Advertisement

Suatu kenyataan yang tidak dapat luput dari perhatian setiap orang adalah pengalamannya bahwa dalam masyarakat manusia yang bagaimanapun bentuknya, selalu terdapat suatu bahasa yang cukup rumit susunannya. “Antara jeritan yang paling jelas dari hewan mengajak kawannya berkencan atau memberi peringatan atau menunjukkan marahnya, dengan perkataan manusia yang paling tak mengandung arti, terdapat …. tahapan evolusi yang luas.” Bahasa berbeda sifatnya dari semua sistem komunikasi antara hewan, berhubung dengan bahasa bersifat simbolis; artinya suatu perkataan mampu melambangkan arti apa pun, walaupun hal atau barang yang dilambangkan artinya oleh kata itu tidak hadir.

Hal itu mengandung implikasi yang hebat untuk pewarisan kebudayaan. Ini berarti bahwa orang tua manusia misalnya dapat mengatakan kepada anaknya, setelah anak dapat memahami percakapan sederhana bahwa, ular berbahaya dan harus dihindarkan. Si orang tua itu dapat menjelaskan secara mendetil sekali mengenai sifat-sifat ular, dia memerinci bagaimana panjangnya, besarnya, warnanya, bentuknya dan cara-caranya bergerak. Dia dapat menunjukkan tempat-tempat di mana anaknya mungkin menemukan ular dan menerangkan kepadanya bagaimana menghindarkannya. Jadi tanpa pernah melihat ular, anak itu dapat menyimpan keterangan lisan itu dalam ingatannya. Sekiranya dia menemukan ular, ia mungkin teringat akan kata yang menjadi perlambang untuk binatang itu, dan juga teringat pada keterangan yang berhubungan dengan itu dan dengan demikian menjauhkan diri dari bahaya.

Advertisement

Jika kita tidak mempunyai bahasa yang simbolis, ibu-bapa harus menunggu dahulu sampai anaknya benar-benar melihat seekor ular dan melalui contoh-contoh, barulah dapat ditunjukkannya bahwa mahluk semacam itu harus dijauhi. Tanpa bahasa kita tidak dapat meneruskan atau menerima keterangan-keterangan secara simbolis dan dengan demikian tidak dapat menjadi pewaris dari suatu kebudayaan yang demikian kaya dan demikian aneka ragamnya.

Advertisement