Gangguan fungsional psikotik versus psikotik

Karena pemisahan aetiologis yang didasarkan pada kausalitas biologis tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk membedakan gangguan mental fungsional, akhirnya digunakan pendekatan fenomenologis. Pendekatan yang pada dasarnya kualitatif ini melibatkan pengamatan yang cermat terhadap suatu gambaran klinik berdasarkan kasus per kasus. Dari berbagai observasi ini kemudian bisa diidentifikasi konfigurasi yang relatif unik dari berbagai gejala (symptons) dan kelompok gejala yang menunjukkan pengelompokan alamiah terhadap fenomena. Artinya, berbagai kondisi di mana atribut dominan merupakan suatu gangguan perasaan (mood)yang sangat mendalam dipisahkan dari berbagai kondisi di mana atribut dominannya adalah gangguan dalam proses dan isi pikiran. Perbedaan antara ‘gangguan perasaan’ (disorders of mood) dan ‘gangguan pikiran’ (disorders of thought) mendapatkan bukti- bukti yang makin kuat ketika data longitudinal menunjukkan bahwa bentuk gangguan itu juga berbeda. Gangguan perasaan mempunyai kemungkinan lebih besar untuk dihilangkan, sementara gangguan pikiran berkaitan dengan penurunan progresif. Selama bertahun-tahun, karakteristik-karakteristik ini memberi landasan pokok bagi suatu pembedaan antara apa yang sekarang disebut gangguan schizophrenia dan maniak depresif.

Lepas dari karakteristik-karakteristik yang membedakan berbagai gangguan pikiran dan perasaan ini. individu yang mempunyai salah satu dari kedua gangguan itu sama-sama mempunyai tiga karakteristik: perilaku yang nyata-nyata melanggar norma sosial: pertimbangan yang tidak tepat terhadap akurasi pikiran atau persepsi; dan mempunyai kecenderungan kuat untuk menarik kesimpulan yang salah mengenai realitas eksternal sekalipun dihadapkan dengan bukti yang sama sekali tidak terbantahkan. Dua ciri yang terakhir itu menunjang apa yang disebut sebagai ‘rusaknya uji realitas ‘ (impaired reality testing). Rusaknya uji realitas ini, yang disertai perilaku aneh atau tak terorganisasi yang melampaui batas-batas penerimaan sosial, menjadi faktor utama untuk menggolongkan gangguan fungsional sebagai psikotik dan bukannya non psikotik. Kegunaan dikotomi ini sebagai dasar untuk klasifikasi telah menjadi sumber utama perdebatan psikiatri. Sekalipun begitu, dikotomi ini merupakan suatu konvensi yang berguna untuk membedakan macam-macam gangguan mental seperti schizophrenia, gangguan afektif besar, dan gangguan paranoid dari fenomena psikologis dan behavioralis non organik lainnya yang menyebabkan gangguan mental fungsional.

Neurotik, gangguan kepribadian dan gangguan yang berkaitan dengan stress. Penguraian lebih lanjut mengenai kondisi-kondisi yang menyebabkan gangguan mental fungsional dipicu oleh dua peristiwa penting dalam bidang psikiatri, yaitu pergeseran pusat penyelidikan akademis dari rumah sakit ke klinik psikiatris universitas, dan munculnya psikoanalisis. Peristiwa yang pertama membuat makin banyak cakupan fenomena yang bisa diterima dan diakses penelitian sedangkan peristiwa yang kedua menciptakan suatu kerangka konseptual dan metodologis untuk mengkaji asal-usul psikogenik dari perilaku yang terganggu. Selain itu, meningkatnya interaksi di antara berbagai ilmu kinik. behavioral, sosial dan biologi yang dimulai pada akhir abad ke-I8, dan terus berlangsung hingga saat ini, menghasilkan sejumlah paradigma yang bermanfaat. Selain mendorong penelitian mengenai asal-usul psikologi dan sosial dari gangguan mental, berbagai paradigma ini menyumbangkan garis-garis pembatas terhadap tiga kelompok besar gangguan mental fungsional non- psikotik. yaitu gangguan neurotik, gangguan kepribadian, dan gangguan yang berkaitan dengan stres.