philosophy of the social sciences (filsafat ilmu-ilmu sosial)

Filsafat ilmu-ilmu sosial adalah, dalam jargon birokratis dari para akademis, yaitu kajian tentang tujuan dan metode ilmu-ilmu sosial (sosiologi, antropologi, ilmu politik, psikologi, kadang- kadang ilmu ekonomi; kasus-kasus yang berada di wilayah perbatasan adalah sejarah, geografi, demografi dan linguistik); hal tersebut membentuk sub-kekhususan dalam filsafat ilmu pengetahuan, yaitu kajian tentang tujuan dan metode ilmu pengetahuan secara umum. Berbagai bunga rampai standar menyusun materinya di sekitar pertanyaan-pertanyaan berikut ini. Apakah persoalan-persoalan alam (natural things) secara fundamental berbeda dengan persoalan-persoalan sosial (social thingsP Jika demikian haruskah ilmu pengetahuan tentang persoalan-persoalan sosial menggunakan metode yang berbeda dengan yang digunakan oleh ilmu pengetahuan tentang persoalan-persoalan alam? Lalu, apakah ilmu-ilmu sosial menjadi mungkin? Dengan kata lain, apakah persoalan-persoalan sosial semata- mata sebagai agregat? Apakah persoalan-persoalan sosial mencampuradukkan fakta dan nilai- nilai? Apakah nilai-nilai merupakan produk sosial? Dari daftar pertanyaan ini tampak bahwa persoalannya merupakan persoalan filsafat tradisional ontologis, epistemologis dan normatif.

Jarang sekali ada kecocokan antara subyek yang didefinisikan birokrasi akademis dengan mapa yang sesungguhnya dilakukan para praktisinya. Dan ketika muncul kesimpulan akhir yang condong pada pernyataan bahwa subyek tersebut adalah kemustahilan (impossibility), hal ini mempengaruhi khasanah ensiklopedi. Semua kerangka alternatif memiliki keterbatasan. Matriks pendekatan Aristoteles yang membagi subyek dalam kategori dan konsep yang teratur menyembunyikan elemen-elemen yang tidak teratur dan kacau. Pendekatan sejarah, yang memperlakukan subyek sebagai sebuah cerita yang mengandung bagian awal, pertengahan dan tentunya bagian akhir, mempunyai resiko dalam mengidentifikasi subyek dengan keadaan sekarang. Pendekatan kekerabatan, yang melacak seluruh elemen-elemen masa kini sampai ke satu nenek moyang, mempunyai resiko dalam menggabungkan dan mensimplifikasi keturunan. Pendekatan pemetaan (map-making), yang mencoba memberikan suatu gambaran yang menyeluruh, ternyata mengabaikan lekuk-lekuk daratan. Pilihan saya adalah peta sketsa metafisika, dilengkapi dengan sedikit sejarah. Hasilnya memang sedikit tidak rapi, tetapi pembaca harus maklum karena daerah tersebut berbukit, berkabut dan kita dipaksa menggambar berdasarkan pembukaan laut, tanpa menggunakan radar.

Incoming search terms:

  • Filsafat Ilmu Sosial
  • pengertian filsafat ilmu sosial
  • pengertian filsafat sosial

Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • Filsafat Ilmu Sosial
  • pengertian filsafat ilmu sosial
  • pengertian filsafat sosial