Advertisement

Polusi air yang disebabkan oleh penggunaan deterj en terutama menyangkut masalah surfaktan atau bahan pembentuk. Penanganan terhadap polusi surfaktan telah banyak dilakukan, sedangkan penanganan terhadap polusi bahan pembentuk baru akhirakhir ini banyak dibicarakan dan dipraktekkan.

Surfaktan yang banyak digunakan pada saat ini berbeda dengan yang digunakan beberapa tahun yang lalu. Perbedaan utama adalah karena yang digunakan pada saat ini mempunyai sifat dapat dipecah secara biologis (biodegradable), yaitu dapat dipecah menjadi senyawa-senyawa sederhana oleh bakteri yang terdapat di lingkungan, sedangkan surfaktan yang digunakan sebelum tahun 1965 tidak dapat dipecah oleh bakteri sehingga terdapat dalam bentuk tetap tidak berubah dalam jangka waktu lama di lingkungan.

Advertisement

Setelah perang dunia kedua penggunaan deterjen semakin meningkat untuk berbagai keperluan, dan masalah utama yang timbul bukan karena racunnya, tetapi busanya yang mengganggu lingkungan di sekitarnya. Surfaktan yang digunakan dalam deterjen sebelum tahun 1965 tidak dapat dipecah dengan cepat sehingga mengumpul di tempat buangan atau sungai di sekitarnya. Masalah ini kemudian dapat dipecahkan dengan cara mengubah struktur molekul komponen secara kimia sehingga lebih mudah dipecah oleh bakteri. Perubahan struktur surfaktan dari yang bersifat “nonbiodegradable” menjadi “biodegradable” dilakukan sejak tahun 1965 dan ternyata dapat memecahkan masalah utama tersebut.

Bahan pembentuk utama di dalam deterjen adalah natrium tripolifosfat (Na5P3O10). Senyawa ini tidak merupakan masalah dalam dekomposisinya di lingkungan sebab ion P3O10~5 akan mengaiami reaksi hidrolisis perlahan di dalam lingkungan untuk memproduksi ortofosfat yang tidak beracun.

Reaksinya adalah sebagai berikut:

P3O10~5 + 2 H20              2 HP04-2 + H2P04-

Industri-industri deterjen telah berusaha untuk menghilangkan fosfat, dan beberapa cara yang telah dilakukan di antaranya adalah:

  1. Mengganti bahan pembentuk yang mengandung fosfat dengan bahan lain yang sifatnya hampir sama.
  2. Mengganti dengan surfaktan lain yang cara kerjanya tidak seperti bahan pembentuk tipe sequestran.

Tetapi untuk menggantikan fosfat dengan bahan lain ditemukan berbagai kesulitan karena fosfat mempunyai beberapa sifat yang menguntungkan sebagai berikut:

  1. Fosfat tidak beracun terhadap hewan air dan tidak mengganggu kesehatan manusia.
  2. Fosfat bersifat aman digunakan dalam berbagai pewarna, serat dan kain.
  3. Fosfat bersifat aman digunakan dalam mesin cuci, tidak bersifat korosif dan tidak mudah terbakar.

Fosfat juga mempunyai sifat-sifat lain yang menguntungkan jika dihubungkan dengan mutu air, yaitu:

  1. Fosfat dapat dipecah melalui hidrolisis dan pengolahan air buangan dan air permukaan. Setelah dipecah, fosfat tidak lagi bersifat sequestran.
  2. Fosfat tidak mengganggu dalam pengolahan air buangan.
  3. Fosfat mudah dihilangkan dari air buangan dalam pengolahan air buangan.
  4. Struktur kimia dan reaksi fosfat telah diketahui sehingga mudah dikendalikan.

Salah satu bahan pengganti fosfat yang mungkin digunakan adalah NTA (trinatrium nitrilo asetat) dengan rumus sebagai berikut:

CH2 COONa N CH2 COONa CH2 COONa

Penggunaan NTA dimulai awal tahun 1970, tetapi pada akhir tahun 1970 penggunaan NTA dipertanyakan kembali karena senyawa ini diduga mempunyai pengaruh teratogenik jika bergabung dengan logam berat seperti kadmium atau merkuri. Dalam hal ini NTA diduga dapat meningkatkan transmisi logam-logam berat tersebut menembus barier plasenta dan masuk ke dalam fetus, sehingga mengakibatkan cacat pada janin. Tetapi setelah dilakukan penelitian yang lebih mendalam mengenai keamanannya terhadap manusia dan lingkungan, dapat disimpulkan bahwa pada konsentrasi NTA yang digunakan dalam deterjen, senyawa ini dianggap aman.

NTA secara normal akan mengalami degradasi dalam sistem pengolahan dan di dalam lingkungan. Dalam bentuk terdegradasi, senyawa ini kehilangan kemampuan untuk bergabung dengan logam berat. Akan tetapi senyawa ini tidak terdegradasi dalam kondisi anaerobik, misalnya di dalam tanki septik, sehingga dalam keadaan ini dianggap masih berbahaya karena dapat bergabung dengan logam-logam berat.

Bahan pembentuk lainnya yang dapat dicampurkan ke dalam surfaktan untuk meningkatkan alkalinitasnya dan mengendapkan ion-ion air sadah adalah karbonat dan silikat. Tetapi bahan pembentuk ini mempunyai kerugian karena membentuk residu garam kalsium dan magnesium. Kerugian lain dalam penggunaan deterjen nonfosfat adalah karena air pencuci yang dihasilkan mempunyai pH lebih tinggi, yaitu pH 10.5 11, sedangkan deterjen fosfat menghasilkan air pencuci dengan pH lebih rendah yaitu 9 10.5. Air pencuci dengan pH lebih tinggi akan mengakibatkan korosi kulit, iritasi mata dan keracunan. Selain itu pada pH tinggi tersebut larutan akan membentuk gel dengan protein tenunan kulit dan sukar dihilangkan.

Advertisement