Advertisement

Apakah cerita ini hanya suatu cerita kegagalan dan kekalahan, suatu kisah kehidupan yang sia-sia?

Bukan, sebab kehidupan Zhivago adalah suatu kesaksian, suatu kesaksian mengenai kesanggupan intrinsik manusia untuk hidup bebas. Ia mengingatkan kita bahwa di samping hidup “bersejarah”, di samping hidup politik, masih ada suatu cara hidup lain, yang berdasar atas pencarian kebenaran yang diliputi oleh cinta kepada hidup, suatu gaya hidup yang bersumber pada kebenaran dan keindahan.

Advertisement

Man is born to life, not to prepare for life. Life itself, the phenomenon of life, the gift of life is so breathtakingly serious. . . .

Reshaping life! People who can say that have never understood a thing about life they have never felt breath, its heartbeat,however much they may have seen or done. They look on it as a lump of raw material that needs to be processed by them, to be ennobled by their touch. But life is never a material, a substance to be molded…. Life is constantly renewing and remaking and changing and transfiguring itself. …

(Manusia dilahirkan buat hidup, bukan untuk bersiap-siap menghadapi hidup. Hidup itu sendiri, gejala hidup, anugerah hidup bukan main seriusnya….

Membentuk kembali hidup! Orang vang bisa mengatakan itu tak pernah mengerti apa pun tentang hidup mereka itu, tak pernah bisa msrasakan embusan nafas, detakan jantungnya, betapa pun seringnya hal itu mereka lihat atau lakukan. Mereka hanya melihatnya sebagai segumpal bahan mentah yang perlu diolah oleh mereka, dibuat berharga dengan sentuhan mereka. Tetapi, hidup bukanlah suatu bahan atau substansi untuk dibentuk. Hidup senantiasa membarui, menciptakan kembali, mengubah dan meningkatkan dirinya sendiri. . . .) Dan suatu kutipan lain:

The truth is only sought by individuals, and they break with those who do not love it enough. How many things in the world deserve our loyalty? Very few indeed. I think one should be loyal to immortality which is another word for life, a stronger word for it. (Kebenaran hanya dicari oleh perseorangan, dan mereka ini memutuskan hubungan dengan orang-orang yang tidak cukup mencintainya. Berapa banyak di dunia ini yang berhak atas kesetiaan kita? Sungguh sedikit sekali. Saya kira orang harus setia kepada keabadian, yang merupakan kata lain dari hidup, kata yang justeru lebih kuat untuk itu.)

Kedua cuplikan ini menciptakan kesan kuat mengenai suasana cerita. Dan juga Lara menyatakannya sambil duduk di samping mayat Dr. Zhivago, merenungkan percintaannya:

The riddle of life, the riddle of death, the beauty of genius, the beauty of loving that, yes we understood. As for such petty trifles as reshaping the world these things, no thank you, they are not for us. (Teka-teki hidup, teka-teki kematian, keindahan jenius, keindahan mencintainya, ya, kita sudah mengerti. Adapun mengenai tetek-bengek seperti membentuk kembali dunia hal-hal demikian, maaf, bukanlah buat kita.)

Cerita ini oleh orang banyak dianggap dan dipuji atau dikutuk sebagai suatu karangan anti-Soviet. Hal itu harus disesalkan. Sebab bukan demikianlah sifatnya. Paling-paling dapat dikatakan bahwa cerita ini bersifat non-Soviet. Sebenarnyalah nilai cerita tak dapat ditangkap dari sudut penglihatan anti atau pro-Soviet saja. Begitu pula ia bukan bersifat antirevolusi. Ia hanya membuka mata kita pada dimensi manusia di dalam proses sejarah.

Jika ia merupakan hukuman. ialah hukuman atas manusia politik sebagai manusia politik saja. Dan justru pada dewasa ini, pesan Dr. Zhivago ini ada artinya bagi kita di negeri ini.

Dr. Zhivago sebenarnya mengandung suatu peringatan kepada umat manusia seluruhnya. Ia memperingatkan bahwa kehidupan manusia itu tak dapat dicakupi oleh politik atau filsafat politik saja. Tidak peduli politik apa dan filsafat mana. Hidup itu senantiasa terelakkan dari perangkap akal manusia.

