Advertisement

Pasal 143 ayat 2 KUHAP menentukan bahwa surat dakwaan harus dirumuskan secara cermat, jelas dan lengkap. Apabila tidak dirumuskan secara cermat, jelas dan lengkap tentang tindak pidana yang didakwakan, serta tidak memuat waktu dan tempat tindak pi-dana dilakukan, maka dakwaan tersebut batal demi hukum.
Pasal 143 tersebut menunjukkan dengan tegas kaitan antara tindak pidana yang terjadi dengan teknik perumusan surat dakwaan. Dalam pasal tersebut tergambar bahwa jenis tindak pidana dapat mempengaruhi perumusan surat dakwaan. Dalam hubungan dengan gabungan tindak pidana, yang mempunyai be rmacam,-macam bentuk, surat dakwaan harus dirumuskan sesuai dengan gabungan tindak pidana yang terjadi. Dengan cara menghubungkan “aturan” pemakaian masing-masing bentuk surat dakwaan, dengan ciri khas masing-masing bentuk gabungan tindak pidana, dapat diketahui bentuk surat dakwaan yang tepat untuk gabungan tindak pidana.
1. Bentuk Surat Dakwaan Pada Concursus Idealis
Concursus Idealis timbul apabila dengan melakukan satu perbuatan seseorang telah melanggar lebih dari satu peraturan pidana. Misalnya pengendara mobil yang menabrak sepeda motor yang dikendarai oleh dua orang; yang satu meninggal dunia, sedang yang satunya lagi luka berat. Dalam hal ini, pengemudi mobil telah sekaligus melanggar dua pasal peraturan pidana, yaitu mengakibatkan meninggalnya orang lain (359 KUHP), dan orang lain luka parah (360 KUHP).
Apabila bentuk gabungan tindak pidana ini dihubungkan dengan aturan penggunaan masing-masing bentuk surat dakwaan, dapat diambil bebe-rapa kesimpulan sebagai berikut:
a. Surat dakwaan biasa/dakwaan tunggal tidak tepat untuk dipergunakan, sebab hanya berisi satu macam dakwaan. Akan tidak adil apabila pengemudi mobil tersebut hanya dituntut de-ngan salah satu pasal poraturan pidana yang dilanggar.
b. Surat dakwaan alternatif juga tidak tepat digunakan, sebab dakwaan demikian berisikan beberapa dakwaan yang satu sama lain saling mengecualikan, yang berarti bahwa hakim akan memilfri satu tindak pidana yang paling tepat (dengan mengesampingkan tindak pidana lain yang juga di-dakwakan) untuk dipertanggung jawabkan pada terdakwa. Dikaitkan dengan contoh di atas, tentu akan tidak adil apabila pengemudi mobil hanya dipertanggung jawabkan atas akibat yang berupa meningalnya orang lain saja. Demikian juga jika sebaliknya.
c. Demikian pula bentuk surat dakwaan Subsider, akan tidak tepat apabila dipergunakan. Bentuk dakwaan ini, yang tersusun mulai dari dakwaan primer, subsider, lebih subsider, dan selanjutnya, mengarahkan jalannya pemeriksaan untuk memulai pembuktian dari dak-waan primer. Kalau dakwaan primer sudah terbukti, pemeriksaan tidak dilanjutkan ke dakwaan-dakwaan yang berikutnya. Dengan kata lain, dakwaan-dakwaan selanjutnya dikesampingkan. Bila dikaitkan dengan contoh di atas, mengandung arti bahwa pe-ngemudi mobif tersebut hanya dipertanggung jawabkan atas akibat yang berupa meninggalnya orang lain saja, atau sebaliknya. Tentu hal demikian adalah tidak adil.
d. Surat dakwaan kumulasi adalah tepat untuk dipergunakan, sebab pada bentuk dakwaan ini semua perbuatan/akibat yang ditimbulkan didakwakan kepada pelaku dan semua dakwaan itu harus dibuktikan (Hamrat Hamid dan Harun M Husein, 1992). Dengan demikian, akibat yang berupa meninggalnya orang lain dan orang lain luka parah, duaduanya dipertanggung ja-wabkan kepada pelaku. Sedangkan mengenai penjatuhan pidananya, mengikuti aturan paal 63 KUHP, yaitu dijatuhkan satu pidana saja yang memuat hukuman pokok yang terberat.
2. Bentuk Surat Dakwaan Pada Concursus Realis
Concursus Realis timbul apabila seorang melakukan beberapa perbuatan, masing-masing perbuatan merupakan tindak pidana sendiri-sendiri, dan perbuatan-perbuatan tersebut diadili secara sekaligus. Umpamanya, pada bulan Januari terdakwa melakukan pembunuhan. Bulan Juni, melakukan perampokan, dan bulan Agustus melakukan pemerkosaan. Ketiga tindak pidana tersebut dilimpahkan oleh penyidik ke-pada penuntut umum secara bersamaan pada bulan Desember. ;
