perception person

Konsep sosiologi tentang person dipenuhi pandangan yang kompleks dan beraneka-ragam. Pertama, semua masyarakat memiliki gagasan umum tentang konstruksi individu dalam umat manusia dan berbagai alasan yang mendasari tindakan mereka. Dengan kata lain, setiap masyarakat memiliki pandangannya sendiri tentang psikologi manusia. Kedua, di setiap masyarakat berbagai ide psikologi ini tidak dapat dilepaskan dari evaluasi moral mengenai apa yang seharusnya dan tidak seharusnya dilakukan terutama antara satu individu dengan individu lain. Pada dasarnya, setiap masyarakat memiliki sistem moral dan hukum. Kumpulan ide dan nilai-nilai ini kombinasi antara psikologi dan moralitas  menjadi bagian dari konsep tentang person. Kebanyakan masyarakat mempunyai perbedaan konsep tentang person sebagaimana yang dijelaskan oleh antropolog, ahli sejarah, ahli sosiologi yang banyak mengkaji masalah-masalah budaya dan tahapan-tahapan sejarah.

Pentingnya pengertian tentang person serta dinamika sejarah dan budayanya disadari pertama kalinya oleh Durkheim dan koleganya Mauss pada awal abad ke-20. Mereka menulis bahwa “person” sebagai suatu kategori pemikiran, yang diartikan sebagai hal fundamental dan mutlak dari kesadaran manusia, suatu kerangka yang tidak mungkin tidak ada dalam pemikiran, seperti halnya kategori waktu dan ruang. Dalam pandangan ini, tidak mungkin suatu masyarakat tidak memiliki konsep tentang person, karena gagasan semacam ini membuat kita saling memahami dan bertanggung jawab moral terhadap orang lain sehingga terciptalah masyarakat manusia yang sangat berbeda dengan kumpulan acak dari individu-individu autistik. Durkheim dan Mauss berpendapat bahwa konsep person sangat berbeda dari konsep tentang individu manusia dalam kerangka biologi atau dalam kerangka unsur-unsur keunikannya. Ke-personan (personhood) menyoroti ciri moral masyarakat berkaitan dengan akuntabilitas dan tanggung jawab mereka dalam masyarakat, berkaitan juga dengan kapasitas mereka untuk meraih akuntabilitas dan tanggung jawab tersebut, dan karena itu berkaitan juga dengan pengertian fundamental yang menjadi tumpuan manusia dalam pemikiran dan perasaan mereka sebagai makhluk dari masyarakatnya dan masa lalunya.

Berubahnya pengertian manusia dari waktu ke waktu dan antara satu tempat dengan tempat lainnya menyebabkan konsep tersebut menjadi sarana yang tepat untuk perbandingan analisis budaya dan sosial. Masyarakat mempunyai perbedaan konsep mengenai, misalnya, siapa yang punya kualitas terbaik ditinjau dari kepersonan di antara masyarakat Lugraba dari Uganda dan beberapa masyarakat Afrika lainnya, laki-laki dianggap memiliki kemampuan lebih untuk memberikan penilaian moral (moral judgement) dan kontrol diri (self-control) sehingga mereka menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab. Karenanya hanya kaum lelaki merupakan atau dapat menjadi, karena penilaian dianggap terus meningkat seiring bertambahnya sampai matiperson seutuhnya (full persons), dan konsepsi ini memiliki pengaruh penting terhadap cara masyarakat itu diatur dan terhadap distribusi kewajiban dan kesempatan politik dan ekonomi. Di sisi lain sebagian besar masyarakat Atlantik Utara, kepersonan itu dianugerahkan secara dini, saat lahir atau malah sebelumnya, kepada laki-laki dan perempuan. Namun, jika konsep Lugraba tentang kepersonan menekankan tanggung jawab terhadap orang lain, maka masyarakat Atlantik Utara cenderung menekankan hak-hak person terhadap berbagai kebutuhan individu. Sebagai contoh, untuk meraih kebahagiaan individual. Oleh karena itu, kepersonan menurut konsep Atlantik Utara dilingkupi dengan bentuk kehidupan ekonomi dan politik yang sangat berbeda, artinya: bentuk kehidupan ini yang seharusnya sebagai perwujudan tanggung jawab sosial dan pendapat bahwa kelompok sosial harus di atas kepentingan individu menjadi kurang berkembang atau problematis.