Advertisement

Kata “bermoral” mengacu pada bagaimana suatu masyarakat yang berbudaya berperilaku, sedangkan “beretika” mengacu pada bagaimana seharusnya ia berperilaku. Etika memberikan nasihat-nasihat mengenai perilaku, biasanya dalam bentuk ungkapan, mutiara kata, peribahasa, dan sebagainya, yang menyiratkan, tetapi tidak menyatakan dengan tegas, tujuan yang baik dan didambakan yang moga-moga akan dicapai dengan menuruti nasihat itu, dan akibat-akibat jelek yang akan menimpa jika petuah itu dilanggar.

Di dunia modern ini, ilmu (dan anak-keturunannya: teknologi) tak dapat disangkal lagi jelas mendominasi). Maka, dipandang dari segi daya ramalnya, ilmu pun dapat dianggap sebagai sumber nasihat perihal perilaku. Pernyataan ini tentunya lebih mu$ah diterima oleh para etikawan fenomenologis. Walaupun begitu, etikawan normatif pun pada hemat penulis tak perlu enggan menerima pandangan ini, asalkan pernyataan itu diartikan begini: bahwa khazanah pengetahuan yang sangat banyak isinya itu, dan beberapa di antara ramalan-ramalannya yang penting dan terandalkan, seharusnya dipandang sebagai informasi tambahan untuk menafsirkan norma-norma etika secara lebih betul dan lebih relevan.

Advertisement

Tetapi, sekadar berperan sebagai informan merupakan citra ilmu wan yang kian usang. Kecenderungan yang nampak ialah bahwa rupanya makin banyak ilmuwan yang menganggap bahwa mereka sungguhsungguh tunamoral, tak beretika dan tak bertanggung jawab terhadap masyarakat, jika membiarkan dirinya terjerat oleh rayuan dana penelitian dan pengembangan yang sangat besar, yang disediakan oleh angkatan bersenjata dan perusahaan multinasional raksasa, asal ia mau purapura buta terhadap peluncasgunaan dan penyalahgunaan hasii-hasil keilmuannya.

Tak lain dari Einstein sendiri — sarjana yang pertama-tama menunjukkan kemungkinan untuk memperoleh tenaga yang sangat besar dengan menyadap dari usak-massa yang sangat kecil — yang dengan pedasnya mengecam penerapan dan penyalahgunaan senjata nuklir. Ia melancarkan kecamannya dalam tahun 1950: “Kita telahmuncul (sebagai pemenang, pen.) dari suatu peperangan yang telah memaksa kita menerima standar etika musuh yang begitu merendahkan martabat manusia. Tetapi sebaiiknya daripada merasa terbebaskan dari standar musuh itu sehingga leluasa memulihkan kekudusan jiwa manusia dan keainanan rakyat yang tak bertempur, pada hakikatnya kita justru mengambil alih standar yang rendah itu menjadi standar kita sendiri” (Christianson, 1971). Ikut merasakan kemuakan seperti Einstein, Robert Oppenheimer menentang pengembangan bom-H — suatu sikap etis yang berani, yang menyebabkannya diinterogasi bagaikan terdakwa oleh Komisi Tenaga Atom, sehingga ia kemudian dicap sebagai “risiko keamanan” dan dikucilkan dari segala kegiatan penelitian nuklir.

Sejak waktu itu banyak ilmuwan yang nekat menghadapi risiko, dengan blak-blakan melancarkan kecamannya terhadap sementara rekannya yang berperan bagaikan Faust dalam karya sastra Goethe dan opera Wagner — “melacurkan” hati nurani kemasyarakatannya kepada iblis Mephistopheles modern dengan cara memasang sikap netral dan tak pedulian, tak mau mengakui bahwa mereka mengemban tugas-tugas dan tanggung jawab terhadap masyarakat.

Di antara para pengecam ini kita kenal, misalnya, Jacques Monod (dan 2100 ilmuwan lain yang menandatangani Deklarasi Menton), Robert March (yang meskipun kalah tetapi sempat dan masih terus berjuang melawan Himpunan Fisika Amerika, American Physical Society, yang berkuasa dan sok legalistis) dan beberapa belas ilmuwan di Kampus Berkeley (yang menyelenggarakan rangkaian kuliah tentang tanggung jawab kemasyarakatan para ilmuwan; Brown, 1971). Di samping itu masih ada lagi, misalnya para pengikut”Summer Science Institute” pertama tentang hubungan timbal-balik antara ilmu dan masyarakat (yang diselenggarakan di Knox College dan menghasilkan seperangkat resolusi tajam), Jonas Salk yang melontarkan gagasannya tentang “sikap humanologis”, dan berpuluh-puluh ilmuwan dari 50 negara yang bersama-sama membentuk wadah kegiatannya, yakni “Perkumpulan demi Tanggung Jawab Keiimuan” (Association for Scientific Responsibility).

Hanya dengan sikap penuh tanggung jawab etis terhadap masyarakat (baik masyarakat dewasa ini maupun. angkatan-angkatan yang akan datang) ilmu dapat menghindarkan dirinya dari kehilangan hak istimewanya untuk mengabdi kepada kemanusiaan. Kalau tidak demikian, maka membayanglah risiko bahwa ilmu akan terkutuk menjadi perkakas yang berbahaya, yang bergiat demi penghambaannya kepada jenderaljenderal yang gila perang dan gembong-gembong kekaisaran industri yang rakus.

Advertisement