Advertisement

FUNGSI TATANAN SOSIAL DI JERMAN – Setiap tatanan perekonomian perlu menyertakan muatan sosial tertentu karena lingkungan ekonomi mempunyai efek yang berkesinambunan terhadap kedudukan sosial individu atau kelompok. Jadi, kedudukan sosial, status sosial, serta keamanan sosial individu dan kelompok yang tergantung pada distribusi pendapatan dan kekayaan. Pada kesetaraan peluang, pada ketersediaan pilihan untuk perkembangan individu, dan sebagainya.

Muatan sosial yang ada dalam suatu tatanan perekonomian mungkin perlu diukur melalui standar gagasan-gagasan masyarakat mengenai norma dan tujuan sosial. Termasuk, keadilan sosial, keamanan sosial, keamanan kerja, perlindungan hak-hak pribadi, penghargaan martabat manusia di tempat kerja, dan sebagainya. Jadi, misalnya, muatan sosial dari suatu tatanan perekonomian pada masyarakat perindustrian pada abad XIX mungkin sangat rendah. Meski para pekerja industri pada waktu itu tidak sedikit peningkatannya secara ekonomi, tetapi situasi sosial mereka terancam terus menerus terhadap penghasilan pribadinya dan kehidupan keluarganya, yang merupakan kondisi kehidupan yang buruk. Para pekerja tersebut tidak mempunyai suatu kepastian penopang hidup seperti halnya bila menderita sakit, menganggur, cacat, atau usia lanjut. Mereka harus bekerja 70 jam seminggu atau lebih. Umumnya mereka tidak punya jalan keluarnya selain menyuruh kaum perempuan dan anak-anaknya bekerja. Di tempat kerja jarang sekali terdapat perlindungan terhadap kesehatan dan ancaman moralitas serta hak-hak pribadi, dan, terakhir, situasi perumahan di kota-kota yang lambat-laun mengalami perluasan yang kadang membahayakan. Pada abad tersebut, keadaan ini dianggap tidak memuaskan dan kurang sosial. Terlebih lagi bila diukur dengan standar yang berlaku sekarang.

Advertisement

Selanjutnya kita akan melihat daftar yang tidak begitu lengkap dari beberapa faktor yang menurut kode nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat industri maju di Barat menentukan pentingnya muatan sosial dari suatu tatanan perekonomian. Faktor-faktor tersebut adalah:

  • Kemampuan merangsang pertumbuhan dan kemajuan ekonomi dan mendistribusikan hasil akhir pendapatan serta kesejahteraan sosial sesuai dengan standar keadilan yang dianut.
  • Kemampuan menjamin pemakaian penuh tenaga kerja, yaitu untuk menghindari pengangguran.
  • Kemampuan menyediakan dana untuk menjamin bahwa anggota masyarakat yang tidak mampu atau cacat dapat menikmati hidup yang menurut anggapan mereka layak.
  • Kemampuan mengamankan stabilitas mata uang dan, khususnya, mencegah inflasi, karena masyarakat berpenghasilan rendah akan sangat terpukul oleh penurunan daya beli, sementara mereka yang mempunyai kekayaan tak bergerak akan beruntung.
  • Kemampuan menekan ketergantungan pribadi seminimal mungkin; menjamin hak-hak asasi manusia, khususnya hak akan perkembangan pribadi yang bebas; mendorong pelaksanaan hak-hak tersebut; dan memberikan peluang pembangunan ekonomi pribadi serata mungkin.
  • Masyarakat, dengan persepsi perekonomian dan sosiali-sasinya memungkinkan untuk bersama-sama, disertai dengan adanya kesamaan keinginan, kesamaan minat dan tujuan sebagai imbangannya, baik antara pengusaha dan pekerjanya, antara konsumen dan produsennya, maupun antara perorangan dan kelompok masyarakat luas lainnya.

Muatan sosial apa yang akan dideteksi pada suatu tatanan perekonomian itu tergantung pada sejauh mana norma-norma sosial telah melampaui norma ekonomi dalam perkembangan masyarakatnya. Jadi, perkembangan dan pelaksanaan norma sosial yang progresif di negara-negara demokrasi Barat telah menyerang dan memperlemah norma-norma ekonomi hingga ke tingkat yang sedemikian rupa sehingga kapitalisme yang berlebihan tanpa kontrol pada abad XIX ditransformasikan ke kapitalisme yang diregulasikan pada abad XX beserta hukum dan aturan sosialnya. Masyarakat yang ingin melindungi ketenteraman sosialnya sendiri dan hendak menyertakan gagasan keadilan sosial tertentu haruslah mematuhi norma- norma ekonomi maupun norma-norma sosial. Tanpa norma sosial yang otonom, setiap perekonomian nasional hanya akan memproduksi muatan sosial yang minimal, seperti halnya perekonomian nasional pada awal pertumbuhan kapitalisme. Minimal dalam arti bahwa efisiensi ekonomi dan pencapaian tujuan-tujuan ekonomi tergantung pada kesesuaiannya dengan norma-norma sosialnya.

Karena terkondisi secara perekonomian, maka hubungan- hubungan sosial didominasi oleh pertimbangan-pertimbangan ekonomi pula. Khususnya, prinsip untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya dengan alat yang dipunyai dan/atau mengejar keuntungan tertentu dengan pengeluaran yang minimal. Dan perlakuan yang manusiawi terhadap bawahan, bantuan sosial, kesediaan menolong secara pribadi, dukungan terhadap kolega dan mitra kerja yang membutuhkan, dan pola-pola perilaku lain bukanlah terdorong oleh motivasi perekonomian melainkan oleh motivasi sosial. Sekarang, sehubungan dengan perekonomian diatur oleh prinsip rasionalis dan ditekan untuk mencapai hasil ekonomi yang dengan sendirinya tidak akan mengembangkan norma-norma sosial yang lebih dari sekadarnya saja, serta tidak akan mampu melahirkan norma-norma sosial untuk memenuhi kebutuhan non ekonomi dari suatu masyarakat, khususnya kebutuhan akan keadilan sosial dan keamanan sosial, maka setiap kelompok masyarakat harus memiliki tugas untuk mengembangkan suatu tatanan sosial yang berdasarkan dari tujuan- tujuan sosialnya sendiri.

Kecanggihan dan efisiens politik, ekonomi, dan sosial akan meningkat sejalan dengan derajat sejauh mana unsur-unsur tatanan perekonomian misalnya sistem moneter, sistem pasar tenaga kerja, sistem kompetisi, dan struktur hubungan- hubungan industri dapat dibuat mendukung tujuan-tujuan ekonomi dan sosial sekaligus. Dan, tatanan sosial, khususnya undang-undang asuransi sosial, dapat dirancang untuk menjamin bahwa tujuan-tujuan sosial tidak mendapat kesalahan prioritas, sementara pertentangan dengan tujuan- tujuan kebijakan ekonomi sedapat mungkin dihindari.

Dengan kata lain, tujuan tatanan sosial, terutama, adalah untuk melindungi ketenteraman sosial, melaksanakan keadilan sosial dan keamanan sosial bagi semua, serta menjamin agar persyaratan sosial minimum, yaitu kehidupan kerja dan bisnis yang manusiawi dapat dipertahankan atau diperbaiki.

Di dalam tatanan perekonomian yang disebut Ekonomi Pasar Sosial, asal-usul dan strukturnya akan dibahas pada bagian berikut, dengan aspek sosial dan tujuan-tujuan sosial mendapat tempat yang penting.

Advertisement