MENGENAL ASAL MULA DAN EVOLUSI RASISME – Gejala yang dikenal sebagai rasisme telah mendapat perhatian besar dari para ilmuwan sosial selama beberapa waktu. Kebanyakan ilmuwan sosial modern biasa rnengartikan rasisme sebagai suatu ideologi lanjutan yang percaya bahwa satu ras secara alamiah adalah superior dan semua ras lainnya inferior. Istilah “secara alamiah” (by nature) adalah sangat penting, karena ini berarti bahwa superioritas satu ras dan inferioritas yang lainnya adalah hasil dari karakteristik genetiknya. Doktrin rasis dengan demikian berasumsi bahwa pencapaian sosial, ekonomi, dan politik anggota-anggota satu ras merupakan hasil dari warisan genetik mereka yang superior; demikian pula, “kegagalan” anggota-anggota ras lainnya dikatakan disebabkan oleh kekurangan-kekurangan yang berkaitan dengan genetika. Kekurangan-kekurangan yang nyata itu biasanya dipercayai terletak pada bidang inteligensi dan karakter, tapi doktrin rasis sering memperluasnya sampai mencakup sifat-sifat lainnya juga. Bila rasisme ada, maka rasisme itu bukan suatu sistem kepercayaan pribadi yang karakteristik pada individu-indiviau, tetapi merupakan suatu bagian penting dari keseluruhan superstruktur ideologi suatu masyarakat (Noel, 1972a; lihat juga Wilson, 1988). Pengertian rasisme sering dikacaukan dengan konsep-konsep etnosen– trisme, prasangka, dan diskriminasi. Tetapi seperti yang dikemukakan oleh ponald Noel (1972a), konsep-konsep itu tidak memaksudkan hal yang sama  dan adalah sangat penting untuk melakukan pembedaan di antara konsep-konsep itu. Etnosentrisme berarti kepercayaan yang dianut oleh anggota-anggota suatu kebudayaan bahwa cara hidup mereka adalah superior bila dibandingkan dengan cara-cara hidup anggota-anggota kebudayaan lainnya. Rasisme beda dari etnosentrisme dalam dua hal utama. Pertama, etnosentrisme adalah suatu sistem kepercayaan yang didasarkan pada pengertian superioritas budaya, bukannya biologis. Kedua, etnosentrisme adalah suatu ciri kehidupan sosial manusia yang universal sejati, sementara rasisme merupakan karakteristik darip ada hanya beberapa masyarakat selama beberapa ratus tahun lampau. Karena itu rasisme lebih merupakan suatu fenomena yang terbatas secara kultural dan historis bila dibandingkan dengan etnosentsruisame Prasangka adalah suatu sikap tidak suka atau bermusuhan anggota elompok ras atau etnik terhadap anggota kelompok ras atau etnik lain.

Biasanya, sikap ini diberlakukan secara kolektif. Sementara rasisme adalah suatu sistem kepercayaan, maka prasangka adalah suatu superstruktur ideologis. Adalah men-iang mungkin bagi suatu masyarakat untuk menjadi rasis dan pada saat yang sama bagi banyak anggota relatif tidak berprasangka. Situasi ini terdapat pada antebellum Selatan Amerika Serikat, misalnya; orang kulit putih pemilik budak mempunyai konsepsi rasis mengenai orang kulit hitam, namun mereka sering menemukan orang-orang berkulit hitam itu sebagai “makhluk-makhluk yang baik dan penurut”. Demikian pula, mungkin saja berprasangka tanpa mempunyai kepercayaan rasis. Akhirnya, konsep diskriminasi berarti suatu perlakuan yang tidak sama dan tidak adil yang dilakukan oleh salah satu kelompok ras atau etnik terhadap kelompok lainnya. Semen.tara diskriminasi sering dihubungkan dengan kepercayaan rasis dan perasaan prasangka, tapi tidak harus demikian dan kadangkadang memang tidak. Dengan beberapa kekecualian (dan barangkali sedikit), rasisme hanya timbul bersama dengan adanya kapitalisme modern dan kolonisasi Eropa atas dunia ini. Oliver Cox (1948) menandaskanbahwa rasisme tidak terdapat dalam peradaban-peradaban besar masa lalu, misalnya peradaban Mesir, Babilonia, dan kerajaan Persia. Ia juga mencatat bahwa malah orang-orang Gerika dan Romawi Kuno yang menggunakan perbudakan secara luas, tidak pernah mengembangkan ideologi-ideologi yang dapat d isebut rasis. Peradaban masa kuno klasik menggunakan kebudayaan dan bahasa, bukan ras, sebagai stiatu landasan untuk membedakan superiotas dan inferioritas. Cox menyimpulkart bahwa pada masa kemudian awal eksploitasi kapitalis atas orang non-Barat, barulah muncul rasisme. Noel (1972a) menandaskan bahwa rasisme mulai timbul di dunia Barat pada abad xviii dan belum mencapai puncaknya sampai abad xix. Fredrickson (1971) dan van den Berghe (1967) kedua-duanya memandang rasisme terutama sebagai suatu fenomenon Barat abad xix. Van den erghe (1967:15) menandaskan bahwa “rasisme itu timbul pada dekade ketiga a au keempat abad xix, yang mencapai masa keemasannya kira-kira antara tahun 1880 dan 1920, dan sesudah itu mulai memasuki masa kemerosotan”.

