Advertisement

Altruisme yang ditujukan kepada sanak-keluarga didukung karena sanak-saudara memiliki peluang yang tinggi untuk membawa gen-gen yang menentukan sifat tidak egois dari para altruis. Ini artinya, jika hilangnya kekuatan altruis diimbangi dengan menguatnya sanak-saudaranya (dikurangi peluang bahwa gen-gen tersebut dibawa oleh sanak-saudara itu), gen-gen yang mendorong individu-individu untuk berlaku altruistis akan turun pada mereka semua dan meluas kepada populasi. Sifat universal dari mendahulukan sanak-keluarga ini barangkali merupakan hasil dari kekuatan-kekuatan evolusi semacam itu. Istilah ini merujuk pada tindakan-tindakan kebajikan. Para orang tua mengorbankan diri sendiri demi anak-anaknya. Pemberian dan pembagian hadiah sifatnya universal. Orang menolong mereka yang dirundung malang, mendonorkan darah, dan bahkan organ tubuh kepada orang lain selagi mereka masih hidup. Dalam Perang Dunia Kedua sejumlah orang nekad menyembunyikan kaum Yahudi dari kejaran NAZI dengan resiko nyawa mereka sendiri. Di tahun 1981 para pemogok makan IRA tewas dalam mempertahankan tuntutannya. Teori-teori tentang asal-usul perilaku altruistik semacam itu, yakni tindakan seseorang yang dengan rela mengorbankan sesuatu untuk orang lain, telah muncul dari pokok-pokok evolusi maupun budaya. Evolusi Darwin umumnya disamakan dengan persaingan untuk mempertahankan eksistensi, sedangkan teori-teori yang muncul sejak 1960-an memperlihatkan bahwa altruisme terhadap sanak-keluarga (Grafen 1991; Hamilton 1964) dan altruisme timbal-balik (kerjasama) antara individu-individu yang tidak punya hubungan (Axelrod 1984) sama-sama didukung oleh seleksi alam dalam kondisi-kondisi tertentu. Masalah bagi evolusi altruisme di antara individu-individu yang tidak berhubungan darah adalah adanya sifat curang, di mana ada pihak yang menerima tanpa memberi sama sekali, Namun bila kecurangan itu bisa dihukum, dengan bantuan analisis teori permainan, akan terlihat bahwa pembalasan yang setimpal, di mana altruisme dibalas dengan altruisme dan kecurangan dibalas dengan kecurangan, bisa menghilangkan egoisme (Axelrod 1984). Bila setiap orang bisa membalas secara setimpal maka egoisme tidak pernah muncul. Namun analisis ini tak bisa menjelaskan altruisme di antara mereka yang asing satu sama lain, karena balas-membalas yang diramalkan itu hanya bisa terjadi kalau mereka sering berinteraksi. Model yang lebih umum adalah model di mana pengorbanan diri diturunkan lewat budaya dan menguntungkan kelompok sosial tersebut. Di sini anak-anak mengambil perilaku orang dewasa yang paling umum sebagai model peran. Konformisme semacam ini sendiri diuntungkan oleh seleksi alam (Boyd dan Richerson dalam HindedanGroebel 1991). Model ini cocok dengan kecenderungan yang terlihat di mana orang mendahulukan kelompok sosialnya sendiri, dan dengan gejala etnosentrisme dan xenofobia

Model-model ini tidak menjawab pertanyaan psikologis tentang apa yang memotivasi seseorang untuk berlaku altruistik. Pertanyaan ini menjadi pokok studi tentang sifat manusia sejak zaman dulu. Para filsuf tidak pernah sepakat apakah dorongan yang berakar dalam tindakan manusia bersifat egoistis atau aitruistis dan akibatnya terhadap aneka kemungkinan kewajiban etis dan politis. Dalam pandangan heaonistis. semua perilaku dimotivasi oleh hasrat menghindari rasa sakit dan mengejar rasa senang, sehingga altruisme pada hakekatnya bersifat egois Akan tetapi, jika pendirian yang dipegang adalah bahwasanya tercapainya tujuan adalah hai yang menyenangkan. maka hedonisme justru menjelaskan altruisme namun tidak melihat hai-hai menarik di mana dalam hal Ini tujuan adalah mendcrg individu yang lain, dan tujuan itu tetap tercapai kendati dengan menanggung selurniah reran, sebagai ongkosnya. Pertanyaan yang rnasn teran sulit dijawab adalah Kecenderungan dalam masyarakat-masyarakat Barat ditumbuhkan seiak kanak- kanak dengan pengembangan, empat, pengajaran. moral dan kemampuan melihat dari sudut- pandang orang lain. Pendidikan semacam ini meninggalkan bekas terutama pada anak-anak yang orang-tuanya penuh perhatian dan mendukung, yang memiliki standar moral yang jelas, mengarahkan mereka tempa menggunakan cara hukuman, mendorong sikap tanggung-jawab. dan orang tua itu sendiri juga altruistik. Namun mekanisme semacam ini tidaklah universal sifatnya: sebagai contoh, pada masyarakat. Sebuah kelompok etnik Eksimo, kebaikan diajarkan sebagai respon terhadap rasa takut, mencerminkan bahwa orang-orang dewasanya berusaha mengurangi potensi pertentangan dengan cara menakut-nakuti. Di antara berbagai budaya, norma-norma perilaku altruistik tidaklah sama misalnya, individualisme masyarakat Barat bertolak-belakang dengan kolektivisme Jepang dan Cina dan tumbuh-berkembang sesuai dengan apa yang diajarkan semasa kanak-kanak. Altruisme agaknya lebih dihargai dalam masyarakat egalitarian berskala kecil, di mana persaingan memperebutkan sumber daya tidaklah ketat atau lingkungan alamnya sedemikian rupa sehingga memaksa semua orang bekerjasama.

Advertisement

Incoming search terms:

  • pengertian altruisme
  • arti altruisme
  • MAKSUD kalimat altruistis
  • definisi altruisme
  • mekanisme defensi altruisme
  • contoh bentuk bentuk mekanisme defenisi altruisme
  • arti altruistik
  • apa itu sifat altruis
  • altruistik artinya
  • altruistik arti

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian altruisme
  • arti altruisme
  • MAKSUD kalimat altruistis
  • definisi altruisme
  • mekanisme defensi altruisme
  • contoh bentuk bentuk mekanisme defenisi altruisme
  • arti altruistik
  • apa itu sifat altruis
  • altruistik artinya
  • altruistik arti