Advertisement

Kota Jakarta sebagai Ibukota Republik Indonesia semua orang Indonesia suda’h tahu, tetapi kota Jakarta mempunyai banyak predikat, sebagai Kota Pendidikan Kota Pariwisata, Kota Bisnis, Kota Sosial Budaya dan sebagai kota Pelayanan. Selain itu Jakarta dengan penduduk hampir mendekati 10 juta pada siang hari tentu punya sejuta masalah, konflik perkotaan dan segudang beban se-bagai kota Metropolitan yang terus Jy tumbuh dan berkembang.
Sangat terasa sekali tumbuh kembangnya Jakarta selama satu dasawarsa terakhir yang semakin tinggi-melebar sehingga membentuk fenomena mega-urban dengan kota besar sekitarnya. Di sijsi lain semakin tinggi pul,a resiko-resiko dan kerawanan yang*’ harus dibayar dari sisi kemanusiaan (orang kecil yar\g semakin tidak dimanusiakan), sisi lingkungan hidup dan sebagainya.
Puncak-puncak kerawanan tersebut harus diantisipasi untuk dihilangkan dikurangi atau diperlunak dari akibat yang lebih parah karena adanya tekanan dan konflik perkotaan Pusat-pusat konflik. Jakarta harus diselamatkan karena di samping semakin tinggi pencakar langit yang menusuk awan serta semakin
Baru-baru ini, tanggal 29 Agustus 1995, Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad telah meluncurkan Ibukota Federal baru dan kota tersebut akan menjadi bagian dari “Mega City” untuk mendorong negaranya menuju abad ke 21. Kota tersebut merupakan model kota metropolitan masa depan dan sebagai Ibukota Administratif dengan nama Putrajaya. Sebagai kota masa depan disiapkan untuk mengantisipasi sebagai mega city dan pusat koia dan memungkinkan sebagai pusat jaringan informasi yang dinamis dalam telekomunikasi perdagangan dan internasional. Putrajaya dikembangkan dan merupakan rangkaian dari tiga kota di samping kota-kota Kuala Lumpur yang tetap menjadi kota Komersial dan Bandara Udara Internasional Kuala Lumpur (KLIA).
Demikian tiga kota serangkai tersebut merupakan Revitalisasi fungsi kota-kota lama di samping membagi beban kota secara lebih spesifik dalam menyongsong abad XXI.
Tanpa harus malu untuk meniru ide dasar yangn baik, dengan melihat perkembangan dan pertumbuhan kota Jakarta yang makin pesat serta pertambahan penduduk Jakarta, Jabotabek dan pusat pusat pertumbunan aiseKiiarnya yang akan semakin menyulitkan dalam pengaturannya. Jabotabek dan tumbuhnya gejala Mega-urban di sekitar yang tanpa kesatuan tujuan dan koordinasi perlu ditata dan dimanfaatkan secara maksimal, jangan dibiarkan wilayah tersebut berkembang masing-masing dan saling bersaing secara arogan. Wilayah tersebut perlu ditata diatur dalam RUTR/RTRW dan RTK dalam arah perkembangan dan pertumbuhan dan konteksnya dalam pem-bangunan secara parsial, nasional dan internasional.
Mengendalikan kota Jakarta sebagai Ibukota Negara Republik Indonesia (Rl) yang penduduknya semakin membengkak namun dengan rasa aman, nyaman, bebas kemacetan dan bebas hiruk-pikuk keseharian, rasanya cita-cita tersebut menjadi semakin langka. Jakarta dengan penduduk 9,5 juta iiwa (siang hari) ditambah 1 juta setelah selesai dan berfungsinya penataan wilayah reklamasi Teluk
Jakarta (di atas lahan reklamasi akan berdiri gedung-gedung tinggi, pelabuhan, pusat bisnis, kawasan wisata, pemukiman jangkung). Jakarta akan terus tumbuh dan berkembang dengan penduduk 16,6 juta jiwa pada tahun 2000 (Kompas 11 April 95) Jakarta dengan multi sebutan sebagai kota pusat bisnis, beban sebagai kota sosial-budaya, pariwisata, Ibukota Negara Rl ditambah dengan jumlah penduduk 16,6 juta jiwa (tahun 2000) a’dalah jelas hal tersebut merupakan beban yang berat dalam perencanaan, pembangunan kota serta pengelolaannya. Jakarta sarat dengan beban dan konflik perkotaan. Apakah Jakarta akan tetap dimuati dan dibiarkan tambah terus terhadap seluruh beban dan konflik dan masalah perkotaan ? Adakah jalan lain untuk memeratakan atau bahkan memindahkan beban ? itulah alternatif yang kiranya perlu dipikirkan. Kota Jakarta telah tumbuh dan berkembang sesuai dengan tumbuh dan berkembangnya kecenderungan Mega-Urban di sekitarnya seperti : Kawasan Industri, pemukiman berikut sarana pendukung/infra struktur airport, pelabuhan, jalan tol, telekomunikasi sebagai aspek pokok tumbuhnya wilayah urban.

Advertisement
Advertisement