INTERAKSI SOSIAL DAN STATUS

44 views

Interaksi sosial tidak saja mempunyai korelasi dengan norma-norma, akan tetapi juga dengan status; dalam arti bahwa status memberi bentuk atau pola interaksi. Status dikonsepsikan sebagai posisi seseo-rang (atau sekelompok orang) dalam suatu kelompok (atau kelompok yang lebih besar) sehubungan dengan orang lain dalam kelompok (atau kelompok yang lebih besar) itu. Status merekomendasikan perbedaan martabat, yang merupakan pengakuan interpersonal yang selalu meliputi paling sedikit satuindividu, yaitu siapa yang menuntut dan individu lainnya, yaitu siapa yang menghormati tuntutan itu.

Di atas telah disebutkan bahwa status memberi bentuk atau pola dalam interaksi. Gejala ini sangat terlihat misalnya pada hubungan antara seorang atasan dengan bawahannya atau pada hubungan antara orang tua dengan orang yang lebih muda atau anak-anak; atau antara mereka yang tergolong berpunya dengan mereka yang miskin, ataupula dalam hubungan antara mereka yang menjadi tuan tanah dengan penggarap. Pernyataan dari Firth5 bahwa “di Polinesia rasa hormat terhadap orang-orang yang lebih tua merupakan sendi dalam penghidupan sosial” dan bahwa orang-orang yang lebih tua tampak sebagai pengawas terhadap anak-anak dan orang-orang yang lebih muda dari padanya” merupakan suatu bukti bahwa status memberi bentuk atau pola tertentu dalam interaksi. Lebih lanjut, dapat pula diperhatikan pernyataan dari James C. Scott yang dengan mengutip pendapatan Howard Keva Kaufman, menyatakan bahwa di desa Muangthai umpamanya,

Seorang petani yang beruang dapat melakukan tekanan terhadap banyak petani lainnya. Ia adalah phujaj (orang besar) dalam tata-hubungan phujaj – phunauj (orang besar orang kecil). Kepadanyalah seringkali orang harus berpaling untuk meminjam dan menyewa perkakas, untuk mendapat uang tunai sebagai pinjaman dan tanah untuk digarap. Setelah transaksi ditutup, orang yang berhutang berkewajiban untuk membalas dengan pelbagai jasa sepanjang tahun. Akan tetapi kekayaan yang tidak disertai perilaku yang sesuai akan menyebabkan orang kaya itu dipandang rendah dan menjadi pokok pergunjingan jahil, dan hanya apabila seorang petani miskin memerlukan sesuatu dari padanya, ia mendapat perlakuan hormat secara basa-basi.

Demikian, dari dua buah laporan yang disajikan di atas kita dapat membuat suatu pernyataan hipotesis, bahwa status tertentu akan membentuk pola-pola interaksi tertentu pula. Di sini, yang dimaksud adalah misalnya, pola interaksi golongan atasan akan berbeda dengan pola golongan bawahan, atau bentuk atau pola interaksi antara jenis kelamin wanita akan berbeda dengan laki-laki; walaupun mungkin perbedaan itu relatif kecil.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *