Filsafat Seni

122 views

SENI

Inggris: art, dari Latin ari, artis (keterampilan), menunjukkan perbuatan apa pun yang dilakukan dengan sengaja dan maksud tertentu yang mengacu pada apa yang indah.

Beberapa Pengertian

1. Kreasi manusia yang memiliki mutu atau nilai keindahan.

2. Keterampilan yang dicapai dalam pengalaman yang memungki-nkan kemampuan untuk menyusun, menggunakan secara sis-tematis dan intensional sarana-sarana fisik agar memperoleh hasil yang diinginkan menurut prinsip-prinsip estetis, entah ditangkap secara intuitif atau kognitif.

3. Suatu bentuk kesadaran sosial dan kegiatan insani yang merefleksikan realitas dalam gambar-gambar artistik dan merupakan cara yang amat penting dalam menyelami dan memotret dunia.

4. Pekerjaan, suatu pencaharian yang menjadi sumber ilham bagi kreasi artistik dan merupakan sumber dari proses awal membentuk rasa dan kebutuhan estetis manusia.

5. Daya untuk melaksanakan tindakan-tindakan tertentu yang dibimbing oleh pengetahuan khusus dan istimewa dan dijalankan dengan keterampilan. Seni merupakan kemampuan istimewa untuk melakukan atau menghasilkan sesuatu menurut prinsip- prinsip estetis.

Pandangan Beberapa Filsuf

1. Pada Plato seni merupakan kegiatan atau objek perbuatan yang dikendalikan oleh gerakan dari teori ke praktik, dan kontras dengan gerakan ke atas menuju teori. Tetapi dalam Republic buku X, seni (fine arts) dianggap sebagai “tiruan atas tiruan”.

2. Pada Aristoteles, seni merupakan satu dari tiga cabang pengetahuan. Kontras dengan ilmu teoretis dan kebijaksanaan praktis, seni merupakan satu cabang pengetahuan yang berurusan dengan prinsip-prinsip yang relevan dengan penghasilan objek- objek yang indah atau yang berguna.

3. Aquinas mengikuti kedua pendahulunya, dengan mendefinisikan seni sebagai rasio yang benar dalam membuat barang-barang.

4. Lessing berpandangan bahwa tiap seni mempunyai prinsip pengaturannya sendiri.

5. Hegel membedakan antara tiga macam seni, yang juga merupakan tahap-tahap dalam perkembangannya: Simbolik, Klasik, dan Romantik.

6. Schopenhauer memandang musik sebagai seni yang tertinggi.

7. Dewey memandang seni sebagai pengalaman dalam tahap konsumaternya.

 

Beberapa Pokok Terkait

1. Seni dan kerajinan tangan bersesuaian karena keduanya menghasilkan suatu karya yang dapat dicerap panca indera. Namun, kerajinan tangan lebih mengacu pada sesuatu yang bermanfaat, sementara seni diabdikan kepada penciptaan keindahan.

2. Suatu hal dikatakan indah secara alamiah kalau hal tersebut membiarkan gagasan yang ada di dalam dirinya tampil dengan cemerlang. Sesuatu dikatakan indah secara artistik bukan hanya pengulangan atau tindasan dari hal-hal yang terdapat dalam alam. Sebaliknya, tugas seni adalah membiarkan ide-ide tampil dengan kedalaman dan kekuatan yang sama sekali baru dan merefleksikan rahasia-rahasia terdalam dari realitas dalam karya-karya kreatif seni. Karena alasan ini, maksud dan tujuan pokok seni ialah menyajikan dan menggambarkan gagasan-gagasan, bukan menghasilkan benda-benda atau barang-barang.

3. Seniman adalah seorang pengamat yang meresapi rahasia-rahasia terdalam dari setiap eksisten, bahkan ada orang yang memperluas “rahasia” itu dengan “gagasan-gagasan kreatif Tuhan”. I)an seniman adalah “seorang pembuat” yang mampu mengungkapkan visinya dalam karyanya. Di dalam seniman, melihat dan membuat menjadi satu. Karena itu di samping keterbatasan-keterbatasan temporal dan personal, seniman mengatasi dirinya dan tampil di antara sesama manusia sebagai seorang yang menghargai dan mengagungkan eksistensi.

4. Desensualisasi (proses peniadaan ciri corak inderawi) kadang- kadang dipakai sebagai kriterium penjenjangan seni: arsitektur, seni ukir, seni lukis, kesusastraan (di sini tekanannya pada kata yang diucapkan), mimikri (teristimewa tarian), musik. Tiga yang pertama merupakan seni ruang sejauh ketiganya menciptakan sesuatu yang tetap dalam ruang. Sedang tiga yang terakhir merupakan seni waktu, sejauh ketiganya menghasilkan sesuatu yang sementara, sesuatu yang harus selalu diperbarui dalam waktu.

Filsafat Seni

Filsafat seni bersangkutan dengan masalah-masalah konseptual yang muncul dari pengertian kita tentang seni. Pertanyaan-pertanyaan seperti berikut ini diajukan dalam filsafat seni: Bagaimana seni didefinisikan? Apa yang membuat karya seni itu indah, menarik, jelek? Bagaimana kita menanggapi sebuah karya seni? Apakah ungkapan artistik merupakan bentuk ungkapan yang unik? Apakah seni menyingkapkan kebenaran tentang segala sesuatu? Mengapa manusia menciptakan karya-karya seni?

Seni Murni

Seni yang berfungsi pokok untuk menghasilkan pengalaman estetis tentang suatu keindahan tanpa memperhatikan apa manfaat atau kegunaan ekonomis atau praktis yang mungkin dihasilkannya. Yang umum berbeda dengan Seni Murni dapat disebut seni mekanis atau seni bermanfaat. Yang terakhir ini mengacu pada produk-produk yang mempunyai kegunaan praktis tertentu (seperti: kursi, mobil, rumah, payung) yang dapat dibuat dengan tetap memperhatikan sifat-sifat estetis namun terutama ditujukan demi fungsi yang tidak estetis.

Seni Untuk Seni

“Seni untuk seni” adalah sebuah prinsip estetis yang menyatakan bahwa seni memiliki tujuan pada dirinya sendiri dan sifat mutlak. Prinsip ini bertumpu pada pemisahan seni dari kehidupan masyarakat. Prinsip ini tersebar dalam abad ke-19 dan abad ke-20. Tujuan sendi adalah mencari kepenuhan kepuasan estetis murni. Prinsip ini ingin menentang realisme, yang dianut oleh kaum estetikawan pada saat itu. Prinsip ini menolak makna kognitif, ideologis dan edukatif dari seni, juga tidak mau tergantung pada tuntutan-tuntutan praktis dari suatu zaman. Semua ini menimbulkan kesan dan klaim bahwa seniman “bebas” dari masyarakat dan tidak memikul tanggung jawab terhadap bangsa; katakanlah, semacam kecenderungan pada individualisme dan subjektivisme ekstrem.

Incoming search terms:

  • filsafat seni
  • filosofi seni
  • pengertian filsafat seni
  • filsafat seni adalah
  • definisi filsafat seni
  • apa itu filsafat seni
  • Seni filsafat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *