Advertisement

Sampai di mana orang awam dapat mendeteksi kebohongan? Petunjuk apa yang mereka pergunakan untuk mendeteksinya? Salah satu telaah paling realistis dan lengkap dilakukan oleh Kraut dan Poe (1980). Mereka membujuk penumpang pesawat terbang untuk mencoba menyelundupkan “barang gelap” melalui wawancara dengan pejabat Bea Cukai Amerika Serikat Para partisipan itu adalah orang-orang yang kebetulan sedang menunggu keberangkatan pesawat terbang di Syracuse, New York. Beberapa di antaranya dipilih secara acak untuk ikut serta dalam kondisi “penyelundup” tersebut, dan diberi barang terlarang semacam kantung bubuk putih dan kamera mini, serta diminta agar menyembunyikannya. Orang-orang itu ditawari hadiah sampai $ 100 jika berhasil melewati pejabat bea cukai. Yang lain dipilih secara acak agar turut serta dalam kondisi “orang tak berdosa/’ dan tidak diberi barang terlarang. Semua interaksi antara penumpang dan pejabat bea cukai itu direkam dalam pita video. Untuk menentukan perilaku nonverbal khusus yang dipertunjukkan orang-orang yang terlibat secara aktual dalam pengelabuan itu, perilaku masing-masing penumpang dan pejabat bea cukai dicatat penilai lain termasuk berbagai variabel parabahasa dan variabel yang kelihatan dalam komunikasi nonverbal seperti yang sudah kita diskusikan, yakni: dandanan, pergeseran tubuh, kesantaian tubuh, senyuman, penghindaran tatapan mata, kekeliruan ucapan, kelambatan menjawab, jangka waktu pemberian respons, sifat mengelak, kegugupan, dan kesulitan menjawab. Setiap interaksi juga dimainkan ulang t kepada para pengamat yang berusaha mengidentifikasi penumpang mana yang merupakan “penyelundup” dan mana yang bukan.

Tidak ada perbedaan sistematis yang dapat dipahami dalam perilaku para penumpang tak berdosa dan penumpang penyelundup. Jika para “penyelundup” “membocorkan” pengelabuan mereka, maka hal itu tidak mereka lakukan konsisten melalui perilaku nonverbal yang telah dicatat. Jadi, tidaklah mengherankan bahwa pejabat bea cukai maupun para pengamat yang kemudian menonton rekaman video tersebut berhasil memilih “penyelundup” di antara penumpang yang “tak berdosa.” Penemuan ini membuktikan bahwa para pengamat memiliki kemampuan terbatas untuk menangkap adanya pengelabuan dalam situasi kehidupan sebenarnya. Meski terdapat kekurangakuratan ini, di antara para pengamat terdapat konsensus kuat tentang siapa penyelundup yang sebenarnya. Oleh karena itu, pertanyaan selanjutnya adalah demikian: Petunjuk apa yang dipakai para pengamat sehingga mereka sampai.kepada konsensus tingkat tinggi semacam itu mengenai perilaku penyelundupan, namun toh hal itu tetap terbukti kurang bermanfaat? Para pengamat juga menunjukkan konsensus besar dalam petunjuk tertentu yang diasosiasikan dengan “penyelundupan.” Keputusan untuk mencari penumpang sangat diasosiasikan dengan kegugupan orang tersebut, pemberian jawaban singkat, dan lebih banyak menggerakkan tubuh. Lebih lanjut, kegugupan diasosiasikan dengan pemberian jawaban yang makan waktu lama serta menghindari tatapan mata dengan sang pejabat. Jadi, terdapat sejumlah petunjuk verbal dan nonverbal yang dianggap para pengamat berasosiasi dengan “penyelundupan,” tetapi hal itu tidaklah benar; tidak ada perbedaan sistematis aktual antara penyelundup dengan penumpang yang tak berdosa dalam perilaku aktual, baik verbal maupun nonverbal. Ringkasnya, tidak seorang pengamat profesional maupun yang tak:terlatih dapat menentukan secara akurat apakah penumpang berbohong atau tidak. Dan, dalam kenyataannya penumpang bohong dan penumpang yang jujur tidak berbeda dalam segala hal yang dapat dicatat sesuai dengan perilaku verbal” maupun nonverbal. Tetapi para penilai sampai pada suatu konsensus cemerlang. Dan persepsi mereka dapat dihitung petunjuk terbuka yang relatif terbatas seperti dipertunjukkan para penumpang. Semuanya ini konsisten dengan gagasan bahwa para pengamat sama-sama mempunyai stereotip jelas tentang bagaimana perilaku penyelundup. Namun dalam kasus ini, nampaknya hal itu kurang akurat. Seperti ditunjukkan dalam teks, para pengamat lebih sensitif menghadapi pengelabuan dalam situasi laboratorium yang terkendali. Bahkan dalam situasi itu pun mereka tetap tidak sepenuhnya akurat, meski mereka yakin sekali bahwa mereka mampu mendeteksinya, serta memiliki banyak penjelasan untuk keahlian mereka tersebut.

Advertisement

Advertisement