Advertisement

Menurut B.S. Mardiatmadja (1987), makna di balik maut (kematian) itu adalah maut sebagai putusnya segala felasi; sebagai kritik atas hidup, sebagai pelepasan, sebagai awal hidup baru, dan hanya Tuhan yang merupakan penguasa hidup dan maut. Selanjutnya Mardiatmadja menguraikan:

Maut sebagai putusnya segala relasi

Advertisement

Maut adalah putusnya segala relasi karena segala relasi terputus dengannya. Mati merupakan perpisahan, sebab si mati tidak dapat bertemu dengan kita, dan kita tidak dapat bertemu dengan si mati. Si mati tidak dapat melakukan sesuatu yang tidak sempat dilakukannya, demikian pula yang hidup tidak dapat mengerjakan sesuatu untuk si mati, misalnya membalas kebaikannya, memujinya, dan sebagainya.

Maut menjemput kita sejak di dunia. Kalau diartikan maut itu sebagai perpisahan, misalnya, semakin tua umur seseorang, semakin sedikit perjumpaan dan relasinya. Tidak sedikit orang yang kesepian, yang sudah mati sebelum maut menjemputnya. Kematian menjadi berat karena maut merenggut orang yang dicintainya, artinya memutuskan relasi. Bentuk pemutusan relasi bermacam-macam, mungkin patah hati, diasingkan (dipenjara), dan sebagainya. Peristiwa sebaliknya dapat pula terjadi, yaitu mati karena cinta. Ini tidak dirasakan sebagai perenggut relasi, misalnya karena membela tanah air, agama, orang tua, dan sebagainya.

Orang yang takut akan mati menandakan bahwa orang tersebut tidak memiliki cinta yang mendalam dan tanpa batas sehingga ia tidak yakin bahwa relasinya tetap terjaga, dan takut relasinya terputus.

Maut sebagai kritik atas hidup

Maut adalah arah utama dari hidup. Segala macam dimensi kebanggaan menjadi lenyap. Yang cantik, kekar, cerdas, dan sebagainya, menjadi layu dan lenyap. Tidak ada sedikit pun harta benda yang dimiliki terbawa ke kuburan. Hanya batu nisan dan upacara penguburan yang membedakan antara si kaya dan si miskin. Si mati sama saja, baik orang terhormat atau pun gembel. Maut adalah kesamarataan yang adil kepada semua manusia. Segala macam keangkuhan, tirani, atau kekuasaan menjadi ciut di hadapan maut.

Maut mengkritik orang-orang yang tidak pernah merasa puas, atau haus untuk nienurnpuk-numpuk atribut kejayaan serta kesuksesan. Untuk apa semua itu? Dapatkah kemakmuran mated dan ketinggian kekuasaan menang atas maut? Mungkin orang yang sudah merasa aiim dan imannya kuat akan berkata, kami slap menjawab kritikan maut dan hidup berdampingan dengan maut. Tetapi, tidak sedikit orang yang kita pandang alim dan imannya kuat serta saieh, harus menanggung kematian dengan cara yang keji. Kecelakaan yang mengerikan, serangan kangker ganas dan menjelang kematian dengan koma, sering mengakhiri perjalanan hidup orang yang alim dan saleh. Kritik maut ini justru mungkin akan menakutkan orang yang alim dan saleh, sebab keadaan yang tinggi akan menyatakan: Saya ini tidak memiiiki sedikit pun daya dan kekuatan untuk menentang maut. Inilah kritik maut terhadap hidup. Tidak ada pemutlakan niiai-nilai, kekuasaan, serta jasarjasa selama orang hidup bagi sesuatu yang dikatakan maut.

Maut sebagai pelepasan

Pahit getirnya mengarungi kehidupan di zaman modern, semakin sukarnya menghadapi tuntutan zaman seperti sekolah, mencari nafkah, mencari kerja, tuntutan lingkungan dan sebagainya keadaan lingkungan yang kejam, penindasan, pemerasan, bahkan memadu cinta pun mungkin semakin ivrasa mengandung racun, semuanya itu dihayati sehingga sampai pada pemikiran bahwa maut merupakan pelepasan dari penderitaan hidup. Dalam kasus-kasus di kota-kota besar, sering terjadi pelajar yang bunuh diri demi membebaskan diri dari penderitaan, dari kerasnya persaingan hidup, atau karena merasa terasing, tidak merasakan cinta dan kasih sayang orang tuanya.

Maut sebagai awal hidup baru

Dalam suatu keyakinan agama, mati itu adalah awal dari hidup. Bahkan dalam bahasa agama, orang yang mati dalam jalan membela agamanya tidak dikatakan mati, tetapi mereka itu hidup (Q : 2 : 154). Jadi, mati dalam hal ini merupakan peralihan ke hidup baru. Tetapi, pernyataan ini hanya sebagai harapan manusia, sebab manusia yang sudah mati tidak dapat hidup kembali. Dalam suatu kepercayaan dikatakan bahwa kematian merupakan buah pekerjaan dan sukses hidup yang sejati sehingga orang yang sudah dapat ditentukan daya tahan hidupnya menurut ilmu kedokteran, dapat dengan tenang menghadapi maut. Dengan kesadaran semacam ini, kematian dianggap sebagai menyambut persatuan dengan orang yang dicintai. Kesadaran semacam ini merupakan “pengharapan”. Bila manusia mau tabah menghadapi kematian, maka perlu kepastian tentang hidup. Hal ini penting sebab kematian tetap akan datang menjemput manusia. Maka lebih bijaksana apabila manusia menyambutnya de-ngan penuh kesadaran. Atau sama sekali jangan memikirkan kematian, sebab kematian itu bukan urusan manusia.

Tuhan sebagai penguasa hidup dan mati

Seseorang yang menganut agama atau suatu kepercayaan mengakui bahwa Tuhan adalah penguasa hidup dan mati. Keyakinan ini tidak berlaku bagi seorang yang bernama Nabi Isa a.s. Nabi Isa, dengan membawa suatu tanda (mukjizat), rnampu meniupkan roh sehingga burung menjadi hidup, dan menghidupkan orang yang mati dengan seizin Allah (Q : 3 : 49). Nabi Isa dapat melakukan demikian, tetapi itu pun seizin Tuhan. Dengan demikian tetaplah hidup dan mati itu milik Tuhan. Nabi Isa pun kematiannya masih misterius. ”Nabi Isa tidak mati, tetapi diangkat Allah ke sisinya” (Q : 4 : 157). Kematian semua manusia, atau Isa dengan mukjizatnya dapat menghidupkan orang yang mati dan ia sendiri tidak mati, adalah atas kehendak Tuhan.

Incoming search terms:

  • arti felasi
  • makna kematian yang diartikan sebagai kritik atas hidup
  • Arti dari menjadi maut yang merenggut
  • jelaskan makna kematian yang diartikan sebagai kritik atas hidup
  • makna dan definisi kematian
  • makna kematian
  • makna menantang takut dan maut
  • Sukarnya kematian

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • arti felasi
  • makna kematian yang diartikan sebagai kritik atas hidup
  • Arti dari menjadi maut yang merenggut
  • jelaskan makna kematian yang diartikan sebagai kritik atas hidup
  • makna dan definisi kematian
  • makna kematian
  • makna menantang takut dan maut
  • Sukarnya kematian