Advertisement

KERASNYA HUKUMAN DI BERBAGAI PEMERINTAHAN
Hukuman yang keras lebih cocok bagi pemerintahan sewenang-wenang, yang berasaskan teror, daripada bagi suatu pemerintahan republik, yang bersumber pada kehormatan dan keutamaan.
Dalam pemerintahan moderat, cinta seseorang akan negerinya, rasa malu, dan ketakutan terhadap celaan merupakan motif-motif yang membatasi dan mampu mencegah banyak kejahatan. Di sini hukuman yang terbesar untuk suatu perbuatan jahat ialah dinyatakan salah. Oleh karena itu hukum perdata punya cara yang lebih lunak untuk memperbaiki seseorang, dan tidak perlu terlalu banyak paksaan dan kekerasan.
Dalam negara-negara itu seorang pembuat undang-undang yang baik kurang bernafsu untuk menghukum daripada mencegah kejahatan; ia lebih menaruh perhatian untuk membangkitkan akhlak yang baik daripada menjatuhkan hukuman.
Para penulis Cina tiada hentinya mencatat bahwa makin banyak undang-undang pidana diberlakukan di kerajaan, makin dekat pula mereka pada suatu revolusi, karena hukum bertambah banyak sesuai dengan rusaknya moral masyarakat. Akan merupakan suatu hal yang mudah untuk membuktikan bahwa dalam semua, atau hampir semua pemerintahan di Eropa, hukuman meningkat atau berkurang sesuai dengan kebijakan pemerintahan yang mendukung atau meiekan kebebasan.
Dalam pemerintahan sewenang-wenang, rakyat merasa tidak suka terhadap ketakutan yang lebih besar terhadap kematian daripada penyesalan terhadap kematian itu sendiri. Oleh karena itu, hukuman mereka harus lebih berat. Di negara-negara moderat mereka lebih takut kehilangan nyawa daripada takut terhadap penderitaan yang menyebabkan kematian. Oleh karena itu, hukuman yang sematamata mencabut nyawa mereka sudah memadai.
Orang-orang yang terlalu berbahagia atau terlalu menderita punya kecenderungan sama akan kekerasan, misalnya para saksi pemberat dan para rahib. Hanya keadaan yang tanggung dan campuran antara kemakmuran dan kemalangan yang mempengaruhi kita untuk bersikap lunak dan kasihan.
Apa yang kita praktekkan secara perseorangan juga dapat diamati sehubungan dengan bangsa-bangsa. Di negeri-negeri yang dihuni orang-orang biadab yang hidupnya sangat keras dan di dalam pemerintahan sewenang-wenang, di mana nasib baik hanya memihak pada satu orang, sementara warga negara yang sengsara menemui nasib buruk, rakyatnya sama saja kejamnya. Kemurahan hati meraja dalam pemerintahan yang moderat, yang lunak.
Apabila kita membaca sejarah dan menemukan kekejaman para sultan dalam menyelenggarakan keadilan, kita gemetar karena ketakutan pada saat membayangkan penderitaan manusia.

Advertisement
Advertisement