Advertisement

Terletak di desa Candirenggo, Kecamatan Singasari, Kabupaten Malang, Propinsi Jawa Timur. Dari kota Malang tempat ini berjarak sekitar 12 kilometer ke arah utara atau kira-kira 86 kilometer dari Surabaya.

Orang pertama yang melaporkan kepurbakalaan di Singasari adalah Nicolous Engelhard pada tahun 1804. Pada tahun 1808 Engelhard membawa patung Ganea, Durga, Mahakala, Nandicvara, Bhairawa dan Nandi ke Semarang, dan pada tahun 1819 ke negeri Belanda dan disimpan di museum Leyden sampai sekarang.

Advertisement

Tahun 1934, keadaan candi Singasari sangat parah sehingga diambil langkah-langkah untuk menyelamatkannya dari kehancuran. Pada tahun 1936 candi ini berhasil dipugar kembali meskipun hanya bagian- bagian tertentu saja. Atap yang dipugar hanya sampai ke tingkat kedua yang juga tidak seluruhnya lengkap. Atap penumpilnya pun tidak dapat dipugar karena batu-batunya tak dapat ditemukan.

Candi Singasari adalah sebuah candi Hindu, dibangun sekitar tahun 1304 Masehi, pada masa pemerintahan Raden Wijaya yang bergelar Kertajasa, pen. iri dan raja pertama Majapahit yang memerintah dari tahun 1293 hingga 1309 Masehi. Candi ini dibangun sebagai pendharmaan atau penghormatan kepada Raja Kertanegara, Raja Singasari terakhir, yang memerintah tahun 1268-1292. Para ahli memperkirakan bahwa candi ini merupakan tempat penyimpanan abu jenazah Raja Kertanegara.

Situs Candi Singasari berukuran panjang 5 1 meter, dan lebarnya 47 meter. Bangunan candinya sendiri berukuran panjang 14 meter, lebar 14 meter, dengan tinggi 15 meter. Candi ini terbuat dari batu, berdiri di atas sebuah batur setinggi kira-kira 2 meter dan ber- denah bujursangkar.

Pada kaki candi ini terdapat ruang utama serta tiga sisi lain yang masing-masing memiliki bangunan penampil. Ruangan penampil di sisi selatan berisi arca Siwa Guru. Kedua ruang lainnya kini kosong. Adanya ruangan di kaki candi ini merupakan suatu kekhasan karena umumnya ruangan candi terdapat pada tubuh candinya sebagaimana lazimnya candi-candi di Jawa.

Pada samping jalan masuk menuju ruang utama terdapat dua buah relung yang diperuntukkan ba^ii kedua penjaga candi, yaitu Mahakala dan Nandicvara.

Arca Nandicvara terdapat di relung sebelah kiri. Arca ini dianggap sebagai penjelmaan Dewa Siwa, namun sering dianggap pula sebagai penjaganya. Arca ini bertangan dua, mahkotanya berupa untaian permata dengan puncaknya berupa mahkota.

Arca Mahakala terletak di relung sebelah kiri. Ia digambarkan menggunakan pakaian sampai lutut yang diikat dengan ikat pinggang yang lebar. Tangan kirinya menggenggam gada sementara tangan kanannya memegang kadga.

Di dalam ruang penampil dahulu terdapat patung Durga, Ganesya dan Agastya. Yang tersisa tinggal patung Agastya saja, sedangkan dua ruangan lainnya kosong.

Atap Candi Singasari hanya sebagian saja yang dapat di pasang kembali, karena batu-batu candi bagian atap sebagian besar tak ditemukan kembali. Berdasarkan hasil rekonstruksi yang dilakukan oleh J.L.A. Branders dapat diketahui bahwa pada mulanya, atap candi ini memiliki tiga tingkat yang diakhiri sebuah kemuncak yang berbentuk kubus. Tingkat atasnya lebih kecil dari tingkat bawahnya. Pada setiap tingkat ditandai oleh dua pelipit berbentuk bujur sangkar dengan simbar pada setiap sudutnya.

Di candi ini ditemukan arca-arca lain, misalnya arca Bhairawa, yang merupakan penjelmaan Dewa Siwa dalam kedudukannya sebagai dewa perusak; arca Nandi, yakni seekor lembu yang dianggap sebagai kendaraan Dewa Siwa; dan lain-lain.

Advertisement