Advertisement

Nama dua penulis Perancis yang terkenal. Keduanya adalah ayah dan anak. Si ayah biasa disebut Dumas pere, Dumas si ayah, sedangkan si anak Dumas fils. Yang paling mencolok di antara dua penulis ini adalah perbedaan sifat dan pandangan hidup mereka. Si ayah menganggap hidup ini sebagai petualangan yang menggairahkan dan harus dinikmati; si anak menganggapnya sebagai ke-wajiban.

Alexandre Dumas si ayah adalah penulis cerita sejarah dan drama yang paling produktif dan paling populer pada abad ke-19. Di luar negeri, ia terkenal dengan bukunya Tiga Panglima Perang (sudah diindonesiakan) dan Pangeran Monte Crist o yang menjadi bacaan klasik, walaupun nilai kesusastraannya kurang. Alur ceritanya mendebarkan, tetapi sering tidak masuk akal dan gayanya terlalu serampangan.

Advertisement

Karya dramanya dinilai lebih baik, karena lebih mencerminkan aliran romantik Perancis yang pada waktu itu sedang bangkit. Beberapa karyanya yang terkenal antara lain Henry III dan para pengikutnya (1829), Antony (1831), dan Kean (1836). Karya yang disebut terakhir diperbaiki dan diadaptasi oleh Jean- Paul Sartre tahun 1954.

Dumas si ayah lahir di Villers-Cotterets, Perancis. Ayahnya seorang jenderal dari Napoleon Bonaparte yang berdarah negro Karibia. Bakatnya baru tampak setelah ia menulis sandiwara Henry III dan para pengikutnya (1829), yang pementasannya sangat berhasil. Sejak itu, ia menggantungkan hidupnya pada tulisannya yang mendatangkan banyak uang. Ia meninggal dunia dalam kemiskinan, karena karyanya tidak lagi memikat.

Alexandre Dumas si anak (1824-1895) adalah anak tidak sah Dumas si ayah. Kenyataan ini membuatnya menderita dan sangat peka terhadap lingkungannya. Ia mewarisi bakat ayahnya dan mengembangkannya lebih kritis. Ia menjadi terkenal setelah drama pertamanya, Wanita di Semak Camelia, dipentaskan ta-hun 1852. Drama ini ditulis berdasarkan buku ceritanya mengenai hidup tragis seorang pelacur.

Dumas melihat dunia dengan kacamata hitam. Ia merasakan sendiri akibat dari perzinaan, maka tulisannya mendengungkan kenistaan perzinaan dan pelacuran. Ia juga menyindir keserakahan orang berduit, dan mengimbau para suami istri untuk menjunjung tinggi kesetiaan dalam perkawinan.

Advertisement