Kesimpulan-kesimpulan berikut barangkali dapat dipertanggungkan menyangkut timbul dan berkembangnya rasisme: (1) Rasisme tidak ada atau pun relatif tidak penting sebelum berkembang dan meluasnya kapitalisme Eropa. (2) Rasisme timbul menurut cara yang agak tidak sempurna dalam hubungan dengan kolonialisme Eropa dan terbentuknya perbudakan perkebunan Dunia Baru; karena itu rasisme merupakan bagian penting dari superstruktur ideologis masyarakat budak perkebunan. (3) Rasisme baru mencapai puncaknya dalam abad xix; selama masa ini, rasisme semakin disempurnakan dan diintensifkan, dan pada bagian awal abad xx rasisme telah menerobos hampir ke setiap celah kehidupan sosial Barat.

Sebagian sarjana percaya bahwa kepercayaan mengenai dan sikap terhadap orang-orang berkulit hitam diawali oleh adanya perbudakan dan juga mem-bantu timbulnya perbudakan itu. Winthrop Jordan (1974), misalnya, mengemukakan banyak fakta bahwa orang-orang Inggris pada awal abad xvi mempunyai sejumlah konsepsi negatif mengenai orang Afrika, mernandang mereka sebagai ‘bernafsu”, sebagai “tak beradab”, dan malah sebagai “binatang”. Ia percaya bahwa konsepsi-konsepsi masa lalu itu telah memainkan sekurang-kurangnya semacam peran yang membuat mereka menjadi budakbudak di koloni-koloni Amerika Utara. Tetapi konsepsi-konsepsi yang dimaksudkan oleh Jordan itu bukan merupakan komponen-komponen ideologi rasis yang sejati; bahkan, mereka tidak diragukan mewakili reaksi etnosentrik orang-orang Eropa terhadap orang-orang yang secara radikal berbeda dari mereka dalam arti kebudayaan. Orang-orang Inggris awal abad xvi bersifat sangat etnosentrik, tetapi mereka jelas belum terbiasa untuk berpikir rasis. Dan agaknya kurang masuk akal untuk menandaskan bahwa etnosentrisme telah menyebabkan perlunya perbudakan. Menurut cara yang sama, Carl Degler (1972) menegaskan bahwa perbudakan Amerika Utara sebagian besar terbentuk oleh adanya prasangka rasial sebelumnya dikalangan kaum kolonis. Degler pada akhirnya mencoba memperlihatkan bahwa perbudakan sebagai suatu sistem politik-ekonomi dan sosial banyak dikondisikan oleh konsepsi-konsepsi mental mereka yang membentuk dan mempertahankan perbudakan itu. Tetapi, seperti dikatakan oleh Noel (1972b), pada akhirnya Degler mengaburkan perbedaan di antara rasisme, prasangka, etnosentrisme, dan diskriminasi, dan argumennya malah menimbulkan kebingungan. Selanjutnya, prasangka terhadap konsepsi-konsepsi mental kaum kolonis mengenai orang-orang berkulit hitam mengakib atkan diabaikannya peranan kekuatan-kekuatan ekonomi yang besar dalam penciptaan (Noel, 1972b). Agaknya para sarjana seperti Jordan ,pn Degler telah melihat hal-hal itu dari sudut yang salah: daripada menyelidiki bagaimana perbudakan merupakan hasil dari konsepsi-konsepsi mental tertentu adalah lebih berguna untuk menyelidiki bagaimana pembentukan sis tem-sis tem perbudakan itu telah membawa transformasi konsepsi-konsepsi ideologis parapemilik perbudakan mengenai orang-orang yang mereka perbudak. Apabila kita mengajukan  tahun 1880 dan 1920, dan sesudah itu mulai memasuki masa kemerosotan”. Kesimpulan-kesimpulan berikut barangkali dapat dipertanggungkan menyangkut timbul dan berkembangnya rasisme: (1) Rasisme tidak ada atau pun relatif tidak penting sebelum berkembang dan meluasnya kapitalisme Eropa. (2) Rasisme timbul menurut cara yang agak tidak sempurna