Advertisement

 1. Obyek persepsi kita adalah ide-ide.

2. Ide-ide itu bersifat mental.

Advertisement

3. Esensi ide-ide terletak dalam kemampuannya untuk diamati dan disebabkan oleh pikiran.

4. Apa yang kita sebut hal-hal fisik (seperti meja, kelereng, rumput) adalah kumpulan teratur yang tergantung pada pikiran.

5. Pikiran-pikiran (roh-roh) ada untuk menghasilkan ide-ide. Materi yang sama sekali lain dari ide-ide tidak dapat menghasilkan ide-ide.

6. Kita tidak dapat memiliki ide umum tentang sesuatu in abstracto (secara abstrak) atau yang diabstraksikan dari kualitas-kualitas partikularnya. Misalnya, saya tidak dapat memiliki suatu ide tentang “kemerahan” tetapi selalu hanya tentang suatu obyek merah tertentu, seperti sebuah sapu tangan me- rah, sebuah bola merah, sebuah permukaan merah.

7. Semua pegetahuan, kecuali pengetahan tentang Allah dan tentang eksistensi diri seseorang, berasal dari persepsi inderawi tentang hal-hal partikular.

8. Biarpun kita yang berpikir adalah penyebab langsung ide-ide yang dihasilkan oleh imajinasi kita, namun Allah adalah penyebab terakhir dari ide-ide dan pencerapan-pencerapan kita.

9. Benda-benda fisik sesungguhnya adalah ide-ide dalam pikiran Allah dan kita memandang ide-ide sebagai meja, kelereng, rumput.

10. Yang kita tangkap adalah tanda-tanda atau lambang-lambang dalam bahasa Allah ketika la berusaha berkomunikasi dengan kita. Alam semesta adalah ungkapan Allah dalam bahasa. Aturan, pola, dan keteraturan dari semua hal ini menunjukkan hal ini.

11. Realitas dan kesatuannya yang dipersepsi secara langsung tidak dapat dikembalikan pada sederetan agregat (kumpulan) yang tanpa pikiran, tidak bersambung, tidak berkaitan, non-mental.

 

Advertisement