Advertisement

Kalau teori-teori tentang hubungan sikap dan perilaku sudah diuraikan di atas, perlu dijelaskan juga mengapa perilaku mempengaruhi sikap.

Menurut Myers (1966) ada tiga pendekatan untuk menjelaskan pengaruh perilaku terhadap sikap.

Advertisement
  1. Teori pernyataan diri (self prese) Supit (1978) dalam penelitiannya di Jakarta mengungkapkan bahwa respondennya pergi ke gereja, walaupun tidak didasari oleh sikap religius. Dalam penelitian lain, Kolopaking (1992) mengemukakan bahwa siswa-siswa SMA Islam lebih banyak menyatakan ketidaksetujuannya terhadap film-film di tv daripada rekan-rekan mereka dari SMA Negeri. Kedua contoh itu menunjukkan bahwa orang cenderung menjaga konsistensi antara citra diri dan perilakunya. Sebagai orang Kristen harus kc gereja dan sebagai siswa sekolah Islam harus tidak setuju dengan film , walaupun sikap yang sesungguhnya tidak selalu sesuai dengan perilaku. Menurut teori pernyataan diri, ada kecenderungan orang untuk lebih menyenangkan orang lain demi mempertahankan citra diri daripada mengungkapkan diri secara apa adanya. Karena itulah menurut penelitian orang yang mempunyai skor tinggi dalam hal pemantauan diri sendiri (self monitoring score) cenderung seperti bunglon yang setiap saat beralih warna untuk menyesuaikan diri dengan situasi (Snyder & De Bono, 1989). Sebaliknya, yang skor pemantauan dirinya rendah cenderung acuh tak acuh dan berlaku apa adanya (McCann & Hannock, 1983).
  2. Disonansi kognitif

Menurut Festinger (1957), jika ada dua elemen kognitif (pikiran atau keyakinan) yang saling bertentangan, orang akan merasa tegang (disonan). Untuk menghilangkan disonansi itu, salah satu caranya adalah menyesuaikan salah satu elemen kognitif itu agar sama dengan elemen kognitif yang lainnya. Kalau kita terlambat untuk menghadiri suatu pertemuan, misalnya, kita akan melihat tamu-tamu lain yang lebih terlambat dari kita dan kita akan mengatakan pada diri sendiri, “Ah, saya bukan satusatunya yang terlambat. Masih banyak yang lain yang terlambat juga”. Sikap yang timbul di sini adalah tintuk membenarkan perilaku yang salah. Dalam istilah psikoanalisis dari Freud, gejala ini dinamakan rasionalisasi(lihat: Sarwono, 1991). Jika pembenaran pada yang salah itu tidak dapat dilakukan, disonansi akan tetap berlangsung seperti apa yang ditemukan oleh Pietoyo (1982) tentang respondennya di Jakarta yang tidak tahu apa yang harus dilakukan jika berhadapan dengan polisi lalu lintas, karena di satu pihak polisi dinilai positif (petugas, penegak hukum, dan sebagainya), di lain pihak polisi juga dinilai negatif (menerima suap, mempersulit pelanggar dan sebagainya),

  1. Persepsi diri

Bern (1972) menjelaskanbahwa kalau kita tidak dapatmenjelaskan perilaku kita dengan atribusi eksternal,” kita cenderung menjelaskannya dari apa yang kita lihat atau dengar tentang perilaku kita sendiri (seperti, melihat di cermin). Kalau kita sering terlambat ke kantor, misalnya, dan sering ditegur oleh atasan dan kita tidak dapat mencari penyebabnya di luar diri kita (tidak ada alasan lain), lama kelamaan kita cenderung percaya bahwa kita ini orang yang malas. Sebagaimana lazimnya setiap alat ukur dalam psikologi, alat pengukur sikap juga harus memenuhi persyaratan validitas (setiap butir pernyataan harus sungguh-sungguh mengukur apa yang hendak digali) dan reliabilitas(alat ukur itu harus memberikan hasil yang kira-kira sama jika diulang pada waktu-waktu yang berbeda) untuk menghindari kesalahan (error), baik kesalahan sistematik (kesalahan tertentu berulang terus-menerus) jika alat ukur tidak valid,maupun kesalahan acak (kesalahan terjadi berulang-ulang walaupun tidak pada kesalahan tertentu) jika alat ukur tidak reliable(Himmelfarb, 1993; Edwards, 1957).

Incoming search terms:

  • apakah perilaku mempengaruhi sikap
  • perilaku nempengaruhi sikap
  • 127 0 0 1mengapa-perilaku-mempengaruhi-sikap/
  • perilaku mempengaruhi sikap

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • apakah perilaku mempengaruhi sikap
  • perilaku nempengaruhi sikap
  • 127 0 0 1mengapa-perilaku-mempengaruhi-sikap/
  • perilaku mempengaruhi sikap