Advertisement

Istilah estetika berasal dari bahasa Latin “aestheticus” atau bahasa Yunani “aestheticos” yang bersumber dari kata “aisthe” yang berarti merasa. Aestetika dapat didefinisikan sebagai susunan bagian dari sesuatu yang mengandung pola, pola mana mempersatukan bagian-bagian tersebut yang mengandung keselarasan dari unsur-unsurnya, sehingga menimbulkan keindahan.

Dari definisi di atas dapat disimak bahwa estetika menyangkut perasaan, dan perasaan ini adalah perasaan indah. Nilai indah ini tidak semata-mata mengenai bentuk tetapi juga isi atau makna yang dikandungnya. Mengenai hal ini dapat diambil contoh mengenai wanita cantik dan wanita yang indah, wanita cantik hanya menyenangkan untuk dipandang mata, tetapi wanita indah selain mempesona, juga mengungkapkan suatu makna. Jadi wanita yang indah adalah wanita yang cantik, tetapi wanita yang cantik belum tentu wanita yang indah. Wanita cantik hanya menyenangkan untuk dilihat bentuknya, wanita yang indah bukan hanya bentuknya yang menyenangkan untuk dilihat, tetapi daripadanya timbul banyak hal yang dapat dinikmati dengan perasaan menyenangkan hati. (Kattsoff, 1986: 381).

Advertisement

Immanuel Kant mengatakan bahwa estetika tidak berkaitan dengan bendanya, melainkan kesenangan yang dirasakan ketika melihat benda itu. Di situ tidak terdapat karakteristik yang objektif yang disebut keindahan sebagai karya yang berhasil, dan tidak ada konsep mental yang membuat keindahan dapat diketahui, tetapi semata-mata hanya perasaan senang melihat sesuatu, misalnya karya seni; dan perasaan ini dapat dikomunikasikan secara universal, tidak secara pribadi. Seseorang menilai suatu objek sebagai hal yang indah, sebagian atas dasar bahwa pemahaman materi dalam khayalannya tidak diorganisasikan tidak secara utuh, tetapi tersusun dengan aturan yang tidak terlukiskan atau tak terkatakan yang membawa imaginasi dan pengertian kepada suatu hubungan yang harmonis. Di sini tidak terdapat konsep yang pasti yang membuat keterpautan ini bisa diketahui. (Anwar, 1985: 29). Benedotte Crose. menyatakan bahwa masalah estetika adalah masalah persepsi. Persepsi estetika adalah suatu jenis pengetahuan, tidak hanya semata-mata suatu fenomena yang memuaskan kondisi pengetahuan secara formal.

Menurut Crose ada dua jenis pengetahuan: pengetahuan logis dan pengetahuan intuitif. Pengetahuan logis berhubungan dengan hal yang dapat diulangi (scientific object), sedangkan pengetahuan intuitif berkaitan dengan hal yang unik dan individual (aesthetic object).

Gagasan kreativitas menyangkut keunikan. Sebagai akibatnya pengetahuan estetis tidak bisa konseptual, melainkan bersifat segera dan langsung. Juga pengertian estetis tidak bisa merupakan pilihan atau bagian. Suatu bagian dari lukisan, sajak atau komposisi musik hanya mempunyai makna apabila berhubungan dengan keseluruhan. Jadi, estetika dipersepsikan secara intuitif.

Juga John Dewey membedakan dua sumber pengetahuan yang ber-kaitan dengan estetika ini, yakni pengalaman dan refleksi. Ditegaskannya bahwa pengertian estetika berkaitan dengan pengalaman, tetapi tidak semua pengalaman bersifat estetis. Beberapa pengalaman cenderung menjemukan, tidak lengkap, dan tanpa tujuan, sedangkan pengalaman estetis bercirikan suatu minat yang intens, yang berasal dari kepuasan dan kelengkapan. Fenomena ini berkaitan dengan partisipasi aktif dari orang yang mempersepsi atau yang mencipta, bersama-sama dengan kualitas dari objek yang dipersepsi. Demikian pendapat para ahli filsafat mengenai estetika. Bagi se-orang komunikator, lebih-lebih komunikator media massa, memahami estetika ini amat penting, oleh karena efek yang diharapkan dari khalayak tidak hanya efek kognitif dan efek konatif, tetapi juga efek afektif dengan mana estetika sangat berkaitan.

Lebih jelas dikatakan oleh Louis O. Kattsoff sebagai berikut:

“Gambar indah mengenai wanita jelek dapat membawa pesan tertentu atau mengandung makna tertentu. Begitulah yang disebut karya seni. Sedangkan gambar yang jelek mengenai wanita yang indah tak mungkin disebut karya seni, karena tidak dapat mengungkapkan keindahan wanita tersebut; artinya yang indah itu hanya wanitanya, bukan gambarnya. Untuk dapat dinamakan karya seni, maka setidak-tidaknya dalam salah satu seginya harus terdapat keindahan, di samping gambar itu harus juga mengandung makna meskipun sekadar bersifat simbolis atau impresionistis” (Kattsoff, 1986: 383). Oleh karena itu pula Werner J. Severin dan James, W. Tankard Jr. dalam bukunya “Communication Theories, Origins, Methods, Uses” mengatakan bahwa komunikasi massa adalah sebagian keterampilan, sebagian seni, dan sebagian ilmu. Untuk jelasnya, Severin dan Tankard menyatakan sebagai berikut :

“Mass communication is part skill, part art, and part science. It is a skill in the sense that it involves certain fundamental learnable thechniques such as focussing a television camera, operating a tape recorder, and taking notes during an interview. It is an art in the sense that it involves creative challenges such as writing a script for a television documentary, developing a pleasing and eyecatching layout for a magazine advertisement, and coming up with a catchy, hardhitting lead for a news story. It is a science in the sense that certain verifiable principles involved in making communication work can be used to achieve specific goals more effectively”. (Severin & Tankard, 1992 : 3).

(Komunikasi massa adalah sebagian keterampilan, sebagian seni, sebagian ilmu. la adalah keterampilan dalam pengertian meliputi teknik-teknik tertentu yang secara fundamental dapat dipelajari, seperti memfokuskan kamera televisi, mengoperasikan perekam pita, dan mencatat ketika berwawancara, la adalah seni dalam pengertian meliputi tantangan-tantangan kreatif seperti menulis naskah untuk acara dokumenter televisi, mengembangkan tata letak yang menyenangkan dan memikat untuk iklan majalah, dan menampilkan teras berita yang menarik dan mengena untuk kisah berita, la adalah ilmu dalam pengertian mencakup asas-asas yang dapat diuji dalam membuat karya komunikasi dapat dipergunakan untuk mencapai tujuan khusus lebih efektif).

Pesan apa pun yang dikomunikasikan melalui media apapun harus ditata sedemikian rupa sehingga mampu memikat perhatian khalayak. Di sini faktor estetika amat mendukung.

Incoming search terms:

  • arti estetika
  • pengertian estetika
  • Makna estetika
  • definisi estetika
  • estetika adalah
  • apa itu estetika
  • estetika artinya
  • maksud estetika
  • arti kata estetika
  • estetika itu apa?

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • arti estetika
  • pengertian estetika
  • Makna estetika
  • definisi estetika
  • estetika adalah
  • apa itu estetika
  • estetika artinya
  • maksud estetika
  • arti kata estetika
  • estetika itu apa?