Advertisement

Pada mulanya para ahli teori disonansi bereaksi cemas terhadap penginterpretasian kembali dari Bem. Eksperimen-eksperimen awal, yang dirancang dengan cermat, dan eksperimen bervariasi yang telah mereka lakukan, sekarang diinterpretasi secara salah sebagai sesuatu yang mencerminkan proses yang asing. Respons, awal mereka adalah berusaha merancang eksperimen yang bisa menyanggah interpretasi Bem. Penyanggahan ini ternyata sangat sulit. Dewasa ini, para ahli psikologi sosial mengasumsikan bahwa kedua proses itu terjadi dalam beberapa kesempatan. Pertanyaan yang sesungguhnya adalah: Dalam kondisi apakah yang satu mempunyai kemungkinan lebih besar untuk terjadi ketimbang yang lainnya? Proses persepsi-diri mempunyai kemungkinan paling besar untuk terjadi pada saat sikap orang itu sendiri tidak jelas dan ambigu Tidaklah mengherankan bila kita mempunyai sikap terhadap tugas laboratorium yang baru dan belum dikenal berdasarkan persepsi kita tentang perilaku kita dalam situasi eksperimental. Akan lebih mengherankan bila kita menggunakan-persepsi-diri untuk menetapkan sikap kita terhadap makanan kesenangan kita, seperti bir atau pizza atau udang bakar. Kita tidak perlu merasa bahwa kita mengeluarkan air ludah atau melihat kita sendiri menelan setiap potong makanan untuk mengetahui bahwa kita menyukai makanan itu; kita mengetahui hal itu pada saat kita memikirkannya.

Chaiken dan Baldwin (1981) menguji hipo-tesis bahwa teori persepsi-diri hanya berfungsi bila sebelumnya orang tidak memiliki sikap yang terdefinisi dengan baik. Mula-mula mereka memisahkan subjek yang mempunyai sikap yang kuat dan konsisten terhadap ekologi dan lingkungan dari subjek yang mempunyai sikap yang relatif tidak konsisten. Kemudian mereka menempatkan semua subjek melalui prosedur yang dikembangkan oleh Salancik dan Conway (1975) dan hal ini melibatkan pemanipulasian persepsi subjek terhadap perilaku mereka sendiri dengan menanyakan pada beberapa subjek apakah mereka melakukan sesuatu dengan “kadang-kadang” atau tidak, dan pada subjek lain apakah mereka melakukan hal itu dengan “seringkali” atau tidak. Bila proses persepsi-diri berlangsung, variasi dalam persepsi terhadap perilaku diri sendiri seharusnya menimbulkan perbedaan dalam kesejajaran dengan sikap yang dipersepsi sendiri. Orang yang mengatakan bahwa mereka “kadang-kadang jorok” seyogianya mempersepsikan bahwa mereka memiliki sikap prolingkungan. Sikap ini diukur dalam kasus tentang kekuatan nuklir, energi matahari, botol minuman yang tidak dapat difungsikan kembali, kaleng aerosol, dan sebagainya. Hipotesis tersebut, bahwa proses persepsi- diri hanya berlangsung pada orang-orang yang sebelumnya tidak mempunyai sikap yang kuat dan terdefinisi dengan baik, sangat didukung. Di antara subjek yang sebelumnya mempunyai sikap yang berkonsistensi tinggi, manipulasi perilaku ahli lingkungan yang dilaporkan sendiri tidak memiliki efek yang berarti terhadap sikap, seperti terlihat pada baris atas. Namun, di antara subjek yang sikapnya relar tif tidak konsisten, pemanipulasian itu menunjukkan efek besar yang diprediksi oleh teori persepsi-diri dari Bem: Orang yang telah diarahkan untuk menggambarkan perilaku mereka sebagai sesuatu yang pro-lingkungan memaknakan dirinya sendiri sebagai orang yang lebih bersikap pro-lingkungan ketimbang mereka yang telah diarahkan untuk menggambarkan perilaku mereka sebagai sesuatu yang lebih bersikap anti-lingkungan.

Advertisement

Kesimpulannya adalah bahwa “laporan persepsi-diri tentang ekspresi sikap terutama berguna untuk individu “yang sebelumnya tidak memiliki sikap yang terdefinisi dengan baik terhadap objek sikap yang menjadi sasaran ….” Penelitian selanjutnya makin mengembangkan kesimpulan ini. Sikap sebelumnya yang terdefinisi dengan baik mungkin tidak diperoleh karena individu memiliki keyakinan sebelumnya yang relatif sedikit, atau memiliki pengalaman sebelumnya yang relatif sedikit tentang masalah itu (Wood, 1982). Atau mungkin disebabkan oleh karena orang tidak memiliki data indera sesaat yang relevan dengan masalah tersebut seperti, sebagai contoh, tidak pernah merasakan produk makaii&n yang dicoba untuk dipilih (Tybout & Scott, 1983). Dalam kondisi sebaliknya, di mana orang mempunyai sikap sebelumnya yang terdefinisi dengan baik, kita dapat menduga bahwa disonansi menjadi lebih penting daripada proses persepsi-diri.

Advertisement