Advertisement

KODRAT DAN HUKUM PERBUATAN – Di kalangan penganut dan penghayat Kepercayaan terhadap Tu­han Yang Maha Esa perilaku tidak dapat dilepaskan dari sifat kodrat hidup yang berlaku bagi kehidupan manusia. Di satu pihak kodrat membatasi keadaan se­mua perwujudan yang terkena rusak dan menetapkan ganjaran sesuai perbuatan manusia. Di lain pihak ko­drat mendorong manusia untuk senantiasa berusaha mencapai tingkat kehidupan yang lebih tinggi dan le­bih luhur menuju ke arah kedewasaannya. Arah yang ditempuh penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah mencapai kesempurnaan hi­dup. Bahkan setiap makhluk hidup menuju ke arah itu, disadari atau tidak. Yang kecil atau lemah selalu ter­tarik dan akhirya melekat pada yang besar atau kuat.

Penggabungan kedua unsur itu dalam perilaku penghayatan hidup dilambangkan dengan “manung- galing” atau “jumbuhing kawula lan Gusti” yang artinya bersatu-padunya jiwa manusia dengan Dzat Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini sejalan dengan penger­tian sifat Tuhan Yang Maha Adil dan Maha Kasih.

Advertisement

Di satu pihak manusia diadili oleh kodrat terhadap perbuatannya, di lain pihak peluang pengampunan te­tap tersedia bagi manusia yang bertobat kepada ke­kuasaan yang menciptakan kodrat. Dalam hal itu ma­nusia dapat membebaskan diri dari kodrat dan masuk ke dalam kasih Tuhan.

Advertisement