Advertisement

Ulama besar Minangkabau dan dikenal sebagai ulama kaum muda. Pandangannya cukup modern. Selain mengajar ia juga menjalankan sistem organisasi dan koperasi sebagai kegiatan para siswanya.

Ulama ini lahir di desa Parabek, Kecamatan Banuhampu, Kabupaten Agam, tidak jauh dari kota Bukittinggi. Hingga berusia 13 tahun ia belajar membaca al-Quran di kampung halamannya. Kemudian oleh orang tuanya ia dikirim belajar ke Surau Syekh Mata Air di Pekandangan, Pariaman; ia lalu belajar di Surau Tuanku Angin di Ba- ruh, Batipuh, Padang Panjang; lalu ke Batu Te-bal. Dari Batu Tebal ia belajar pada Syekh Abbas di Ladang Lawas, Banuhampu, lalu belajar pada Syekh Abdus Samad di Biaro IV Angkat Candung. Ia kemudian belajar pula pada Syekh Jalaluddin Kasai di Sungai Landai, Banuhampu; kemudian pada Syekh Abdul Hamid di Talago, Payakumbuh.

Advertisement

Pada usia 20 tahun Parabek pergi ke Mekah untuk menambah pengetahuan. Di kota suci itu ia tinggal selama enam setengah tahun, berguru pada Syekh Ahmad Khatib Minangkabau, Syekh Muhammad Jamil Jambek, Syekh Ali bin Husein, Syekh Mukhtar Jawi, dan Syekh Yusuf al-Hayat. Pada tahun 1908 ia kembali ke Parabek dan membuka pengajian yang diikuti murid-murid dari wilayah Parabek. Pada tahun 1915 ia pergi lagi ke Mekah untuk belajar pula. Kali ini ia hanya menetap dua tahun di sana, kemudian kembali ke Parabek menjelang Perang Dunia I.

Di samping mengajar Ibrahim Musa Parabek juga membina para muridnya melalui kegiatan organisasi. Pada tahun 1918 ia mendirikan Muzakaratul Ikhwan, yang kemudian atas kesepakatan Syekh Abdul Karim Amrullah dikembangkan menjadi organisasi Sumatra Thuwailib, dan kemudian diubah lagi menjadi Sumatra Thawalib. Pada tahun 1919 organisasi ini menerbitkan majalah al-Bayan dan al-Manar. Pada tahun 1921, melalui organisasi ini, Syekh Ibrahim Musa Parabek mengubah sistem halaqah (berkumpul bersama di sekeliling guru) menjadi sistem klasikal. Di samping pelajaran agama para murid juga diberi pelajaran umum. Syekh Parabek mencita-citakan agar para muridnya mampu menjadi orang-orang yang mandiri. Ia juga mendirikan Kutubul-Khanah (perpustakaan), menganjurkan para muridnya mendirikan koperasi, membuat kebun percobaan, menyelenggarakan forum diskusi, olahraga dan kesenian. Iajuga membentuk kepanduan al-Hilal. Perguruannya juga menerima murid-murid perempuan. Pada tahun 1939 ia menyelenggarakan pendidikan lanjutan untuk Sumatra Thawalib bernama Kulliyatud-Diyanah. Syekh Musa Parabek juga menulis sejumlah buku, antara lain Hidayatushshibyan, Ijabatus-Sual, al-Hidayah, dan beberapa naskah yang tidak sempat dicetak. Ia juga menulis sejumlah karangan dalam majalah al-Bayan.

Syekh Ibrahim Musa Parabek juga ikut serta dalam pergerakan politik. Sikap politiknya tidak langsung. Ia, misalnya, menolak tawaran subsidi yang disodorkan pemerintah Belanda. Dalam masa setelah proklamasi kemerdekaan ia menjadi anggota Pengurus Besar Majelis Islam Tinggi (MIT, 1942), Laskar Rakyat Sumatra Barat (1943), Pimpinan Hizbullah-Sabilillah (1944), dan Imam Jihad Hizbullah-Sabilillah Kabupaten Agam (1946). Ia j uga mendapat kepercayaan men- jadi ketua Majelis Syura wal Fatwa Sumatra Tengah (1947), anggota Majelis Syura dan Fatwa tentang Kesehatan, dan anggota Dewan Kurator serta dosen pada Perguruan Tinggi Islam Darul-Hikmah. Selanjutnya ia terpilih menjadi anggota Konstituante sebagai wakil partai Islam Masyumi (1956), giat dalam Muktamar Ulama dan Muballigh se-Indonesia di Medan (1953), dan bersama Syekh Sulaiman ar-Rasuli memimpin Muktamar Ulama dan Muballigh se-Indonesia di Palembang (1957). Ketika terjadi pergolakan di

Sumatra Barat, ia ikut dalam PRRL Setelah kembar ke pangkuan RI Syekh Ibrahim Musa Parabek &J kembali memimpin perguruan Sumatra Thawalft hingga akhir hayat.

Advertisement