Apabila bentuk gabungan tindak pidana’ini dihubungkan dengan aturan pemakaian masing-masing bentuk surat dakwaan, dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut: a. Bentuk surat dakwaan tunggal jelas tidak tepat dipergunakan, sebab bentuk ini hanya memuat satu macam tindak pidana yang didakwakan. Bila pada contoh kasus di atas terdakwa ha-, nya dituntut atas tindak
pidana perampokan dan pe-merkosaan saja, “tentu dirasakan sangat tidak adil.
b. Bentuk surat dakwaan alternatif juga tidak tepat untuk dipergunakan, sebab meskipun bentuk ini dapat mendakwakan bentuk tindak pidana sekaligus, tetapi masing-masing dakwaan tersebut saling mengecualikan. Ini berarti bahwa apabila salah satu dakwaan telah terbukti, maka dakwaan yang lainnya tidak akan diperiksa (dianggap tidak akan terbukti). Apabila formulasi demikian diterapkan pada tindak pidana seperti contoh di atas, tentu menimbulkan ketidakadilan.
c. Demikian pula dengan dakwaan yang berbentuk Subsider. Karena bentuk dakwaan ini mewajibkan pemeriksaan untuk membuktikan mulai dari dakwaan yang primer diteruskan ke yang subsider dan seterusnya ke yang lebih subsider, dan apabila salah satu dakwaan itu telah terbukti, pemeriksaan tidak dilanjutkan ke dakwaan-dakwaan lainnya (Yahya Harahap, 1988), maka apabila bentuk dakwaan yang demikian diterapkan untuk Concursus Realis seperti pada contoh di atas, tentu menimbulkan ketidak-adilan. Sangat tidak adil apabila seseorang hanya dipidana karena tindak pidana pembunuhan saja, padahal sebenarnya terdakwa juga melakukan perampokan dan pemerkosaan.
d. Bentuk surat dakwaan kumulasi adalah tepat dipergunakan untuk Concursus Realis, sebab bentuk ini
memungkinkan mendakwa seseorang dengan beberapa dakwaan, dan masingmasing dakwaan tersebut harus dibuktikan sendirisendiri (Andi Hamzah, 1990). Ini berarti bahwa apabila masing-masing dakwaan tersebut terbukti, hakim tetap akan memidana terdakwa atas perbuatan-perbuatan pidana yang terbukti. Mengenai besarnya pidana yang dapat dijatuhkan, harus mengikuti ketentuan pasal 65, 66, dan 70 KUHP. Dikaitkan dengan contoh di atas, adalah sangat adil apabila pelaku di-pertanggung jawabkan atas tindak pidana pembunuhan, perampokan, dan pemer-kosaan.
3. Bentuk Surat Dakwaan pada Voorgezette Samenloop
Voorgezette Samenloop terjadi apabila seorang melakukan beberapa perbuatan, beberapa perbuatan itu merupakan tindak pidana sendirisendiri, dan diantara perbuatanperbuatan itu terdapat hubungan yang sedemikian eratnya, sehingga beberapa perbuatan itu harus dianggap sebagai satu perbuatan berkelanjutan. Misalnya seseorang mempunyai keinginan untuk membeli mobil. Untuk memenuhi keinginan tersebut, secara berulangkali ia mengambil uang kantor sedikit demi sedikit dalam tenggang waktu satu tahun, sampai mencapai jumlah yang diinginkan.
Menurut Yahya Harahap, berdasarkan pengalaman terdapat dua bentuk dakwaan dalam Voorgezette Samenloop (M. Yahya Harahap, 1988). Apabila sulit untuk menentukan secara pasti tempat dan tanggal tindak pidana dilakukan, cara penyusunan dan penguraiannya biasanya dilakukan secara umum. Semua rangkaian perbuatan tersebut dirumuskan dalam satu dakwaan saja. Cara perumusan yang demikian oleh Yahya Harahap disebut “diru-muskan dalam satu dakwaan secara umum dan alternatif”. Misalnya, terdakwa telah melakukan perzinahan berulangkali, sekurng-kurangnya lebih dari satu kali, dengan perempuan yang bukan isterinya. Perbuatan itu dilakukan di tem-pat kediamannya sendiri sekitar antara bulan Januari sampai Agustus 1994.
Cara perumusan yang kedua adalah dakwaan dirumuskan secara berlanjut dan terperinci satu persatu secara kronologis, dengan menyebutkan tempat dan tanggal yang pasti maupun alternatif dari setiap perbuatan yang dilaku-kan. Cara perumusan yang demikian oleh Yahya Harahap disebut dengan “dirumuskan secara kumulatif yang bersifat perbarengan dalam aturan pi-dana yang sama”.

Incoming search terms:

  • concursus realis yahya harahap
  • contoh dakwaan concursus realis
  • surat dakwaan concursus realis

Advertisement
Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • concursus realis yahya harahap
  • contoh dakwaan concursus realis
  • surat dakwaan concursus realis