Gangguan organis versus gangguan mental fungsional

Pada awal abad ke-19, perawatan terhadap orang yang mengalami gangguan mental secara bertahap menjadi tanggung jawab medis, jadi bukan melalui penerapan kuasa hukum atau agama dalam masyarakat. Rumah sakit umum dan rumah sakit jiwa menjadi tempat penting untuk penyelenggaraan penelitian ilmiah. Akibatnya, fenomena kajian ini mewakili sebagian besar contoh gangguan perilaku atau psikologi. Orientasi filosofi materialistik mendominasi pemikiran medis. Riset dalam bidang-bidang psikologi, bakteriologi dan patologi cukup penting dalam menggambarkan patofisiologi dan aetiologi dari kondisi sakit fisik. Perspektif filosofis dan kemajuan teknologi cenderung mendukung suatu pandangan bahwa gangguan mental merupakan ekspresi dari proses penyakit fisik atau penyakit biologis.

Gagasan mengenai kausalitas biologis merupakan suatu prinsip orientasi yang paling penting hingga sekarang dalam berbagai usaha untuk memahami sifat dasar kondisi sakit mental. Karena itu, sampai saat ini, teknologi yang tersedia tidak memadai untuk tugas mendefinisikan suatu hubungan tetap (invariable relationship) antara fenomena perilaku dan psikologi yang dikaji dengan luka anatomis dan proses patofisilogis. Namun, ada suatu konvensi yang bermanfaat, yaitu dengan cara memisahkan antara gangguan mental ‘organis’ dan gangguaan mental ‘fungsional’. Dikotomi ini didasarkan pada pemisahan aetiologis: ada atau tidaknya suatu abnormalitas atau disfungsi biologis yang mendominasi kondisi tersebut.

Incoming search terms:

  • gangguan mental fungsional

Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • gangguan mental fungsional