Kritik semiotika terhadap ilmu pengetahuan rasional

Para ahli semiotika sering membuat klaim yang lebih keras dan keikutsertaan yang lebih politis ketimbang kolega mereka dalam disiplin yang mendasari metode mereka dalam rasionalisme carterian. Sumber dari hal ini terlihat klaim yang paradoks yang bisa ditemukan dalam kontras antara yang menandai/yang ditandai sebagai basis dari semiotika, dan hubungan subyek/obyek yang menjadi basis bagi ilmu pengetahuan rasional. Memahami kritik semiotika terhadap rasionalisme (dan turunnya, positivisme), oposisi subyek/obyek mengambil bentuk perintah/ keharusan untuk membangun hirarki di mana subyektivitas ilmu pengetahuan mendominasi obyek empiriknya. Ini benar-benar formulasi yang innocent (terlalu sampel dan tampak idiot), di mana energi intelektual yang besar terlepaskan, tidak ada pelindung yang menangkal ekses dan penyalahgunaan. Secara spesifik, pembagian subyek/obyek adalah justifikasi filosofis terakhir untuk sekelompok atau kelas (sebagai contoh, Barat atau Timur) untuk mengklaim hak mendominasi yang lain, untuk menegaskan bahwa itu adalah makna-makna yang mereka berikan, sebagai satu-satunya makna yang tepat dari jajaran makna-makna yang mungkin. Tentu saja sangat mungkin untuk melanjutkan pemahaman ilmu pengetahuan dan pemikiran sosial dengan penyimpangan tendesi intelektual dan secara tepat mencocokkan ideologi sosial dengan teori ilmu pengetahuan. Tapi kesuksesan pendekatan ini tidak bisa memberikan itu tanpa perkiraan. Dari perspektif yang sempurna tentang hubungan yang menandai/yang ditandai, itu lebih terlihat sebagai moral dan posisi politik ketimbangan model analisa yang tepat.