Advertisement

MENCERITAKAN PENGALAMAN RELIGIUS PADA ANAK – Orangtua dan para pendidik dapat menumbuhkan pengalaman dan rasa religius, dalam diri anak sejak dini sesuai dengan kema­tangan usia biologis, psikologis dan sosial. Orangtua dan para pendi­dik mendampingi anak untuk mengartikan pengalaman religius supaya semakin menjadi bagian dari hidup eksistensial anak sendiri. Berikut ini disajikan beberapa peristiwa dan pengalaman hidup yang dapat membantu pemekaran sikap religus dalam diri anak.Orangtua bersama anak mengagumi keindahan alam seperti ter­bitnya dan terbenamnya matahari, gunung-gunung yang menjulang tinggi dan hamparan sawah yang luas, indahnya bulan purnama, hutan belantara yang penuh dengan pepohonan dan padang rumput yang menghijau, selat-seiai yang sempit dan lautan yang lepas, Yang Ilahi nampak dalam karang yang keras. Anak terpesona, kagum dan merasakan ada sesuatu yang dasyat tetapi sekaligus mempesona di balik dinding-dinding gua berbatu. Anak mengalami keterbatasan kepandaian manusia ketika meng­hadapi peristiwa bencana alam, gunung meletus, gempa bumi yang memporakporandakan semua karya manusia. Manusia tidak mampu secara tuntas mengatasi kekuatan alam seperti gelombang-gelombang besar yang dapat menenggelamkan kapal, cuaca yang mungkin men­jatuhkan pesawat terbang dan banjir yang menggilas padi di sawah dan menghancurkan semua rumah di desa. Anak bertanya, “Apa artinya peristiwa ini?” Pada kesempatan lain anak kagum dengan padi yang sedang menguning di sawah, mekarnya kembang di hutan, kicau burung di pagi hari, perahu layar mengarungi samudera dan gembala men­jaga kawanan ternak di padang beratapkan langit luas. Anak merasa­kan seakan-akan ada tangan gaib yang mengatur semuanya ini. Rasa takut dan terpesona pada kejadian alam merupakan benih awal sikap religius.

Orangtua mendampingi anak yang sedang kecewa karena men­dapat nilai jelek di sekolah. Anak remaja yang kecewa karena diting­galkan oleh temannya membutuhkan pendampingan dari orangtua dan para pendidik. Orangtua memberikan dorongan dan semangat untuk berjuang lagi. Kegembiraan di hari ulang tahun anak dirayakan. Orangtua menceritakan tentang peristiwa kelahiran, tentang makna dari nama anak, sejarah keluarga dan segala karunia yang telah diterima oleh anak. Dengan penuh syukur dan pujian mereka menengadahkan ta­ngan ke langit pada kuasa yang telah melindungi keluarga. Orangtua mendampingi anak ketika mengalami peristiwa kema- tian dari sanak saudara. Kematian menginsyafkan anak akan ketidak­berdayaan manusia. Orangtua berusaha menjelaskan arti dan makna dari kematian. Setelah kematian, apakah masih ada kehidupan dan harapan? Orangtua menciptakan hubungan yang harmonis dengan tetang­ga dan lingkungan. Kepada anak, orangtua menanamkan “rasa per­caya pada lingkungannya”. Anak merasa aman, karena orangtuanya selalu bersedia menenangkan anak tatkala ia merasa takut. Orangtua selalu menyadarkan anak untuk berusaha hidup dengan lebih baik lagi. Anak membuat rencana kehidupan dan menjalankan­nya. Anak dilatih untuk menengok pengalaman masa lampaunya dan semakin sadar bahwa hidupnya mempunyai arah dan tujuan.

Advertisement

Incoming search terms:

  • pengalaman religius berkaitan dengan peristiwa kehidupan

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengalaman religius berkaitan dengan peristiwa kehidupan