Advertisement

1) Jumlah anggota kerja sama minimal dua orang, namun banyak kerja sama yang beranggotakan lebih dua orang. Jumlah keanggotaan tergantung pada jenis kerja sama itu sendiri. Ada bentuk keija sama yang membatasi anggotanya sampai jumlah tertentu, ada pula yang tidak. Sebuah CV membatasi jumlah anggotanyajperkumpulan- perkumpulan keagamaan tidak mengadakan pembatasan jumlah anggota. Demikian pula anggota DPR selalu terbatas, sedangkan partai yang diwakilinya tidak membatasi jumlah anggotanya. Kerja sama dapat juga beranggotakan kelompok-kelompok sosial, baik kelompok sejenis maupun tidak sejenis. Kaum majikan dan kaum buruh dapat mengadakan kerja sama. Pengertian kelompok sosial dapat diperluas baik luas jangkauannya maupun bidang kepentingannya seperti persatuan dalam pendidikan, perdagangan, kenegaraan, pertahanan. Kerja sama seperti ini antara lain keija sama negara-negara ASEAN, pakta pertahanan NATO, Perserikatan Bangsa-Bangsa dan lain-lain.

2) Partisipasi pihak-pihak yang terlibat dalam kerja sama tidak selalu sama, baik kuantitatif maupun kualitatif. Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan bakat, perbedaan kedudukan, perbedaan pendidikan masing-masing pihak. Misalnya, suami istri serta anak- anak yang bersama-sama mewujudkan satu keluarga tidak dapat diharapkan dapat memberikan saham yang sama besarnya. Di pihak lain, sering terjadi penyalahgunaan kesempatan tersebut untuk mendapat untung yang sebanyak mungkin dari sumbangan tenaga yang hanya sedikit. Untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan, minimal untuk menguranginya, organisasi-organisasi yang penting membuat tata tertib keija yang cermat dengan pembagian kerjayang jelas. Misalnya, organisasi pendidikan di sekolah-sekolah dibuat sedemikian rupa agar setiap pihak mengetahui wewenang dan kewajiban serta tanggung jawab yang menjadi bagiannya. Dengan jalan ini nafsu akan kepentingan diri dapat dibatasi.

Advertisement

3) Dalam kerja sama terdapat solidaritas yang berbeda. Tidak semua anggota mengalami rasa solidaritas yang sama. Gradasi suasana persaudaraan, rasa kemesraan, atau kebersamaan tidak sama, tergantung pada dua faktor, yaitu nilai sosial yanghendak diwujudkan dalam proses kerja sama dan motivasi yang mendorong anggota masuk ke dalamnya. Secara umum dapat dikatakan bahwa nilai sosial yang sifatnya makin menyentuh para anggota karena pertalian darah yang sama menumbuhkan rasa persatuan/persaudaraan yang makin kuat. Demikian pula makin jauh nilai sosial dari nilai persaudaraan, makin renggang rasa kesatuannya. Maka, bentuk keija sama dalam kelompok primer menciptakan rasa kemesraan lebih tinggi daripada keija sama dalam kelompok sekunder. Di pihak lain faktor motivasi ikut mempengaruhi pula tebal tipisnya rasa solidaritas. Orang yang memasuki perkumpulan kemanusiaan terdorong oleh semangat pengorbanan diri demi orang yang menderita. Pada umumnya mereka mengalami rasakesetiakawanan yang kuat dengan orang yang dilayani. Misalnya di dalam lembaga pe-rawatan orang cacat, anak-anak yatim piatu dan lain sebagainya, para pekerja karitatif lambat laun merasakan tumbuhnya simpati dan empati yang mendalam terhadap anak-anak didiknya. Sebaliknya para pembina yang melibatkan diri dalam karya itu dengan motivasi “mencari uang” akan mengalami perasaan yang lain terhadap anak-anak yang dirawatnya.

Incoming search terms:

  • ciri ciri kerjasama
  • ciri ciri kerja sama
  • Ciri-ciri Kerjasama
  • ciri-ciri kerja sama
  • ciri kerjasama
  • Ciri ciri kerja sama asean
  • ciri ciri kerjasama asean
  • sebutkan ciri ciri kerja sama asean
  • ciri kerja sama
  • ciri ciri kerjasama yang baik

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • ciri ciri kerjasama
  • ciri ciri kerja sama
  • Ciri-ciri Kerjasama
  • ciri-ciri kerja sama
  • ciri kerjasama
  • Ciri ciri kerja sama asean
  • ciri ciri kerjasama asean
  • sebutkan ciri ciri kerja sama asean
  • ciri kerja sama
  • ciri ciri kerjasama yang baik