dalam hubungan dengan kolonialisme Eropa dan terbentuknya perbudakan perkebunan Dunia Baru; karena itu rasisme merupakan bagian penting dari superstruktur ideologis masyarakat budak perkebunan. (3) Rasisme baru mencapai puncaknya dalam abad xix; selama masa ini, rasisme semakin disempurnakan dan diintensifkan, dan pada bagian awal abad xx rasisme telah menerobos hampir ke setiap celah kehidupan sosial Barat. Sebagian sarjana percaya bahwa kepercayaan mengenai dan sikap terhadap orang-orang berkulit hitam diawali oleh adanya perbudakan dan juga mem-bantu timbulnya perbudakan itu. Winthrop Jordan (1974), misalnya, mengemukakan banyak fakta bahwa orang-orang Inggris pada awal abad xvi mempunyai sejumlah konsepsi negatif mengenai orang Afrika, mernandang mereka sebagai ‘bernafsu”, sebagai “tak beradab”, dan malah sebagai “binatang”. Ia percaya bahwa konsepsi-konsepsi masa lalu itu telah memainkan sekurang-kurangnya semacam peran yang membuat mereka menjadi budakbudak di koloni-koloni Amerika Utara. Tetapi konsepsi-konsepsi yang dimaksudkan oleh Jordan itu bukan merupakan komponen-komponen ideologi rasis yang sejati; bahkan, mereka tidak diragukan mewakili reaksi etnosentrik orang-orang Eropa terhadap orang-orang yang secara radikal berbeda dari mereka dalam arti kebudayaan. Orang-orang Inggris awal abad xvi bersifat sangat etnosentrik, tetapi mereka jelas belum terbiasa untuk berpikir rasis. Dan agaknya kurang masuk akal untuk menandaskan bahwa etnosentrisme telah menyebabkan perlunya perbudakan. Menurut cara yang sama, Carl Degler (1972) menegaskan bahwa perbudakan Amerika Utara sebagian besar terbentuk oleh adanya prasangka rasial sebelumnya dikalangan kaum kolonis. Degler pada akhirnya mencoba memperlihatkan bahwa perbudakan sebagai suatu sistem politik-ekonomi dan sosial banyak dikondisikan oleh konsepsi-konsepsi mental mereka yang membentuk dan mempertahankan perbudakan itu. Tetapi, seperti dikatakan oleh Noel (1972b), pada akhirnya Degler mengaburkan perbedaan di antara rasisme, prasangka, etnosentrisme, dan diskriminasi, dan argumennya malah menimbulkan kebingungan. Selanjutnya, prasangka terhadap konsepsi-konsepsi mental kaum kolonis mengenai orang-orang berkulit hitam mengakib atkan diabaikannya peranan kekuatan-kekuatan ekonomi yang besar dalam penciptaan (Noel, 1972b). Agaknya para sarjana seperti Jordan ,pn Degler telah melihat hal-hal itu dari sudut yang salah: daripada menyelidiki bagaimana perbudakan merupakan hasil dari konsepsi-konsepsi mental tertentu adalah lebih berguna untuk menyelidiki bagaimana pembentukan sis tem-sis tem perbudakan itu telah membawa transformasi konsepsi-konsepsi ideologis parapemilik perbudakan mengenai orang-orang yang mereka perbudak. Apabila kita mengajukan Ketika sistem stratifikasi rasial ditantang oleh subordinat yang berusaha untuk mendapatkan hak-hak dan hak-hak istimewa kelompok dominan dan individu-individu dan kelompok-kelompok lainnya yang menentang eksploitasi ras, maka muncullah kebutuhan pembenaran dominasi rasial yang lebih eksplisit dan kuat. Ini terjadi ketika para juru bicara kelompok dominan yang mempunyai kepentingan yang telah mapan mulai mencaci kelompok ras subordinat secara terbuka. Dengan kata lain, apabila sistekn stratifikasi sosial itu diserang, maka dapatlah diharapkan akan adanya suatu intensifikasi rasisme.

Filed under : Bikers Pintar,