INTERAKSI SOSIAL DENGAN NORMA-NORMA SOSIAL

83 views

Pernyataan bahwa manusia adalah mahluk sosial atau mahluk yang hidup bersama (“masyarakat”) merupakan pernyataan yang umum dalam konsep ilmu-ilmu sosial dan bahkan dapat dianggap sebagai konsep dasar dari ilmu-ilmu sosial terutama sosiologi. Hidup bersama atau hidup bermasyarakat dapat diartikan sebagai sama dengan hidup dalam suatu pergaulan. Ini menandakan bahwa manusia tidak pernah hidup di dalam suatu isolasi yang komplit, absolut dan permanen. Interaksi dan interrelasi antara manusia tumbuh sebagai suatu keharusan oleh karena kondisi bio-psikologis manusia yang dilahirkan dengan basic drive dan basic needs yang harus dipenuhi. Manusia individual tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar bio-psikologisnya sendiri. Ia harus mengadakan kooperasi dengan manusia lainnya untuk dapat memenuhi kebutuhan bio- psikologisnya.

Harsojo berpendapat bahwa koperasi antara ma-nusia membutuhkan syarat ketertiban (“keteraturan”). Hal ini disebabkan karena:

  1. Bahwa manusia individual atau kelompok berusaha sekerasnya untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya dan dapat jaminan keamanan dan jika mungkin mencapai suatu tingkat kemakmuran yang diinginkan.
  2. Bahwa untuk mendapatkan kondisi yang esensial bagi kelangsungan hidup dan keamanan diperlukan adanya ketertiban sosial dalam derajat yang tinggi.
  3. Bahwa untuk mencapai derajat ketertiban sosial yang tinggi diperlukan adanya suatu pengaturan sosial kultural serta mekanisme yang dapat dipergunakan bagi pelaksanaan pengaturan itu.2

Dengan demikian, di dalam kehidupannya, manusia itu memerlukan pengaturan tata hubungan, sehingga manusia itu dapat hidup dalam suatu suasana yang harmonis. Gambaran tersebut di atas pada dasarnya lebih menunjuk pada pentingnya norma-norma di dalam hidup bermasyarakat itu.

Apabila kita berbicara dalam konteks norma-norma, hal ini berarti membicarakan salah satu dari unsur struktur sosial. Dengan demikian, uraian di atas telah melukiskan suatu korelasi antara interaksi sosial dengan struktur sosial yang dinamakan norma- norma.

Telah dinyatakan bahwa norma-norma itu dapat dipandang sebagai suatu standard atau skala yang terdiri dari berbagai kategori perilaku yang berisikan su-atu keharusan, larangan, maupun kebolehan. Oleh karena norma-norma itu telah dikonsepsikan demikian, maka sudah sewajarnya apabila dalam interaksi dilakukan atas dasar norma-norma itu; artinya bahwa norma-norma itu dielaborasikan di dalam interaksi sosial. Adanya pernyataan masyarakat seperti asusila, asopan-santun, dan sebagainya memberi pertanda bahwa dalam hubungan antara manusia didasarkan pada suatu pola yang disebut norma-norma.

Interaksi sosial, rupa-rupanya tidak saja berko-relasi dengan norma-norma sosial sebagai korelasi searah seperti digambarkan di atas, namun melalui nilai- nilai, interaksi sosial itu juga mewujudkan norma- norma sosial. Nilai-nilai merupakan ukuran terhadap apa yang baik dan apa yang buruk, apa yang sepantasnya dilakukan dan apa yang tidak pantas, dan sebagainya. Hubungan atau interaksi sosial menumbuhkan pengalaman-pengalaman yang dan daripadanya dapat diketahui perilaku yang disukai dan yang tidak disukai. Dengan disukainya perilaku itu, memberi kemungkinan untuk dilakukan secara kontinue atau terus-menerus. Dari sini akan menimbulkan bibit kebiasaan, yang kemudian akan menjadi tata- kelakuan, serta mengalami pelembagaan dalam masyarakat. Soetjono Soekanto dan Soleman B. Taneko dalam uraian mengenai “Dari Perilaku ke Hukum Adat” yang dibicarakan dalam buku Hukum Adat Indonesia, menyatakan bahwa “manusia senantiasa mengadakan interaksi atau hubungan interpersonal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *