Advertisement

Prediksi yang paling menarik dalam teori disonansi berkaitan dengan efek insentif terhadap perubahan sikap. Di satu pihak, harus terdapat insentif yang cukup untuk membuat seseseorang melakukan tindakan yang bertentangan dengan sikapnya. Biasanya orang tidak melakukan tindakan yang bertentangan dengan sikapnya, kecuali bila terdapat beberapa alasan untuk melakukan hal itu. Oleh sebab itu, gambarkan orang sebagai makhluk yang tunduk pada tekanan dengan tingkat tertentu untuk melakukan tind akan yang tidak sesuai dengan sikap. Tekanan itu harus memadai untuk menghasilkan tindakan. Pertanyaan selanjutnya adalah tentang apa yang menentukan sejauh mana sikap akan berubah. Semakin banyak disonansi timbul, semakin banyak perubahan sikap perlu untuk menguranginya. Jumlah disonansi yang timbul tergantung pada sejauh mana inkonsistensi perilaku dengan sikap seseorang. Jika terdapat tekanan yang besar pada individu untuk melakukan tindakan yang titfak sesuai, maka hal ini konsisten dengan keputusan dan tidak banyak menghasilkan ketidaksesuaian. Jika penganut paham perdamaian diperingati kan bahwa dia akan dipenjarakan jika tidak menjadi anggota marinir atau jika dia sudah tidak bekerja selama setahun dan ini merupakan satu-satunya jabatan yang dapat diperolehnya, dia akan mengalami sedikit ketidaksesuaian bila bergabung. Pendek kata, harus terdapat cukup tekanan pada seseorang untuk membuatnya melakukan tindakan yang bertentangan dengan sikap. Tetapi di luar tingkat itu, semakin besar tekanan yang timbul, semakin kecil disonansi, dan karena itu semakin sedikit perubahan sikap yang terjadi. Oleh sebab itu, tingkat optimal dari tekanan merupakan jumlah yang kurang memadai cukup untuk menghasilkan perilaku, tetapi tidak cukup untuk mencegah timbulnya dissonansi.

Advertisement
Advertisement