Advertisement

Ada dua cara yang mendasar bagi ahli antropologi untuk menyimpulkan sifat-sifat umum mengenai pola-pola kebudayaan. Kalau dia mempelajari kebiasaan-kebiasaan yang terungkap secara jelas atau gamblang dalam suatu masyarakat misalnya, kebiasaan ketatanegaraan untuk memilih penjabat pemerintah seperti Presiden melalui pemilihan maka si peneliti dapat menentukan dan mempelajari kebiasaan-kebiasaan itu dengan bantuan beberapa orang yang tahu seluk-beluknya. Sebaliknya, kalau dia mempelajari bidang kelakuan tertentu yang mencakup banyak variasi perseorangan, atau bila orang-orang yang dipelajari itu tidak sadar akan pola-pola kelakuannya sendiri, maka ahli antropologi harus mengumpulkan keterangan dari sejumlah warga masyarakat yang untuk tujuan itu ditentukan sebagai sampel untuk menjadi wakil dari penduduk yang dipelajari dan dari jawaban mereka disimpulkan apa yang merupakan jawaban rata-rata.

Yang terakhir adalah suatu metoda statistik yang menunjukkan jawaban- jawabannya yang paling sering ditemukan dalam suatu seri jawaban tertentu. Jadi ini adalah suatu cara lain untuk menggambarkan pola kebudayaan yang lazim. Andaikata seorang ahli antropologi ingin menguraikan tentang waktu-waktu makan malam yang merupakan kebiasaan warga suatu masyarakat. Jika catatan-catatannya tentang perilaku dari 50 orang menunjukkan bahwa ada yang makan malam pada pukul 17.45; yang lain pada pukul 18.00, yang lain lagi pada 18.30 atau pukul 19.00, tetapi sebagiairbesar dari mereka makan pada pukul 18.30, dia akan mengatakan saja, bahwa para warga masyarakat itu pada umumnya makan malam pada pukul 18.30, karena yang terakhir inilah yang mewakili kelakuan rata-rata mereka itu.

Advertisement

Pola rata-rata itu ditetapkan dengan mengukur variabilitas dari pola kelakuan yang tertentu. Kalau seorang ahli antropologi mau menggambarkan suatu cara berlaku yang banyak variasinya, dia pertama-tama membuat catatan mengenai cara berlaku dari setiap subyeknya. Sesudah itu si peneliti mencatat berapa kali terjadinya tiap kelas tingkah laku (misalnya tiap waktu makan malam); ini menunjukkan penyebaran frekuensi (frequency distribution). Untuk memperoleh garis grafik dari distribusi frekuensi, angka-angka dipindahkan pada suatu grafik yang menggambarkan distribusi sepanjang sumbu mendatar atau absis dan frekuensinya pada sumbu tegak lurus atau ordinat. Biasanya grafik semacam itu meningkat sampai mencapai litik yang tinggi lalu menurun; titik yang paling tinggi itulah menggambarkan cara berlaku rata-rata. Karena bentuknya, grafik semacam ini disebut grafik berbentuk lonceng, (bell curve). Penyebaran frekuensi dapat juga dihitung berdasarkan jawaban-jawaban yang diberikan oleh semua warga dari seluruh penduduk yang hendak dipelajari. Tentu sudah dapat digambarkan bahwa penvimpulan demikian banyaknya keterangan, akan menghabiskan banyak waktu. Ketimbang cara itu. ahli antropologi biasanya mendapatkan data dari sejumlah orang yang mewakili keseluruhan atau sampel yang representatif. Hal yang diidamkan adalah bahwa sampel itu terdiri dari orang-orang yang diambil secara acak-acakan dari masyarakat atau kelompok yang dipelajari artinya semua jenis warganya sama kesempatannya untuk terpilih. Kalau sampel diambil secara acak-acakan besar kemungkinan bahwa sampel itu akan mencakup semua contoh dari variasi kelakuan yang sering terdapat dalam masyarakat atau kelompok yang dipelajari dan perbandingan di antara variasi yang dijumpai dalam sampel akan tidak jauh berbeda dengan proporsi di antara variasi dalam kelompok yang dipelajari itu. Menurut teori, pengambilan sampel secara acak-acakan, adalah metoda yang berguna namun kenyataan adalah bahwa metoda itu belum digunakan secara luas dalam penelitian antropologi. Karena agak mudah juga untuk membuat kesimpulan umum atau generalisasi tentang aspek-aspek kebudayaan yang gamblang atau disadari, seperti saat makan malam dan prosedur berpacaran maka metoda penarikan sampel, sering tidak perlu. Tetapi dalam penelitian mengenai aspek-aspek kebudayaan yang terselubung atau yang tidak disadari, seperti pendapat masyarakat mengenai jarak yang wa jar antara dua orang pada waktu berbicara, penarikan sampel secara acak-acakan mungkin perlu, agar kesimpulan umum mengenai pola kebudayaan dapat dirumuskan dengan tepat. Ini adalah karena sebagian besar orang-orang tidak sadar mengenai pola-pola kebudayaannya yang terselubung atau pola budaya yang tidak disadari. Lagipula, dalam usaha mengenali aspek-aspek kebudayaan yang terselubung, pendapat- pendapat subyektif lebih besar pengaruhnya sehingga tanpa sampel acak-acakan maka interpretasi yang tidak tepat akan mudah terjadi. Mengapa kesukaran- kesukaran terjadi yang timbul dalam usaha untuk mengenal cara berlaku rata-rata daripada budaya terselubung maka mujurlah bahwa variasi kelakuan sekitar pola rata-rata pada umumnya tidaklah luas.

Incoming search terms:

  • generalisasi pola pola kebudayaan
  • generalisasi antropologi

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • generalisasi pola pola kebudayaan
  • generalisasi antropologi