Advertisement

1. Budisme Zen merupakan suatu aliran (trend) dalam Budhisme. Kendati lahir di India, Zen menjadi terkenal hanya di Cina. Ini terjadi setelah diperkenalkan oleh Bodhidharma (460 — 534). Dia ini menurut tradisi, mengajarkan Lankavatara Sutra (menyangkut masuknya Budha ke Lanka). Perkembangan Zen di Cina mendapat pengaruh dari Taoisme. Buktinya dapat dilihat dalam kehadiran kata tao dalam tulisan-tulisan Zen. Kata “tao” merupakan padanan kata dharma atau “hakikat Budha”. Kemudian aliran ini tersebar luas di Jepang. Tiga postulat yang dikemukakan Budisme Zen adalah “hakikat tunggal Budha” dan “hakikat tunggal seluruh ciptaan”, serta “jalan alamiah” (tao). Ketiga postulat ini mengungguli semua metode teoritis. Tidak seperti aliran-aliran Budhistik lainnya, Budisme Zen mewartakan “kesadaran mendadak,” pemahaman kebenaran. Irasionalisme dan intuisionisme Budhisme Zen, ritus- ritusnya yang eksoktik telah membangkitkan minat yang besar di kalangan filsuf-filsuf Eropa Barat dan Amerika, khususnya dalam dasawarsa terakhir.

2. Dikatakan bahwa dalam Budhisme Zen tidak ada pembicaraan tentang Tuhan. Aliran ini telah menghilangkan kepercayaan kepada Tuhan yang bersifat personal. Sementara alam dilihat sebagai substansi yang tak dapat dibagi, suatu keseluruhan total dan manusia hanya satu bagian darinya. Dengan cara yang khas, sxkap tersebut dijelaskan sebagai berikut:

Advertisement

3. Hanya INI (INI sengaja ditulis dengan huruf besar) ada. Benda apa saja dan semua benila yang tampak kepada kita sebagai kesadaran individual atau fenomena, baik berupa planet atau atom, tikus atau manusia, hanya merupakan manifestasi sementara dari INI dengan bentuk khusus.

4. Tiap aktivitas yang terjadi, apakah itu kelahiran atau kematian, cinta atau makan pagi, hanya merupakan manifestasi sementara dari INI dalam aktivitas. Walaupun kita mempunyai individualitas sementara, individualitas yang sementara dan terbatas tersebut bukan jiwa yang benar atau jiwa kita yang benar.

5. Jiwa kita yang benar adalah jiwa besar dan badan kita yang benar adalah Badan Realitas. Pengungkapan “Realitas” tersebut adalah tujuan dari Budhisme Zen. Jika ditanya tentang “arti” kehidupan, realitas Jiwa,” “asal mula Alam,” Budha menun- jukkan “sikap diam yang mulia” (noble silence). Ini juga cara Zen. Soal-soal tersebut dianggap tidak relevan untuk mencapai kebebasan spiritual. Akal yang sangat cerdas tak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan fundamental. Siapa? Apa? Mengapa? Sebagaimana air tak dapat menjawab mengapa air menghilangkan dahaga atau makanan menghilangkan rasa lapar.

6. “Jawaban” terakhir tak dapat diperoleh dengan jalan argumen atau fakta. Dengan begitu Zen berusaha untuk memaksa akal ke dalam hal-hal di luar proses pemikiran biasa. Memakai jawaban yang tak berarti untuk menjawab soal-soal besar bukan tidak berarti. Hal ini dimaksudkan bahwa penjelasan “dengan kalimat” atau kata-kata yang menjelaskan arti, semuanya termasuk dalam pikiran atau bahasa dan bukan aktualitas.

7. Dengan menghilangkan perbedaan-perbedaan yang biasa, Zen mengira dapat menemukan Realitas. Realitas adalah suatu kondisi yang mengatasi segala pertentangan. Dengan jalan ini pengikut Zen terdorong ke pengalaman pribadi, ke reaiisasi kesatuan hidup yang memberi iluminasi.

Advertisement