Advertisement

Budayawan Indonesia yang terkenal akan kesetiaannya pada budaya tradisional dan pendidikan. Seluruh hidupnya dicurahkan pada budaya dan seni.

Djaduk Djajakusuma mengawali kariernya sebagai penerjemah dan pemain drama pada Kantor Pusat Kebudayaan (Keimin Bunka Sidosho) di Jakarta pada tahun 1943. Ketika menjadi Kapten TNI (1946-1949), Djaduk juga menjadi anggota kelompok drama amatir Maya pimpinan Usmar Ismail. Kariernya dalam dunia film cukup panjang, yakni sejak ia menyelesaikan film pertamanya, Embun (1951), sampai tahun 1967. Dalam bidang ini, mula-mula ia menjadi sutradara Perfini; hingga akhir hayatnya ada 12 film yang diselesaikannya. Ia ikut mendirikan organisasi Karyawan Film Indonesia (KFI) pada tahun 1964. Tiga filmnya yang menonjol adalah Embun (1951) yang menjadi salah satu produksi Perfini terbaik, Harimau Tjampa (1954), dan Tjambuk Api (1958).

Advertisement

Djaduk juga berperan besar dalam seni tradisional. Dialah pendiri Wayang Orang Bharata di tahun 1973. Dia juga berjasa dalam mengikutsertakan lenong, ludruk, dan jenis kesenian tradisional lainnya ke dalam kegiatan TIM (Taman Ismail Marzuki). Budayawan ini pernah mengenyam pendidikan di Universitas Kalifornia, Amerika Serikat. Tahun 1970, ia menerima Anugerah Seni dari pemerintah Indonesia; juga penghargaan sebagai penulis skenario terbaik untuk film Harimau Tjampa. Tokoh film terakhir dalam angkatan Usmar Ismail dan Djamaluddin Malik ini meninggal ketika sedang memimpin apel Sumpah Pemuda di kampus IKJ (Institut Kesenian Jakarta), Cikini, Jakarta, tahun 1987.

Advertisement