Advertisement

Merupakan sebutan bagi ma-syarakat Cina yang tinggal di negara lain di luar daratan Cina. Jumlah mereka tak diketahui dengan pasti, namun diperkirakan sampai sekitar seratus juta jiwa. Mereka tersebar di seluruh dunia, terutama di Asia, Amerika, Eropa, dan Australia. Di negara-negara Afrika pun ada, tetapi jumlahnya sedikit.

Orang Cina meninggalkan Negeri Leluhurnya karena berbagai sebab. Pada sekitar abad ke-5 sampai ke-8 mereka meninggalkan kampung halaman karena bencana alam, antara lain gempa dan banjir, karena, bencana kelaparan, dan karena keamanan. Pada saat itu sering terjadi pemberontakan, serangan orang Mongol, dan para penjahat yang merajalela.
Pada masa itu banyak penduduk Cina menyingkir ke selatan yang iklimnya lebih baik dan tanahnya lebih subur. Antara lain mereka pindah ke daerah Indocina, Thailand, dan Semenanjung Malaya. Ditemukannya emas dan perak di Kalimantan Barat menyebabkan mengalirnya orang Cina ke daerah itu.

Advertisement

Pada abad ke-19 sewaktu terjadi Perang Candu, Pemberontakan Boxer, dan Pemberontakan Tai Ping di daratan Cina, banyak pula penduduk yang beremigrasi ke negara lain. Selain itu, pada akhir abad ke-19 ribuan orang Cina yang berusaha mencari nasib baik terjebak dalam perangkap penjual budak yang kemudian membawanya ke perkebunan tebu di Hawaii dan negara-negara Amerika Selatan.

Penyerbuan Jepang ke Cina pada awal abad ke-20 menambah lagi jumlah perantau Cina yang mencari penghidupan di negara yang dianggapnya lebih aman. Sebagian bermigrasi ke Amerika Serikat, sedang lainnya ke negara-negara Asia Tenggara dan Australia. Emigran Cina di Australia sempat mengkhawatirkan penduduk kulit putih karena para pekerja Cina mau dibayar murah. Karena takut tersaing oleh kehadiran para emigran Cina itulah maka Pemerintah Australia kemudian melancarkan “White Australian Policy”.

Sementara itu pendatang Cina di Singapura yang menetap di pulau itu sejak ratusan tahun yang lalu, kini menjadi mayoritas. Mereka mulai berdatangan pada tahun-tahun pertama Sir Stamford Raffles membangun kota pelabuhan itu di abad ke-16.

Di Malaysia, jumlah penduduk keturunan Cina Perantauan cukup besar dan integrasi mereka dengan penduduk keturunan Melayu cukup akrab sehingga mereka mempunyai posisi menentukan di negara itu. Dari 15.6 juta penduduk Malaysia, sekitar 5 juta di antaranya keturunan Cina Perantauan. Di samping itu, masih ada sejuta lebih keturunan India dan Tamil. Itulah sebabnya pemerintah Malaysia sendiri menamakan bangsanya sebagai bangsa multirasial.

Di Filipina pembauran antara penduduk keturunan Cina Perantauan dengan penduduk asli sudah berlangsung ratusan tahun. Yang terjadi di negeri itu bukan. Orang-orang Cina perantau umumnya membangun perkampungannya sendiri, lengkap dengan budaya dan arsitekturnya. Kampung Pasar Baru yang merupakan salah satu daerah Pecinan di Jakarta pada masa lalu. Integrasi melainkan asimilasi. Kini sulit membedakan antara orang Filipina asli dengan keturunan Cina Perantauan di negeri itu. Bahkan Presiden Filipina, Corazon Aquino, adalah keturunan Cina Perantauan. Keluarga kakeknya baru menetap di negeri itu sekitar 100 tahun yang lalu.

Incoming search terms:

  • orang cina perantauan
  • orang cina perantauan disebut
  • jumlah penduduk cina perantuan
  • sebutan orang cina perantauan
  • istilah bagus untuk seorang perantau
  • ela elo mengenal orang cina
  • cina perantau
  • orang cina di perantauan
  • orang cina perantau
  • Serangan bagi perantaw

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • orang cina perantauan
  • orang cina perantauan disebut
  • jumlah penduduk cina perantuan
  • sebutan orang cina perantauan
  • istilah bagus untuk seorang perantau
  • ela elo mengenal orang cina
  • cina perantau
  • orang cina di perantauan
  • orang cina perantau
  • Serangan bagi perantaw