Advertisement

Pemerintahan kekhalifah­an di Mesir di bawah kekuasaan khalifah keturunan keluarga Fatimah, yang berlangsung selama kurang lebih dua abad, tahun 909—1171. Bentuk pemerintah­an ini hampir sama dengan pemerintahan kesultanan di Indonesia. Sejak tampilnya kepemimpinan keluarga Bani Abbas dalam kekhalifahan Islam dan setelah run­tuhnya kekuasaan keluarga Bani Umayyah, Bani Fa­timah tersisihkan.

Di bawah pimpinan Ubaidillah, pada tahun 904-an keluarga Fatimah berangkat ke Afrika Barat Laut. Di sana mereka diterima sebagai Imam Mahdi oleh pen­duduk setempat. Pada tahun 910, mereka berhasil me­nundukkan kabilah-kabilah Sanhaja di Afrika Utara, merebut Cyremaica dan Libya, dan membangun pe­merintahan di Mahdiyya. Pengganti Ubaidillah mem­perkokoh pemerintahannya dengan merebut Sisilia, Arab Barat, Palestina, dan Syiria. Mesir diduduki dan Kairo dijadikan pusat pemerintahannya.

Advertisement

Pada tahun 1164, 1167, 1168, Dinasti Fatimiyah ter­libat Perang Salib. Sultan Nuruddin dari Kesultanan galjuk mengirim ekspedisi militer untuk membantu. Fatimiyah yang dipimpin oleh Syirkuh. Salahud­din al Ayyubi, seorang panglima dan pahlawan Islam keponakan Syirkuh, mendampinginya. Syirkuh kemu- (ji; diangkat menjadi Wazir Bani Fatimah dan, ke­tika meninggal dunia tahun 1169, kedudukannya di­gantikan oleh Salahuddin. Setelah Nuruddin mening­gal dunia pada tahun 1171, Salahuddin al Ayyubi me­nyatakan dirinya sebagai Sultan Mesir, dan mengha­puskan nama kekhalifahan Fatimiyah. Dengan demi­kian berdirilah Dinasti Ayyubiyah, penerus kekuasaan Dinasti Fatimiyah.

Advertisement