MAKNA RETORIKA

120 views

Pada abad kelima Sebelum Masehi untuk pertamakali dikenal suatu ilmu yang mengkaji proses pernyataan antarmanusia sebagai fenomena sosial tadi. Ilmu ini dinamakan dalam bahasa Yunani “rhetorike” yang dikembangkan di Yunani Purba, yang kemudian pada abad-abad berikutnya dimekarkan di Romawi dengan nama dalam bahasa Latin “rhetorika” (dalam bahasa Inggris “rhetoric” dan dalam bahasa Indonesia “retorika”).

Di Yunani, negara pertama yang mengembangkan retorika dipelopori oleh Georgias (480-370) yang dianggap sebagai guru retorika pertama dalam sejarah manusia yang mempelajari dan menelaah proses pernyataan antarmanusia. Dimulainya pengembangan retorika sebagai seni bicara di Yunani itu, adalah ketika kaum sofis di saat mengembara dari tempat yang satu ke tempat yang lain, mengajarkan pengetahuan mengenai politik dan pemerintahan. Kaum Sofis menyatakan bahwa pemerintah harus berdasarkan suara rakyat terbanyak atau demokrasi yang berarti pemerintah rakyat. Untuk itu diperlukan pemilihan. Maka berkembanglah seni pidato, yang demi tercapainya tujuan kadang membenarkan pemutarbalikan kenyataan; yang penting khalayak tertarik perhatiannya dan terbujuk.

Filsafat sofisme yang dicerminkan oleh Georgias itu berlawanan dengan pendapat Protagoras (500-432) dan Socrates (469-399). Protagoras mengatakan bahwa kemahiran berbicara bukan demi kemenangan, melainkan demi keindahan bahasa. Sedangkan bagi Socrates, retorika adalah demi kebenaran dengan dialog sebagai tekniknya, karena dengan dialog, kebenaran akan timbul dengan sendirinya. Para pakar retorika lainnya adalah Isocrates dan Plato yang kedua- duanya dipengaruhi oleh Georgias dan Socrates. Mereka ini berpendapat bahwa retorika berperan penting bagi persiapan seseorang untuk menjadi pemimpin. Plato yang merupakan murid utama dari Socrates menyatakan bahwa pentingnya retorika adalah sebagai metode pendidikan dalam rangka mencapai kedudukan dalam pemerintahan dan dalam rangka upaya mempengaruhi rakyat. Puncak peranan retorika sebagai ilmu pernyataan antar manusia ditandai oleh munculnya Demosthenes dan Aristoteles dua orang pakar yang teorinya hingga kini masih dijadikan bahan kuliah di berbagai perguruan tinggi.

Demosthenes (384-322) di zaman Yunani itu termasyur karena kegigihannya mempertahankan kemerdekaan Athena dari ancaman raja Philipus dari Mecedonia. Pada waktu itu telah menjadi anggapan umum bahwa di mana terdapat sistem pemerintahan yang berkedaulatan rakyat, di situ harus ada pemilihan berkala dari rakyat dan oleh rakyat untuk memilih pemimpinnya. Di mana demokrasi menjadi sistem pemerintahan, di situ masyarakat memerlukan orang-orang yang mahir berbicara di depan umum. Terdapat 61 naskah pidato Demosthenes yang hingga kini masih tersimpan, di antaranya yang terindah adalah naskah pidato yang bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, berjudul “tentang karangan bunga” sebuah sambutan terhadap pemujaan rakyat kepadanya, tatkala ia berhasil menyingkirkan lawannya, Aichines. Ini terdapat pada logika Retorika hanya menimbulkan perasaan seketika, meski lebih efektif daripada silogisme. Pernyataan pokok bagi logika dan bagi retorikk akan benar apabila telah diuji oleh dasar-dasar logika”, demikian Aristoteles. Bagi Aristoteles retorika adalah seni persuasi, suatu uraian yang harus singkat, jelas, dan meyakinkan, dengan keindahan bahasa yang disusun untuk hal-hal yang bersifat memperbaiki (corrective), memerintah (instructive), mendorong (suggestive) dan mempertahankan (defensive).

Demikian retorika di Yunani, ilmu pertama yang mempelajari dan mengkaji gejala pernyataan antarmanusia. Dari Yunani retorika menjalar ke Romawi. Di negeri ini retorika dikembangkan oleh Marcus Tulius Cicero (106-43) yang menjadi termasyur karena bukunya berjudul de Oratore dan karena penampilannya sebagai seorang orator. Cicero mempunyai suara yang bervolume berat dan berirama mengalun, pada suatu saat keras menggema, di saat lain halus memelas, kadang disertai cucuran air mata. Sebagai pemuka retorika Cicero mengembangkan kecakapan retorika menjadi ilmu. Menurut Cicero sistematika retorika mencakup dua tujuan pokok yang bersifat “suasio” (anjuran) dan “dissuasio” (penolakan). Paduan dari kedua sifat itu seririgkali dijumpai dalam pidato-pidato peradilan di muka Senat Romawi di Roma. Pada saat itu tujuan pidato di hadapan pengadilan adalah untuk menyadarkan publik tentang hal-hal yang menyangkut kepentingan rakyat, perundang-undangan negara, dan keputusan-keputusan yang akan diambil. Hal ini, menurut Cicero hanya dapat dicapai dengan menggunakan teknik dissuasio, apabila terdapat kekeliruan atau pelanggaran dalam hubungannya dengan undang- undang, atau suasio jika akan mengajak masyarakat untuk mematuhi undang-undang dan keadilan.

 

Incoming search terms:

  • definisi retorika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *