Advertisement

Bila pada kita diceritakan tentang suatu pola budaya yang tidak kita kenal, reaksi yang lazim adalah untuk mencoba membayangkan apakah pola itu akan cocok dalam masyarakat kita sendiri. Misalnya kita mencoba membayangkan apa yang akan terjadi, seandainya kaum wanita dalam masyarakat kita menjalankan pantang hubungan seks sesudah kelahiran misalnya pantang 3 tahun sesudah’ melahirkan anak. Pertanyaan seperti itu adalah tidak wajar, karena kebiasaan suatu kebudayaan tidak dapat dengan begitu saja dimasukkan ke dalam kebudayaan lain. Dalam kontak budaya yang bersangkutan larangan pergaulan seks selama waktu panjang digariskan karena tidak ada pengendali kelahiran yang efektif, sedangkan dalam masyarakat kita sudah dikenal metoda-metoda pengendalian kelahiran. Lagipula, bila larangan pergaulan seks untuk masa panjang diterima maka hal itu akan mempengaruhi beberapa segi penting yang lazim dari kebudayaan kita, seperti tradisi bahwa perkawinan adalah untuk mencapai kebahagiaan suami-isteri. Ini berarti bahwa jika suatu larangan seperti itu dipaksakan ke dalam kebudayaan kita maka kebudayaan itu bukan lagi kebudayaan kita; terlalu banyak segi-segi lain harus diubah untuk menerapkan cara berlaku yang baru itu dalam kebudayaan yang ada. Hal itu disebabkan karena kebudayan kita mewujudkan suatu integrasi.

Bila dikatakan, bahwa suatu kebudayaan merupakan suatu integrasi, maka yang dimaksud adalah bahwa unsur-unsur atau sifat-sifat yang terpadu menjadi suatu kebudayaan bukanlah sekumpulan kebiasaan-kebiasaan yang terkumpul secara acak-acakan saja. Satu alasan mengapa para ahli antropologi menduga bahwa kebudayaan merupakan satu integrasi kelihatannya adalah bahwa sifat itu dianggap bersumber pada sifat adaptif dari kebudayaan. Jika kebiasaan- kebiasaan tertentu lebih adaptif jalani susunan tertentu, maka dapat diduga bahwa gumpalan unsur-unsur budaya itu akan ditemui dalam kaitan yang berhubungan bila ditempatkan dalam keadaan yang bersamaan. Umpamanya, suku Bushmen !Kung, hidup dengan memburu binatang buas dan mengumpulkan tanaman liar. Mereka juga merupakan suku pengembara hidup dalam masyarakat-masyarakat kecil dengan sedikit jumlah penduduk, mempraktekkan sistem saling membagi makanan dari memiliki sedikit harta benda. Unsur-unsur budaya demikian umumnya terdapat secara berkaitan di antara suku-suku yang hidupnya tergantung dari berburu dan pengumpulan makanan. Asosiasi semacam ini menunjukkan bahwa kebudayaan-kebudayaan cenderung untuk berintegrasi. Alasan kedua untuk dugaan bahwa kebudayaan merupakan suatu integrasi ialah karena kebudayaan yang unsur-unsurnya bertentangan satu sama lain sukar, kalau tidak mustahil untuk secara bersamaan mempertahankan yang bertentangan itu. Dalam masyarakat kita, misalnya sudah merupakan kebiasaan bahwa seorang pengendara sepeda motor berhenti jika lampu lalu lintas merah dan jalan terus pada waktu lampu hijau menyala. Tidak mungkin lagi dalam kebudayaan kita untuk misalnya mempunyai peraturan yang mengatakan bahwa kendaraan yang lebih dahulu sampai pada persimpangan jalan di mana ada lampu lalu lintas berhak berjalan lebih dulu. Karena peraturan tersebut saling bertentangan. Jadi, kebudayaan cenderung terdiri dari unsur-unsur yang dapat disesuaikan satu sama lain.

Advertisement

Karena kebudayaan mewujudkan suatu integrasi, maka perubahan pada satu unsur sering menimbulkan pantulan yang dahsyat dan kadang-kadang pantulan itu terjadi pada bidang-bidang yang sama sekali tidak disangka semula. Seandainya seorang pejabat organisasi untuk perkembangan ekonomi menyimpulkan bahwa banyak orang India miskin, terlalu padat penduduknya, umumnya kurang makan, karena agama mereka tidak mengizinkan untuk membunuh dan memakan sapi yang berkeliaran di jalanan. Lalu dia mungkin saja menganjurkan penyembelihan sapi secara besar-besaran dan ternyata satu-satunya manfaat dari tindakan ini adalah pengetahuan bahwa penghapusan dari kebiasaan yang kelihatannya sederhana ini, sangat tidak diinginkan. Jumlah hewan pembajak yang tersedia untuk kaum petani India akan sangat berkurang. Orang-orang India tidak lagi akan mendapatkan kotoran sapi yang digunakan sebagai sumber utama dari bahan bakar untuk memasak dan digunakan sebagai pupuk. Kulit-kulit sapi, tanduk dan kuku sapi tidak dapat dipergunakan untuk membuat pakaian dan alat-alat lain yang diperlukan. Agaknya seandainya orang-orang Hindu tidak lagi dilarang membunuh sapi mungkin timbul masalah lain, yaitu belum cukupnya fasilitas di India pada waktu sekarang untuk mendirikan industri daging besar-besaran. Contoh ini jelas menunjukkan bahwa kebudayaan adalah lebih dari sekedar kumpulan acak-acakan dari kebiasaan-kebiasaan atau norma-norma. Kebudayaan itu merupakan suatu struktur yang tersusun sangat rapi di mana suatu komponen tertentu mempunyai hubungan yang sangat erat dengan banyak komponen lain, dan diperlukan olehnya.

Incoming search terms:

  • contoh integrasi kebudayaan
  • contoh integrasi budaya
  • integrasi budaya
  • integrasi kebudayaan
  • integrasi budaya dan contohnya
  • makalah contoh integrasi kebudayaan
  • integrasi kebudayaan dan contohnya
  • pengertian integrasi kebudayaan
  • contoh integrasi budaya adalah
  • alasan mengapa kebudayaan merupakan suatu integrasi

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • contoh integrasi kebudayaan
  • contoh integrasi budaya
  • integrasi budaya
  • integrasi kebudayaan
  • integrasi budaya dan contohnya
  • makalah contoh integrasi kebudayaan
  • integrasi kebudayaan dan contohnya
  • pengertian integrasi kebudayaan
  • contoh integrasi budaya adalah
  • alasan mengapa kebudayaan merupakan suatu integrasi