Advertisement

Kedekatan

Zajonc (1968) mengatakan bahwa dengan orang yang belum atau baru dikenal, faktor yang memudahkan komunikasi dan hubungan adalah pertemuan yang berulang-ulang, sejauh reaksi pada saat pertama bertemu tidak terlalu negatif. Ia mengatakan bahwa dengan pertemuan-per temuan yang berulang-ulang itu terjadi proses pengurangan kecemasan dan pembiasaan terhadap orang asing tersebut sehingga dapat saling berhubungan dengan lebih baik. Oleh karena itu, faktor kedekatan fisik (sehingga lebih sering bertemu) merupakan salah satu faktor yang penting untuk peningkatan hubungan. Akan tetapi, ternyata, seperti dalam contoh di awal bab ini, Yansen justru lebih mudah berkomunikasi dengan Leo yang secara fisik kamarnya berjauhan dengan kamarnya. Dalam hal ini, selain reaksi pertama dari pinak Dedet yang sudah negatif, juga ternyata kedekatan fungsional lebih penting daripada kedekatan fisik. Kamar Leo atau kantin asrama atau warung di belakang fakultas merupakan tempat-tempatyang lebih memungkinkan pertemuan daripada kamar Yansen sendiri (Newcomb, 1961). Karena itu, kalau Anda ingin banyak teman, sering-seringlah duduk di kantin, naik kendaraan umum, atau berbelanja ke pasar. Dalam hubungan ini Moreland & Beach (1992) mengadakan eksperimen dengan meminta beberapa orang untuk mengikuti kuliah tertentu. Sebagian diminta mengikuti kuliah setiap hari, sebagian lagi lebih jarang dan yang terakhir hanya datang beberapa kali selama satu semester. Hasilnya adalah yang lebih rajin kuliah lebih dikenal oleh teman-temannya daripada yang jarang kuliah. Dalam beberapa kasus, harapan atau antisipasi   munculnya seseorang saja sudah merangsang perasaan senang terhadap orang itu, bahkan dapat mendorong ke arah kencan (Berscheid, dkk., 1976).

Advertisement

Eksperimen-eksperimen lain dari Zajonc (Kunst-Wilson & Zajonc, 1980; Moreland & Zajonc, 1977) juga membuktikan bahwa makin sering berjumpa makin membangkitkan perasaan suka (dalam pepatah Jawa: tumbuhnya cinta karena sering berjumpa). Bahkan, sebuah eksperimen lain membuktikan bahwa yang dijumpai sambil lalu dapat lebih diingat daripada yang harus dijumpai dengan penuh perhatian dan kesengajaan (Bornstein & DAgostino, 1992). Dalam hubungan ini Zajonc menerangkan bahwa emosi lebih primitif dan ada lebih dahulu dari akal atau ratio. OLeh karena itu, orang yang takut atau cemas kepada orang yang baru atau belum dikenal, muncul emosinya bukan karena adanya prasangka-prasangka tertentu, melainkan prasangka-prasangka itulah yang dikembangkan untuk menjelaskan ketakutan.

Dalam praktik politik dan pemasaran, teori Zajonc ini sering digunakan, yaitu dalam kampanye (misalnya, untuk pemilihan umum) dan periklanan. Makin sering suatu hal dimunculkan makin baik, karena secara tidak disadari orang akan memilih (atau membeli) yang sering dilihat atau didengarnya (McCullough & Ostrom, 1974; Winter, 1973), seperti yang terjadi, misalnya, pada tahun 1990, ketika ketua Mahkamah Agung Amerika Serikat Keith Callow, kalah dalam pemilihan dari seorang pengacara tidak terkenal, Charles Johnson, hanya karena lebih banyak nama Johnson dalam masyarakat (lebih sering terdengar) daripada Callow (Myers, 1996).

Di pihak lain, kedekatan dapat juga merupakan faktor penyebab timbulnya rasa saling tidak suka. Data di Amerika Serikat menunjukkan bahwa pistol yang dimiliki masyarakat dengan maksud melindungi diri dari penjahat ternyata lebih sering digunakan untuk menembak anggota keluarga sendiri (Myers, 1996).

Incoming search terms:

  • hubungan dengan orang yang belum dikenal
  • komunikasi orang tak di kenal
  • makalah komunikasi dengan orang yang belum dikenal

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • hubungan dengan orang yang belum dikenal
  • komunikasi orang tak di kenal
  • makalah komunikasi dengan orang yang belum dikenal