yang noi– rasional dan yang rasional. Perhatian filsafat kepada yang kotingen, kepada yang absurd, kepada segi gelap dari benda bagi Merleau-Ponty hanya merupakan jalan supaya lebih setia, kepada tugas akal itu sendiri, yakni tugas berpikir secara tidak terbatas.

Advertisement

Incoming search terms:

  • fenomenologi sebagai dialek

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • fenomenologi sebagai dialek