KARAKTERISTIK KELUARGA PASIEN GANGGUAN MAKAN

47 views

KARAKTERISTIK KELUARGA PASIEN GANGGUAN MAKAN – Berbagai studi mengenai karakteristik keluarga pasien gangguan makan memberikan hasil yang bervariasi. Sebagian di antara beberapa variasi tersebut berakar dari metode pengumpulan data yang berbeda dan dari berbagai sumber informasi. Contohnya. laporan diri (self report) dari pasien sendiri secara konsisten mengungkap tingkat konflik yang tinggi dalam keluarga (a.1., Bulik, Wade, & Kendler, 2000; Hodges, Cochrane, & Brewerton, 1998). Namun, penuturan dari orang tua tidak selalu mengindikasikan tingkat masalah keluarga yang tinggi.
Hubungan yang bermasalah dalam keluarga tampaknya memang menjadi karakter keluarga beberapa pasien gangguan makan, dengan salah satu karakteristik yang paling sering terlihat adalah rendahnya dukungan. Meskipun demikian, karakteristik keluarga tersebut dapat disebabkan oleh gangguan makan dan tidak selalu merupakan penyebab. Terlebih lagi, beberapa karakteristik yang sama juga ditemukan dalam keluarga dengan tipe psikopatologi lain, termasuk depresi dan gangguan kepribadian. Dengan demikian, pola keluarga tersebut tidak spesifik hanya dalam patologi gangguan makan namun dapat merupakan hal umum dalam keluarga yang salah satu anggotanya menderita psikopatologi secara umum (a.1., Wonderlich & Swift, 1990).
Suatu studi menguji pasien gangguan makan dan para orang tua mereka dengan menggunakan tes yang dirancang untuk mengukur rigiditas, kedekatan, keterlibatan emosional yang berlebihan, berbagai komentar kritis, dan permusuhan (Dare dkk_. 1994). Terdapat variasi besar dalam berbagai keluarga tersebut dalam kaitan apakah orang tua terlalu banyak turut campur dalam urusan anak-anaknya; para keluarga tersebut juga memiliki konflik yang cukup rendah (tingkat kritik dan permusuhan yang rendah). Suatu studi terhadap keluarga di mana pengukuran dilakukan sebelum dan sesudah penanganan terhadap pasien menemukan bahwa angka keberfungsian keluarga meningkat setelah penanganan (Woodside dkk., 1995). Terakhir, suatu studi meneliti perbedaan kembar identik dalam bulimia (a.1., hanya salah satu yang menderita gangguan, sedangkan yang lain tidak). Salah satu dari kembar yang menderita bulimia dilaporkan lebih banyak memiliki ketidakcocokan dalam keluarga dibanding kembar yang tidak menderita bulimia. Karena studi tersebut mengacu pada penuturan diri sendiri secara retrospektif, tetap tidak :elas apakah ketidakcocokan dalam keluarga merupakan faktor yang memberikan kontribusi atau konsekuensi dari gangguan makan.
Untuk memahami lebih baik peran dari fungsi keluarga, maka perlu untuk mulai mempelajari keluarga secara langsung dengan metode observasional daripada melalui laporan diri sendiri. Meskipun persepsi anak mengenai karakteristik keluarganya merupakan suatu hal penting, kita juga perlu mengetahui seberapa jauh laporan mengenai gangguan dalam keluarga konsisten dengan observasi ilmiah vang terkendali. Dalam salah satu dari sedikit studi ,observoeasional yang dilakukan sejauh ini, para orang tua dari anak-anak dengan gangguan makan tidak tampak sangat berbeda dengan orang tua dalam kelompok kontrol. Tidak ada perbedaan antara dua kelompok dalam hal frekuensi pesan-pesan positif dan negatif yang diberikan pada anak-anak mereka, dan para orang tua dari anak-anak dengan gangguan makan lebih membuka diri dibanding kelompok kontrol. Meskipun demikian, para orang tua anak-anak dengan gangguan makan memang kurang memiliki beberapa keterampilan komunikasi, seperti kemampuan untuk meminta klarifikasi atas pernyataan yang tidak jelas (van den Broucke, Vandereycken, & Vertommen, 1995). Studi observasional semacam ini, dipasangkan dengan data mengenai karakteristik keluarga yang teramati, akan membantu menentukan apakah karakteristik keluarga yang aktual atau yang teramati berkaitan dengan gangguan makan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *