Advertisement

 1. Intelektualisme metafuis terlalu dilebih-lebihkan dalam idealisme transendental atau Idealisme Jerman. Idealisme Jerman meng ajarkan bahwa eksistensi dalam segala segi merupakan produl rasio. Dengan pertimbangan yang masuk akal Thomas Aquina; mempertahankan intelektualisme metafisis. Menurut intelektual isme metafisis, eksistensi dalam sumbernya yang ilahi satu de ngan rasio. Karenanya, itu berarti bahwa setiap eksisten, walai ia bukan rasio dan roh belaka, dalam arti tertentu, rasiona dan rohani.

2. Intelektualisme epistemolngis merupakan suatu variasi intelektualismi metafisis dan kiranya tidak boleh dicampuradukkan dengai rasionalisme. Berbeda dengan voluntarisme, intelektualisme tidal secara niscaya menggambarkan diabaikannya kehendak dai eksistensi (sebab, di mana ada rasio, di situ ada kehendak] melainkan hanya melukiskan presedensi konseptual rasio se belum kehendak. Sebab, kehendak bahkan tidak dapat dipikira kan tanpa acuan pada rasio. Apa yang membedakan kehendal dari setiap jenis keinginan lain ialah justru rasio yang meresaf kehendak.

Advertisement

3. Intelektualisme psikologi entah menunjuk pada presendensi rasio sebelum kehendak yang sudah disebutkan di atas. Atau intelektualisme psikologi dapat melangkah lebih jauh dan menunjukkan pengetahuan tentang kebaikan dan karenanya dapat dipelajari.

4. Di kalangan pemikir Yunani, Sokrates menyajikan intelektualisme etis. Menurut konsep ini, kebajikan tidak lain daripada penge-tahuan yang membentuknya.

Incoming search terms:

  • intelektualisme etis?

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • intelektualisme etis?