Advertisement

Pemerintahan nasionalis berbentuk kepemimpinan diktator satu partai, tidak pernah menguasai Cina secara utuh. Pihak komunis dan agresi Jepang selalu mengganggu pemerintahannya.

Menjelang tahun 1931, komunis berhasil membangun 15 basis di pedesaan dan membentuk pemerintahan tandingan di wilayah selatan dan tengah Cina. Tahun 1934, pasukan Chiang Kaishek memaksa kaum komunis untuk mengosongkan semua basisnya. Akibat desakan ini, kaum komunis memulai Long Marchnya yang terkenal. Menjelang akhir tahun 1935, kaum komunis telah menempuh jarak lebih dari 9.700 kilometer melalui rute berliku-liku untuk mencapai Propinsi Shensi di Cina utara. Dari sekitar 100.000 orang pada awal perjalanan ini, hanya ribuan saja yang mampu bertahan sampai di Shensi. Selama perjalanan panjang ini, Mao Zedong memimpin Partai Komunis Cina.

Advertisement

Ketika tentara Chiang sibuk bertempur melawan kaum komunis, Jepang sedikit demi sedikit mencaplok wilayah Cina. Tahun 1931, Jepang merebut Manchuria dan menjadikannya negara boneka dengan nama Manchukuo. Setelah itu, Jepang meluaskan pengaruh militernya sampai ke Mongolia Dalam dan daerah-daerah lain di Cina Utara. Chiang menyetujui beberapa tuntutan Jepang, karena ia merasa belum cukup kuat untuk melawan Jepang sampai pasukan komunis dapat dikalahkannya.

Kalangan mahasiswa dan kaum intelektual tidak menyetujui keputusan Chiang tersebut. Mereka membentuk berbagai serikat anti-Jepang dan terus melakukan demonstrasi. Rasa tidak puas terhadap kebijaksanaan Chiang merembet sampai ke pasukan Manchuria yang sedang bertugas memblokade semua daerah kekuasaan komunis di wilayah barat laut. Tahun 1936, pasukan Manchuria menculik Chiang di Sian. Dia akan dilepas kembali dengan syarat bersedia mengakhiri perang saudara dan membentuk front persatuan dengan komunis untuk menghadapi Jepang.

Advertisement