Advertisement

Sebelum jaman Dinasti Qin (255-206 SM), kaum intelektual menikmati alam kebebasan yang luas, dan tampak adanya kemajuan di bidang intelektual. Pada masa itu ada seratus maktab pemikiran. Pada ma^a Dinasti Qin, kaisar memak akan kesatuan baik di bidang politik maupun intelektual. Untuk maksud tersebut, Kaisar Shi Haung menetapkan dalam sebuah edik bahwa tulisan seratus maktab yang beredar dalam masyarakat umum dan semua tulisan lain, kecuali tulisan tentang obat-obatan, pertanian, dan ramalan, harus diserahkan kepada pemerintah dan dibakar. Edik ini menyebabkan tidak adanya kebebasan pemikiran. Akibatnya filsafat Cina, terutama Konfusianisme, mengalami kemun-duran dan kehilangan pamor serta vitalitas.

Dinasti Han (205SM-220 M) ditandai dengan kebangkitan kegitan intelektual. Kitab klasik Konfusian dihargai dan dibaca lagi. Pemerintahan Dinasti Han tidak menyetujui metode yang ditempuh oleh Dinasti Qin demi menjaga kesatuan politis. Langkah-langkah itu dijalani oleh kaisar terbesar Dinasti Han, Kaisar Wu (140-87 SM). Ia tidak mencampakkan semua aliran filsafat, namun memilih Konfusianisme sebagai ideologi negara. Inovasi yang dilakukan berkat jasa Dong Zhongshu (179-104 SM), sarjana terbesar pada masa Dinasti Han. Pada tahun 136 SM, ia mengajukan usulan kepada Kaisar agar sistem pendidikan diletakkan atas dasar Konfusianisme. Ia juga yang pencipta sistem ujian Cina yang terkenal. Namun Konfusianisme yang diajukan oleh Dong Zhongshu diambil alih pada awal masa Dinasti Zhou. Dong memang berusaha mengubah yustifikasi dan interpretasi filosofis baru bagi pranata dan Kekaisaran Han. Hasil pemikirannya merupakan salah satu puncak pemikiran Cina.

Advertisement

Konfusianisme Han dibayangi gagasan aliran lain terutama Taoisme. Mohisme gagal mempertahankan hidupnya sejak dilancarkannya pembasmian seratus maktab pada jaman Dinasti Qin. Legalisipe tidak disukai walaupun ikut berjasa mempersatukan kekaisaran dengan aturan ketat dan kekuasaan otokratik. Tetapi secara diam-diam Legaiisme masih bertengger juga dalam pikiran para penguasa. Sebagai saingan terbesar Konfusianisme, Taoisme ternyata menanamkan pengaruh yang besar pada pejabat pemerintah. Mereka menerima doktrin wu wei sebagai kebijakan negara dan okultisme sebagai keyakinan pribadi. Semua aliran pemikiran itu memberi warna tersendiri pada Konfusianisme Han.

Secara umum dapat dikatakan bahwa sarjana Dinasti Han terbagi dua, kubu Kitab Baru dan kubu Kitab Lama. Nama Kitab baru diberikan karena mereka mempunyai kitab klasik Konfusianisme yang ditulis pada berkas baru, sedang nama Kitab Lama diberikan karena mereka memiliki teks kuno yang telah ada sebelum masa “api Qin”, yaitu sebelum terjadi pembakaran buku oleh Dinasti Qin. Kontroversi antara kedua kubu itu merupakan pertikaian terbesar dalam sejarah kehidupan intelektual Cina. Kubu Kitab Baru memandang Konfusius sebagai “raja tak bersinggasana” dan seorang penyelamat dunia seperti yang dinyatakan dalam tulisan apokrif, sedangkan kubu Kitab Lama berpendapat bahwa Konfusius adalah seorang resi yang meneruskan warisan kebudayaan masa lampau dan kemudian menginterpretasikannya secara baru.

Walau Kitab Baru sulit dipahami tetapi justru kitab inilah yang laku di kalangan rakyat jelata. Hal ini disebabkan karena masa itu merupakan masa subur untuk membuat tulisan palsu. Hadiah uang, pangkat kebangsawanan, dan nama mashyur membakar semangat para sarjana untuk sedapat mungkin menggantikan kitab yang terbakar. Pada masa itu orang bersemangat mempelajari Konfusianisme dan senang jika dapat mengungkapkan gagasan atas nama Konfusius.
Absurditas kubu Kitab Baru ada hubungannya dengan memudarnya kubu tersebut pada paro kedua jaman Dinasti Han. Sementara itu pengaruh Taoisme makin meluas bersamaan dengan masuknya Budhisme ke Cina dari India pada abad pertama Masehi. Sejak itu filsafat Cina berkembang lebih segar.

Incoming search terms:

  • definisi kegiatan swinging di cina
  • Kaum intelektual cina

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • definisi kegiatan swinging di cina
  • Kaum intelektual cina