Sebab filsafat politik bersandar pada suatu pengertian tentang hidup, dan ia bukan hidup itu sendiri.

Esensi hidup itu tak dapat tertuangkan dalam bentuk kata atau pengertian. Ia hanya dapat dialami dalam “rasa”. Setiap pengertian intelektual dan setiap susunan pengertian dalam suatu filsafat tertentu merupakan suatu reduksi kehidupan itu sendiri.

iMaka, apabila berdasarkan suatu filsafat politik kita, dari atas hendak mengatur kehidupan manusia dalam keseluruhannya, atau jika dalam kita berpolitik, kita mengklaim memiliki kebenaran yang mutlak, kita sebenarnya telah menjalankan suatu keangkuhan terhadap hidup itu. Pesan Dr. Zhivago sebaliknya, yaitu yang dapat disebut dengan suatu istilah yang tidak dipakai oleh Pasternak sendiri: humility of the mincl, akal yang berendah haii.

Ia menggambarkan proses sejarah bukan sebagai suatu perkembangan unilinear, menurut garis-garis lurus yang dapat ditentukan sebeiumnya o!eh kaum revolusioner, melainkan sebagai suatu proses yang mahadahsyat, yang mengandung kekuatan-kekuatan yang dahsyat pula, yang tak selalu dan tak seluruhnya dapat dikendalikan menurut kehendak manusia yang impersonal sifatnya, yang jauh lebih besar proporsinya daripada orang-orang yang merasa mengendalikan dan memimpinnya. Tetapi. bertepatan dengan itu juga menegakkan kembali kompleksitas dan kekayaan hidup manusia, dan ia membandingkannya dengan reduksi kehidupan itu sampai menjadi teori-teori politik belaka.

Di dalam cerita Zhivago dan Lara itu, seorang tokoh berkata:

Never, never not even in their moments of richest and wildest happiness, had they lost the sense of what is highest and most ravishing joy in the whole universe, its form, its beauty, the feeling of their own belonging to it, being part of it.

This compatibility of the whole was the breath of life to them. And consequently they were unattracted to the modern fashion of coddling man, excelting him above the rest of nature and worshipping him.

A sociology built on this false premise and served up as politics, struck them as pathetically home-made and amateurish beyond their com-prehension.

(Tidak, tidak pernah, bahkan di saat-saat kebahagiaan yang memuncak dan meluap mereka tak pernah kehilangan rasa gembira yang paling agung dan menggairahkan di seluruh alam raya, bentuknya, keindahannya, perasaan terpaut kepadanya, menjadi bagian daripadanya.

Keseluruhan yang serasi ini merupakan napas hidup mereka. Karenanya mereka tak tertarik kepada cara modern yang menyanjung manusia, mengagungkannya melebihi seluruh alam dan memujanya. Sosiologi yang didasarkan atas premis palsu ini dan disajikan sebagai ilmu politik, mereka anggap sebagai bikinan sendiri yang tak bermutu sehingga tak bisa mereka pahami.)

Tentu semuanya ini tidak berarti “janganlah berpolitik”, tetapi merupakan ajakan supaya dalam usaha kita untuk membawa perkembangan masyarakat ke suatu arah tertentu, jangan kita lupakan manusia sendiri, manusia kongkret. Sebab manusia kongkret, kebahagiaan serta kegirangan hidupnya, ialah satu-satunya alasan kita dalam kita berpolitik, yang dapat membenarkan kita di dalam berpolitik, dan yang merupakan ukuran terakhir bagi kita. Janganlah kita sampai secara membabi buta menggunakan these pitiless remedies invented in the name of pity (obat tak berbelaskasihan yang ditemukan atas nama belas kasihan).

Atau seperti juga dikatakan pada suatu tempat tentang seorang revolusioner:

In order good to others he would have needed besides the principles which filled his, an unprinciples heart the kind of heart that knows of no general cases, but only of particular ones, and has the greatnes of small actions.

(Untuk berbuat baik kepada orang lain ia seharusnya membutuhkan, di samping prinsip-prinsip yang memenuhinya, sebuah hati yang tak berprinsip, macam hati yang tak tahu apa-apa tentang kasus umum, tetapi hanya tahu kasus tertentu, dan memiliki kebesaran tindakantindakan kecil.)

Advertisement